Empat Keadaan
Terlalu banyak bukti-bukti di dalam kehidupan kita yang menunjukkan kalau kelengahan, keteledoran, kecerobohan, kesembronoan atau yang sejenisnya mengundang bencana, malapetaka. Anehnya adalah, walaupun kebanyakan dari kita tahu kalau memang demikian adanya, kita masih tetap saja cenderung lengah, ceroboh. Mengapa? Disinilah tampak jelas bahwa sekedar tahu, belumlah cukup, Kita juga diminta untuk selalu menyadari dan mewaspadai kecendrungan-kecendrungan buruk itu yang mungkin tak terhitung banyaknya dimana kelengahan merupakan salah satu yang terburuk di antaranya. Untuk bisa selalu 'sadar dan waspada', inilah sebetulnya persoalan kita.
Memang sekedar tahu belumlah cukup, namun tahu kapan biasanya kelengahan menyergap memberi kita pengetahuan yang sangat berharga. Para pendahulu kita mengingatkan kalau ada empat keadaan dimana kita umumnya lengah: (1) saat kita 'mabuk' kenikmatan atau menikmati sesuatu yang dicandui, (2) saat 'tidur' dan atau bersenggama atau bermalas-malas dimana kesadaran-diri dan kewaspadaan absen, (3) saat 'melambung' apakah karena memperoleh kemenangan, keberhasilan, merasa tersanjung, memegang jabatan tertentu, ketenaran sedang menanjak dan sejenisnya, dan (4) saat 'hanyut' di dalam bentuk-bentuk perasaan tertentu-seperti : bersenang-senang ataupun dirundung kesedihan, bersukaria ataupun berduka-cita. Singkatnya, kita umumnya lengah saat: 'mabuk', 'tidur', 'melambung' dan 'hanyut'.
Empat keadaan inilah yang perlu diwaspadai. Ada dalam keempat keadaan ini, kesadaran diri menjadi sedemikian menipisnya. Dan ada dalam kondisi kesadaran seperti ini tentu tak ada kewaspadaan; terbuka kesempatan yang sebesar-besarnya bagi kelengahan.
Dikelilingi Para Pemabuk ?
Bila Anda pernah mabuk miras atau narkoba, Anda pasti tahu kalau saat itu Anda 'merasa sadar'. Bedanya cuma, kalau tidak dalam keadaan mabuk Anda sepenuhnya sebagai pemegang kendali, sedangkan dalam keaadaan mabuk sebagian kendali ada pada substansi yang dikonsumsi atau hal yang memabukkan itu. Memang ada juga derajat kemabukan yang sedemikian tingginya itu, atau sampai-sampai seseorang jatuh tak sadarkan diri.
Jadi berdasarkan derajat kemabukan dan pengaruhnya terhadap kesadaran dan pengandahan diri., kondisi mabuk dapat kita bedakan atas 3 katagori : (i) mabuk sebagian, (ii) mabuk sepenuhnya, dan (iii) tak sadarkan diri (black - out). Orang yang mabuk sebagian masih merasa sadar, namun hanya sebagian kendali saja yang masih ada padanya. Yang mabuk sepenuhnya, namun belum jatuh tak - sadarkan - diri, sepenuhnya dikendalikan oleh substansi atau hal yang memabukkannya. Sedangkan yang sudah sampai tak sadarkan diri, jelas tak ada lagi pengendalian diri. Tanpa hadirnya kesadaran, tak mungkin ada pengendalian-diri.
Sementara itu, saking banyaknya hal-hal yang berpotensi memabukkan di dunia ini, kebanyakan dari kita pun sangat boleh jadi sedang ada dalam kondisi mabuk. Ada yang mabuk asmara, mabuk harta, mabuk judi, mabuk wajah, atau tampilan ragawi, mabuk identitas keturunan, mabuk jabatan, mabuk kekuasaan, mabuk popularitas, mabuk penghormatan atau sanjungan, mabuk kemenangan atau keberhasilan, mabuk kepintaran atau keakhlian, sampai ada yang mabuk relijiusitas atau etika-moral, bahkan spiritualitas. Sesungguhnya banyak jenis dan kombinasi dari kemabukkan ini.
Dalam kondisi mabuk, derajat kemabukan kita berbeda-beda, seperti yang telah disampaikan sebelumnya. Di antara ketiga katagori derajat kemabukkan yang ada, justru yang mabuk sebagian inilah yang paling berpotensi menebar bencana dan sangat sulit disadarkan. Kenapa? Karena mereka 'merasa sadar' Bahkan lebih dari itu, banyak di antara mereka juga 'merasa benar'. Mereka yang mabuk etika moral misalnya, sama sekali tidak merasa bersalah untuk menghakimi sekaligus menghukum siapa saja yang dianggapnya melanggar atau melakukan penyimpangan, atas- nama ajaran etika moral dan agama yang dianutnya. Pelaku pemboman di Kuta misalnya. Begitu pula dengan tindakan anarkis dan main hakim sendiri yang dilakukan oleh sementara umat beragama yang menamakan dirinya dengan FPI (Front Pembela Islam? ) itu.
