Cerita tentang Kalarahu cukup populer dalam masyarakat. Cerita yang bersumber dari kitab Adi Parwa, kitab pertama dari delapan belas kitab yang membangun Mahabharata, menceritakan Kalarahu menaruh dendam kepada Surya dan Candra, karena keduanya menjadi saksi atas perbuatannya ikut meminim Amreta bersama para Dewa. Ketika Amreta baru berada di kerongkongannya ia lalu dipenggal oleh Dewa Wisnu atas pemberitahuan dari Surya dan Candra. Lehernyapun putus, badannya jatuh ke bumi sementara kepalanya dengan penuh kemarahan mengejar kedua saksi tersebut.
Kalarahu memang tidak pernah mati karena dia sempat meminum Amreta, dan ia akan senantiasa mencaplok surya ataupun Candra, dan karena ia tanpa badan Surya dan Candrapun akan terlepas kembali.
Kalarahu artinya waktu gelap, dan ketika Surya dan Candra diliputi gelap atau bayangan maka sinarnya tidak akan sampai ke bumi. Bumi diliputi kegelapan, dan ini disebut bumi diselimuti mala. Mpu Kanwa dalam kakawin Arjuna Wiwaha menulis sebuah pujaan kepada Siwa dengan susunan kata:
"Sasiwimba haneng gata mesi banyu; ndan asing suci nirmala mesi wulan; iwa mangkana rakwa kiteng kadadin; ring angambeki yoga kiteng sakala"
Artinya:
Bayangan bulan di dalam tempayan yang berisi air, pada setiap tempayan yang berisi air yang jernih tanpa noda terdapat bayangan bulan;
Demikianlah Hyang Siwa pada mahluk hidup, pada orang yang melaksanakan yoga Siwa menampakkan diri. Dua kata yang kita perhatikan disini adalah mala atau nirmala dan wulan. Wulan disini dijadikan simbol dari Siwa sebagai sumber cahaya, yang akan nampak pada orang yang memiliki pikiran yang suci nirmala.
Dalam kaitannya dengan ceritra sapuleger kita menemui makna yang sama. Kisah Bhatara Kala yang mengejar adiknya Kumara, dan kehadiran Hyang Siwa sebagai kisah yang dilakonkan oleh para dalang sapuleger adalah kisah penyucian diri manusia. Mereka yang lahir pada wuku Wayang biasanya diupacarai dengan rangkaian upacara sapuleger, karena dianggap memiliki sifat-sifat tertentu yang dipengaruhi oleh Kala untuk bisa diruat atau dilukat. Mpu Kanwa sendiri dalam karyanya juga menyinggung makna wayang yang dikaitkan dengan Maya siluman.
Maya memang berhubungan dengan mala, dan mala berhubungan dengan Kala, yang secara sederhana dapat diartikan "kegelapan pikiran". Kakawin Ramayanapun menegaskan kegelapan pikiran itu bagaikan gua yang gelap. Dan gua yang gelap itu biasanya ditempati oleh ular besar yang berbisa . Yang dimaksud dengan ular berbisa disini adalah Mala (maladi yolanya mageng mahawisa).
Oleh: Ki Nirdon
Source: Warta Hindu Dharma NO. 532 APril 2011