Pada hari ke tujuh belas Bratayuda berlangsung, pagi-pagi benar Karna telah mengenakan baju kebesaran baru, anugerah dari Suyodana, pada malam sebelumnya dianjungan Korawa Seratus di Tegal Kuru Keshetra. Karna duduk dengan sikap sempurna, wajahnya menatap arah terbitnya surya. Karna sedang melaksanakan Surya Sewana. Tiba-tiba Kunti hadir berdiri didekat Karna, menghalangi wajah Karna dari sinar surya pagi, menggunakan kain kerudung sutra putih tipis lembut dan halus. Karna masih dalam sikap duduk sempurna membuka mata dan berkata :"siapakah Dewi, berdiri menghalangi wajahku dari sinar surya? "Dari mana asalmu, untuk apa kau melaksanakan hal demikian bagi diriku!" "Ketahuilah Dewi!" "Aku ini Karna Adipati Wangga memejamkan mata, menatap indahnya wajah (Tuhan) Surya Raditya, dengan kesucian mata hatiku yang hening, tenang di dalam diri. Aku bukan sedang tidur! Mengapa engkau menodai usahaku memuja Surya, Dewi?"
Kunti menjawab : ".... namaku Kunti, ibu dari para Pandawa Lima. Aku tinggal dianjungan Pandawa Lima, diwilayah Tegal Kuru Kshetra ini. Desakan cinta kasih sayang seorang ibu terhadap anak, mendorong aku datang melaksanakan semua ini!" "Aku ingin berdialog, menyapa dirimu Karna anakku!" "Aku Kunti mengagumi caranya duduk, menatap Surya!" Adakah kau seorang yang khidmat khusuk melaksanakan puja, setiap akan memulai melaksanakan suatu pekerjaan ?" "Menggugah aku!" "Hatiku seketika menjadi bahagia, saat aku dengan cermat memperhatikan tingkah polahmu Karna anakku!" "Aku meminta kepadamu Karna, dengarkanlah dengan baik cerita tentang pengalamanku telah berhasil sempurna melahirkan dirimu Karna!"
"Bhaktiku terhadap orang tuaku, melaksanakan segala tugas keperluan Rsi Durwasa. Ketika itu Rsi Durwasa berkunjung dan tinggal beberapa lama didalam kraton kami. Rsi Durwasa menganggap aku sangat apik, rajin, berjasa! Beliau mengajarkan aku ilmu "Aji Pepanggil!" "Memahami menghayati Aji Pepanggil!, aku penasaran'. 'Mantra-mantra itu aku ungkap, amalkan, terpusat kehadapan Dewa Surya!' 'Aku menjadi hamil karena ditemui oleh Dewa Surya; melahirkan dirimu lewat telinga. Itulah sebabnya kamu bernama Karna, anakku! Hukum kehidupan manusia, mewajibkan kau sejak dilahirkan harus dipisahkan dengan ibumu, karena waktu itu aku Kunti belum bersuami!.
Sekarane ini aku. ibumu sendiri Karna, datang bermaksud untuk menawarkan ajakanku agar engkau berbalik; berpihak pada saudara-saudaramu para Pandawa Lima, dalam Bratayudha. Tidak ada untungnya Karna berpihak Korawa Seratus, melawan para Pendawa Lima, saudara-saudaramu satu ibu!.
Karna : 'Mengapa kebajikan datang terlambat!' Aku Karna, mengucapkan terima kasih kepadamu, ibu!' 'Atas cerita ibu ungkap dengan sempurna dan ikhlas!' 'Seyogyanya ibu datang tidak dengan harapan apapun!'. 'Ibu datang sangat terlambat; tidak aku persoalkan, aku justru mengucapkan terima kasih atas jasamu, telah membuka tabir rahasia diriku!'
1. 'Mengapa ibu tidak menyapa Karna, ketika Karna dicemooh oleh para bangsawan di Pancala. Saat itu Karna dikatakan putra tukang kuda oleh para kaum bangsawan. Karna hendak mengikuti Dropadi sayem¬bara di Pancala, niatku begitu saja batal!' Karena aku dianggap bukan bangsawan. 'Anak seorang tukang kuda, tidak punya hak untuk mengikuti sayembara, kata mereka di Pancala!'
Waktu itu, ibu membungkam seribu kata!' 'Mengapa ibu tidak ingat kepada Karna, menolong anak ibu saat kejadian naas bagi Karna di Pancala dilimpahkan bagi diriku?' 'Untung pada itu ada Suyodana, hadir di Pancala Suvodana putra mahkota Astina menjadikan Karna seorang ningrat dengan pangkat Adipati untuk wilayah Awangga tergolong wilayah bagian dari Negara Astina yang dikelola oleh putra mahkota Suyodana'. 'Persahabatan Karna dengan Suvodana sejak kejadian di Pancala, semakin hari semakin tumbuh terbina, melebihi nilai tali persaudaraan satu ibu!'