Menyadari dan menyaksikan fakta-fakta ini, adalah cukup beralasan bagi Anda untuk merasa beruntung tidak ikut mabuk, kendati disadari kalau tidaklah mudah untuk bisa hidup aman dan damai di tengah-tengah para pemabuk itu.
Dihanyutkan 'Tzunami Emosi'
Terhanyut punya kemiripan dengan gejala mabuk. Ketika Anda terhanyut dalam derasnya sebuah aliran sungai, Anda tak punya kendali atas diri Anda kini ada pada arus aliran itu. Mau-tak-mau, Anda harus ikut kemanapun aliran itu membawa anda. Apa yang munkin Anda lakukan saat itu hanyalah tetap bertahan agar anda tidak tenggelam, seraya menunggu kesempatan untuk bisa menepi atau menemukan barang-barang hanyuntan yang bisa Anda tumpangi agar bisa tetap mengapung dipermukaan.
Itu hanyut dalam artian fisik. Hanyut dalam artian mental raga demikian. Tatkala kita terhanyut dalam kesedihan misalnya, kendali atas diri pada kesedihan itu. Yang biasanya kita malu menangis dihadapan banyak orang, kini tidak lagi; yang biasanya kita tidak mengucapkan kata-kata tertentu, kini berbagai kata-kata mengalir begitu saja; yang biasanya kita berpikir dalam suatu pola tertentu, kini perasaanlah yang mendominasi, tanpa memberi kesempatan pada si pikiran dan kecerdasan untuk ambil bagian. Apa yang disebut akal sehat, tidak lagi hadir dalam kehanyutan ini. Kondisi serupa terjadi tatkala kita hanyut dalam kemarahan.
Kita tidak hanya bisa terhanyut oleh suatu kejadian atau kondisi yang langsung kita alami, namun bisa juga oleh apa yang kita tonton atau saksikan. Sebuah kejadian yang menggugah perasaan, juga bisa menghanyutkan Anda. Bencana Tzunami yang menimpa saudara-saudari kita di aceh dan sumatra utara misalnya, telah menghanyutkan banyak saudara dan saudari sebangsa kita yang lainnya, bahkan saudara dan saudari kita dari bangsa lain walaupun tidak punya hubungan keluarga atau kekerabatan dengan yang ditimpa bencana. Ras belas kasihan kita disentuh dan digugahnya. Kesediahan dan penderitaan mereka dengan cepat juga serasa merupakan kesedihan dan penderitaan kita.
Disamping dicirikan oleh tiadanya kendali, keterhanyutan juga dicirikan oleh kuatnya dominasi emosi atau perasaan, sehingga tak memberi kesempatan bagi pikiran dan akal sehat untuk bekerja semestinya. Bila pikiran dan akal sehat sepenuhnya tidak berpungsi untuk beberapa saat, ini sama halnya dengan tenggelam di sungai atau mabuk sepenuhnya. Kita sepenuhnya ada dalam kendali bentuk-bentuk emosi yang menghanyutkan itu. Mereka yang tinggi kepekaan emosionalnya punya kecendrungan yang kuat untuk mengalaminya.
Mereka yang mabuk mudah kompori emosinya, dan oleh karenanya juga sangat mudah terhanyut. Makanya, sangat tidak mudah untuk hidup sewajarnya di tengah-tengah mereka. Dan sedihnya adalah, secara faktual, mau-tak-mau, kita memang hidup di tengah-tengah orang-orang malang ini. Namun, bagi anda yang beruntung masih waras, tidak mabuk dan tidak sedang hanyut agaknya tidaklah berlebihan untuk menjadikan 'tindak penyadaran' dengan berbagai cara sesuai kemampuan yang dipunyai sebagai suatu kewajiban atau kerja kemanusiaan, akan tetapi berhati-hatilah, inipun berpotensi memabukkan dan menghanyutkan.
Jangan Mabuk!
Lengah berati tidak sepenuhnya hadir kesadaran dan kewaspadaan; dan ceroboh berarti absennya ketelitian kecermatan dan kehati-hatian. secara praktis tidak-lengah dipraktekan dengan berusaha selalu sadar dan waspada, segala bentuk godaan dan bujukan hanya mungkin berhasil menggoda bila seseorang lengah. Sementara itu, selalu teliti dan berhati-hati didalam setiap tindakan menghindarkan seseorang dari tindakan ceroboh.
Disamping bencana alam, dan penyakit menular, kalaupun ada sesuatu yang paling banyak mengakibatkan terjadinya kecelakaan hingga menyebabkan kematian, maka itu adalah kelengahan dan kecerobohan. Kecelakaan lalu lintas misalnya, ketimbang kegagalan alat atau teknologi, lebih sering disebabkan oleh "Human erroneous", kesalahan manusiawi- yang berupa kelengahan dan kecerobohan ini. Tak pelak lagi, mereka ini bak utusan sang pencabut nyawa bagi manusia.
