Keterpelajaran Membuahkan Ketundukan Hati

Sarasvati namastubhyam
Varade kama-rupini
Vidyarambham karisyami
Siddhir bhavatu me sada
(Sarasvati Stotram)

"Sembah sujud bhakti hamba ke hadapan Dewi Sarasvati, yang selalu berkarunia memenuhi segala keinginan para pemuja-Nya. Hamba memulai mempelajari ilmu pengetahuan, semoga Dewi Sarasvati senantiasa berkenan menganugerahi keberhasilan."

Masih banyak dijumpai salah penulisan, pengejaan, dan juga pelafalan terhadap stotra pujian terhadap Dewi Sarasvati ini. Jika orang melihat di google, buku, majalah, surat kabar, dan lain-lain pun akan melihat masih ada kesalahan di sana-sininya. Semoga tulisan ini dapat memberikan kontribusi sedikit demi kemajuan pendalaman ajaran-ajaran suci Sanatana Dharma ke depan yang lebih baik lagi.

Hari Sabtu, 21 Januari 2017, umat Hindu di Nusantara berbahagia merayakan Hari Raya Sarasvati. Sedangkan di India akan dirayakan pada Vasant Panchami (1/2/2017) nanti. Pemujaan dilakukan sejak pagi hari pkl. 07.13 s/d 12.34 siang. Umat biasa merayakan dengan memakai pakaian berwarna kuning, sembahyang Sarasvati pagi hari dengan melakukan Sarasvati-vandana, memuja Sarasvati, mempersembahkan gandum bakar Chapati dari jagung dicampur dengan daun Sarsong (sesame), kue-kue manis berwarna kuning, dan lain-lain. Sebagian besar persembahan berwarna kuning, termasuk bunga berwarna kuning. Rumah-rumah atau ashram dihias warna kuning.

Khususnya orang yang ingin memberikan pelajaran kepada anak-anaknya, maka "Dewasa Ayu"-nya adalah pada hari ini. Pelaksanaan praktik spiritual juga banyak dilakukan pada hari ini. Umat pada hari ini semua memuja buku-buku pelajarannya dan memohon pada Dewi Sarasvati memberkati mereka dalam pelajarannya. memberikan kecerdasan yang baik serta jalan ke depan yang indah. Pada malam hari biasanya diselenggarakan acara-acara seni budaya.

Pelaksanaan di India kurang lebih sama dengan pelaksanaan Sarasvati Puja di Indonesia, khususnya pemujaan pustaka-pustaka/ buku-buku. Anak-anak sekolahan beramai-ramai pergi dan melakukan persembahyangan Sarasvati di sekolah atau kampusnya masing-masing. Hanya saja anak-anak pelajar dan mahasiswa di Indonesia, khususnya di Bali, melaksanakan dengan cara besar-besaran dan tampak kebersamaan yang sangat baik serta rapi, termasuk peran aktif para guru atau dosennya.

Penekanan diberikan pada permakluman tekad untuk memulai belajar yang sungguh-sungguh dan memohon karunia khusus dari Dewi Sarasvati untuk menyukseskan studi yang dilakukan. Vidyarambham karisyami, duhai Dewi Sarasvati, hamba bertekad untuk memulai belajar yang sungguh-sungguh. Siddhir bhavatu me sada, mohon berkenan agar selalu mengaruniai segala kesuksesan terhadap studi hamba.

Terdapat juga penulisan "siddhyarambam karisyami" pada baris yang sama untuk "vidyarambham karisyami". Kalimat yang lebih benar adalah "vidyarambham karisyami" dan bukan "siddhyarambham karisyami". Vidyarambham berasal dari kata vidya (ilmu pengetahuan) dan arambham (memulai, mengawali dengan tekad sungguh-sungguh). Sedangkan siddhyarambham berasal dari kata siddhi (berhasil, sukses, sakti, kekuatan spiritual) dan arambham (memulai, mengawali dengan tekad sungguh-sungguh). Akan menjadi kurang tepat jika kalimat baris ke-3 berarti "hamba akan memulai keberhasilan, kesaktian, dan lain-lain. Oleh karena itu yang lebih tepat adalah "Vidyarambham karisyami", hamba akan memulai bersungguh-sungguh belajar ilmu pengetahuan.

Mengapa permohonan ditujukan kepada Dewi Sarasvati? Jawabannya ada pada baris ke-2 "varade kama-rupini". karena Dewi Sarasvati adalah varade, yang secara pasti mememuhi, mengisi, mengabulkan segala keinginan para pemuja-Nya. "Kama-rupini", berarti yang di-"varada/de" oleh beliau adalah "kama" alias keinginan-keinginan dari para pemuja-Nya. Oleh karena itulah Dewi Sarasvati disebutkan sebagai "Varade kama-rupini", yaitu yang mengabulkan keinginan-keinginan para pemuja-Nya.