'Satu getaran hikmah pelik hidup Karna, Karna tangkap terasa didalam diri sejak kehadiran ibu disampingku berkomunikasi empat mata denganku ditempat ini pada pagi hari yang cerah ini : Sifat " sombongku mengganggu aku!' 'Raya percaya diri yang sangat berlebihan menonjol, menjadi ciri negative bagi Karna, kentara bagi banyak orang!' 'Aku menyesal!' 'Adakah kesombongan dan rasa percaya diri sangat berlebihan itu, adalah akibat karena aku kehilangan cinta kasih sayang ibuku sejak masa bayiku'. 'Tak tahu aku!' 'Aku tidak perlu memikirkan sebab-akibat mengapa aku lahir!'. "Aku Karna, ambisius mengabdi sepenuh hati bagi orang yang telah menjadikan aku seorang adipati!' 'Siwa seve jiwa seve!' 'Pengabdianku kehadapan Tuhan, lewat pengabdianku terhadap jiwa seseorang yang meningkatkan kwalitas harkat hidupku!' Ttu saja!'
2. 'Ibu Karna berpartisipasi mence¬mooh menyoraki Dropadi saat Dussasana berusaha menelanjangi Pancali didalam kraton Astina; ketika itu Pandawa Lima kalah main dadu. Ibu juga lupa kepada Karna. Ibu diam saja tidak menegur, menyapa Karna!' 'Mengapa?' 'Sekaang, ketika semuanya telah terlanjut terjadi - nasi telah jadi bubur!' 'Ibu datang!' 'Karna, dengan alasan sumpah setia pada Negara, selaku Adipati Awangga, wilayah kekuasaan raja Astina Duryodana. Karna, terpanggil taat berbhakti pada Negara Bangsa Astina'. 'Maaf beribu-ribu ma'af ajakan ibu tidak bisa dilaksanakan oleh Karna Adipati Awangga'.
'Kunti : "Karna, kau kini telah dewasa. Karna berhak memutuskan sendiri yang terbaik bagi dirimu!' 'Cinta kasih sayang ibu sepanjang jalan!' Kunti telah membuka rahasia tentang dirimu, dalam percakapan empat mata. Kunti bangga dan memuji sikap hidupmu berbhakti untuk Negara Bangsa, mengabdi kepada penguasa Negara dan masyarakat Bangsamu!' 'Ibumu berdialog empat mata denganmu kini, sekedar mengingatkan dirimu tentang ' satyameva-jayate-keme-nangan selalu memihak pada kebenaran!'
Karna : 'Terima kasih atas segala jasamu ibu!' 'Ibu telah membuka tabir rahasia hidup bagi diriku!' 'Ketahuilah ibu, lewat tengah hari nanti, ibu akan membuktikan kebenaran/satyam dan kejayaan, akan terbukti bagi dirimu ibu!' 'Cinta kasih sayang ibu tetap akan tertuang bagi lima orang anakmu, ibu!' 'Pelaksanaan Karna tanding kontra Arjuna pada hari ini, akan membuktikan kebenaran/satyam ungkapan karna!' 'Kebahagiaan ibu, tetap menjadi kemenangan milik ibu!'
'Ibu tetap akan mencintai mengasihi menyayangi, mengelola lima orang anak saja. Itu akan menjadi sebuah kenyataan!' Senapati Karna atau senapati Arjuna, bersama empat para putra ibu yang lain-lain itu sama saja! ''Semua orang akan mengapresiasi kehebatan, kedahsyatan perang tanding Karna Arjuna di Tegal Kuru Kshetra dalam Bratayuda hari ke tujuh belas pada hari ini!' 'Bagi Karna seorang, Karna telah merasa bahagia menikmati cinta kasih sayang ibu sejati yang sempat hilang untuk beberapa waktu lamanya, terima kasih ibu!'.
Karna bersimpuh, dengan ujung jemari kedua belah tangan, menyetuh jari kaki Kunti. Kunti menunduk menciumi ubun-ubun Karna dengan penuh cinta kasih sayang seorang ibu. Dua buah kereta perang datang dari kejauhan beda arah menuju tempat Karna Kunti. Masing-masing kereta dikendalikan oleh Sri Kreshna dengan penunpang senapati Arjuna. Kereta perang yang lebih dekat dikendalikan oleh Prabu Salya, untuk menjemput senapati Karna Adipati Wangga, Kunti sesaat sebelum kereta tiba, telah silam.
Setiap orang dalam pasukan dari dua belah pihak berhadapan dalam Bratayuda, meniup 'sangkha kala^ terompet kulit keong' menjelang/ gong beri ditabuh, tanda perang Bratayuda pada hari ke tujuh belas akan dimulai di Tegal Kuru Kshetra. Pertemuan empat mata antara Karna Kunti pagi hari itu berlangsung sangat cepat lalu bubar! Tertelan oleh hiruk pikuk sorak sorai, genderang perang Bratayuda di Tegal Kuru Kshetra.
Source: I Wayan Diya l Warta Hindu Dharma NO. 491 November 2007