Makanya, adalah penting buat kita untuk melihat bilamana atau pada moment-moment bagaimana biasanya kita lengah dan ceroboh. Ketika kita 'mabuk', kita umumnya menjadi lengah dan ceroboh. 'Mabuk' disini tidak hanya berarti mabuk oleh suatu substansi tertentu yang dikonsumsi atau digunakan seperti narkoba dan alkohol saja, melainkan mabuk dalam arti luas. Gejala 'mabuk' ini merasa berjasa, merasa muda, merasa kaya atau berkuasa atau punya pengaruh besar, merasa tenar, merasa pintar, merasa cantik atau ganteng, merasa keturunan bangsawan atau orang suci dan sebagainya. Banyak hal yang berpotensi memabukkan.
Demikian juga ketika kita 'hanyut' dalam atau sedang dikuasai oleh sebentuk perasaan tertentu seperti saat sedih, marah, atau ada dalam keantusiasan, kesenangan atau kegembiraan yang meluapluap. Gejala ekstase, kerauhan atau sejenisnya, juga merupakan variasi lain dari fenomena 'hanyut' ini umumnya, yang sedang 'mabuk' juga amat mudah 'hanyut' dalam bergbagai bentuk perasaan. Sangat mudah terpancing emosinya, sehingga sangat mudah bertindak anarkis, destroktif, atau melakukan tindakan-tindakan irrasional lainnya.
Celakanya lagi, 'mabuk' juga menular, kita bisa 'ketularan mabuk', hanya lantaran mendengar ocehan mereka yang sedang 'mabuk'. Mereka yang sedang 'mabuk kekuasaan' misalnya, umumnya juga akan mempropagandakan kemabukannya itu lewat berbagai cara dan di berbagai media-massa. Mendengar dan termakan oleh propaganda itu, kita bisa ikut-ikutan dibuatnya 'mabuk'. Makanya, kemabukan tidak hanya berpengaruh buruk pada yang bersangkutan, tetapi berpengaruh buruk juga pada orang-orang lain dan lingkungan sekitarnya.
Jeleknya lagi, 'mabuk' menyebabkan ketagihan atau kecanduan. Sekali seseorang kecanduan pada substansi atau hal-hal yang memabukkan, atau menjadi 'pemabuk' maka akan sangat sulit baginya untuk sepenuhnya terbebas daripadanya. Apalagi mereka umumnya membentuk suatu 'komunitas pemabuk' di dalam mana mereka berhubungan secara intens satu dengan yang lainnya. Kalaupun ada diantara mereka yang sadar dan mencoba keluar dari komunitas itu, rekanrekannya akan berusaha mempengaruhinya nutuk menariknya lagi. Akibatnya, sekali terperangkap di dalamnya, maka akan amat sulit untuk bisa keluar daripadanya.
Dalam keadaan 'mabuk' jelas tak ada kesadaran sehingga tak ada pula kejernihan; akal-sehat tidak berfungsi, kewaspadaan, ketelitian dan kehati-hatian sirna. Oleh karenanya, jangan mabuk! Hindari substansi dan hal-hal yang memabukkan! Hadirkan selalu kesadaran dan kewaspadaan; teliti dan berhati-hatilah selalu! Berbahagialah mereka yang sadar, kendati hidup di antara para pemabuk. Berbahagialah mereka yang "jagra" di antara yang "turu", yang terjaga di antara yang terlelap.
Eling dan Waspada
Mungkin sudah terlampau sering kita mendengar pengingatan untuk "eling lan waspada", sadar atau ingat dan waspada. Bagi sementara kita ia mungkin sudah sedemikian klisenya. Namun boleh jadi kita belum tahu persis tentang apa yang mesti disadari atau diingat, dan apa yang yang perlu diwaspadai.
Singkatnya, yang perlu kita sadari dan waspadai adalah kecendrungan-kecendrungan buruk kita seperti kelengahan tadi misalnya, dimana tanpa melihat kedalam diri hingga kedalam dan dengan derajat ketajaman tertentu, tidaklah mugkin. Dengan melihat seperti itu, segenap kecendrungan-kecendrungan buruk yang terlanjur kita biasakan entah sejak kapan itu, yang kini telah menjadi bagian dari keperibadian kita, terlihat jelas. Persoalannya bagi kita mungkin adalah, bagaimana agar bisa melihat seperti itu?
Bagaimana mereka punya kecendrungan introspektif, ini bukanlah sesuatu yang sulit buat dilakukan. Mereka cukup sekedar mempertajam atau mengerahkan intensitas perhatian hingga derajat tertentu. Namun, bagi mereka yang cendrung ekstropektif, cendrung selalu mengarahkan perhatian ke luar, ini tentu bukan sesuatu mudah. Sejauh perhatian punya dua dimensi utama arah dan intensitas mereka, pertama-tama, butuh pelatihan mengarahkan perhatian ke dalam , untuk kemudian berlatih meningkatkan intensitas dari perhatian itu sendiri. Bentuk pelatihan sepeti itu boleh kita sebut sebagai Meditasi Kesadaran.
Semoga Cahaya Agung-Nya senantiasa menerangi setiap gerak dan langkah kita, Semoga Kedamaian dan Kebahagiaan menghuni kalbu semua insan.
Oleh: Anatta Gotama
Source: Warta Hindu Dharma NO. 519 Maret 2010