Tedapat salah kaprah pemahaman terhadap hari raya Sarasvati, khususnya di kalangan selain siswa-mahasiswa. Sepertinya hari raya Sarasvati ini adalah hari raya milik anak-anak sekolahan dan mahasiswa. Pada hari raya Sarasvati, biasanya hanya anak-anak sekolahan dan mahasiswa yang mempunyai kewajiban sembahyang, sedangkan para "yang bukan pelajar-mahasiswa" dapat "bonus bebas puja". Anggapan atau salah kaprah pemahanan yang sudah mentradisi ini tentu saja tidak baik dilanjutkembangkan oleh mereka yang bukan pelajar-mahasiswa.

Di Bali, tradisi pemujaan Sarasvati dilakukan oleh para orang tua yang sedang "mematangkan" berbagai jenis ilmu, khususnya mereka yang ingin mematangkan "ilmu kadhyatmikan" alias ilmu pengetahuan spiritualnya. Mereka melakukan praktik spiritual khusus pada hari ini dengan berpuasa dari banyak hal dan kesenangan-kesenangan duniawi, menjapakan mantram-mantram khusus, dan berbagai aktivitas agama spiritual lain dilakukan dengan lebih bersungguh-sungguh, yang berbeda dengan praktik-praktik mereka pada hari-hari lainnya. Pemujaan dengan berbagai jenis persembahan bebanten juga dilakukan. Banyak mantram-manttram tidak lumrah atau tidak umum dipraktikkan oleh umat Hindu di negara lain, termasuk India, justru dapat dijumpai di Bali. Tentu saja demi pertimbangan batasan artikel kami tidak menuliskannya di sini.

Dengan demikian, anggapan hari raya Sarasvati merupakan hari raya "anak-anak" tidaklah benar. Semua umat, dari segala latar belakang dan usia, seharusnya melakukan pemujaan pada hari Sarasvati ini, mengingat Dewi Sarasvati adalah Dewi yang Varade Kama-rupini, Dewi yang sangat "bares" (bahasa Bali).... pemurah, mudah mengabulkan keinginan-keinginan pemuja-Nya. Mengingat Dewi Sarasvati berkenan memenuhi keinginan-keinginan para abdi-Nya dengan "mudah alami" maka beliau disebut pula dengan berbagai jenis nama, yang semua mengandung kemuliaan sangat khusus. Dari ribuan nama Dewi Sarasvati, beberapa nama beliau adalah: Vac, Vag Devi, Sarasvati, Vagisvari, Sarada, dan lain-lain.

Dari ribuan nama, dua peranan penting dari Sarasvati dipuji-puji dalam literatur suci Veda, yaitu Dewi Sarasvati sebagai Daivi-vak atau Vidya-Devi (Dewi Ilmu Pengatahuan) dan sebagai Nadi Devata (Dewi sungai suci "Sarasvati"). Sebagai Nadi Devata, Dewi Sarasvati beliau adalah "Apo Devi" (Dewi air/sungai) yang "Apo divyah" (air surgawi, air suci dengan kekuatan spiritual yang luar biasa). Sedangkan sebagai Daivi vak atau Vidya Dewi, dikenal selalu berpakaian putih (ya subhra-vastravrta).

Brahma-Vaivarta Purana menyebutkan, warna putih melambangkan satva-guna (sifat kebaikan, mulia, indah, asri). Mereka yang diakui mempunyai pengetahuan adalah mereka yang oleh pengetahuan yang dipelajarinya sudah terbentuk menjadi orang yang selalu memikirkan kebaikan yang lain, selalu mengusahakan kemuliaan makhluk lain. Semua pengetahuan yang dipelajarinya semata-mata hanya demi kebaikan yang lain (paropakaraya) dan pengetahuan yang hanya ada dalam buku dan ingatan sama sekali tidak diakui sebagai pengetahuan. Jadi, pengetahuan, termasuk yang belajar pengetahuan, yang mengajarkan pengetahuan, dan cara belajar-mengajar pengetahuan itu sendiri, hendaknya murni dalam sifat kebaikan dan kemuliaan. Itulah vidya (pengetahuan). Pengetahuan juga disebutkan sebagai vidya gupta-dhanam, atau harta rahasia.

Hanya pengetahuan yang diajarkan dan dipelajari melalui jalan kebaikan sajalah yang akan mampu memberikan ketundukan hati yang baik kepada mereka yang mengabdikan hidupnya demi pengetahuan. Semakin memiliki pengetahuan mereka akan menjadi semakin tunduk hati. Bukan sebaliknya, semakin belajar batin menjadi semakain kacau dan ketinggian hati menjadi semakin memuncak. Ilmu padi merupakan ilmu dari mereka yang sejatinya belajar pengetahuan.

Sebagai pada akhirnya pengetahuan harus memberikan ketundukan hati yang baik (vidya dadati vinayam), karena hanya pengetahuan yang "menyulap" orang menjadi tunduk hati sajalah yang akan mampu menjadi pengetahuan pembebas dari kesengsaraan (vidya ya vimuktaye). Lontar Bhuwana Kosa menekankan bahwa ilmu pengetahuan mengaruniai penyucian lahir-batin lebih (anghing jnana sauca juga lewih saking sauca kabeh).
Perenungan seperti inilah yang diperlukan juga dilakukan pada perayaan hari raya Sarasvati.

Oleh: Darmayasa
Source: Koran Bali Post, Minggu Paing, 22 Januari 2017