Pada akhir Juni 2015 silam, Ida Pandita Mpu Nabe Reka Dharmika Sandhyasa beserta sejumlah umat yang mengiringinya mengunjungi komunitas umat Hindu di Malang. Dalam perjalanannya kali ini beliau juga bermaksud napak tilas situs-situs suci dari zaman Singasari dulu, salah satunya adalah mendatangi sisa-sisa tempat pemandian Ken Dedes. Di tempat tersebut Ida Pandita beserta pengiring beliau tidak menemukan sisa-sisa kemegahan dan keangkeran pemandian tersebut, karena sudah berubah fungsi menjadi tempat pemandian umum. Hanya saja di area tersebut telah berdiri sebuah pelinggih kecil, konon kalau umat Hindu daerah Singasari dan sekitarnya mengadakan upacara keagamaan, mereka nunas tirtha suci di pelinggih tersebut.
Ida Pandita Mpu Nabe tidak ingat lagi tanggal berapa tepatnya ia bersama rombongan bertemu dengan pengurus PHDI Jatim yang memberinya informasi bahwa di Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang terdapat sebuah arca Ganesha berukuran cukup besar yang memiliki cerita unik. Konon dahulu arca ini pernah dipindahkan ke Surabaya, namun entah bagaimana ceritanya arca tersebut kembali lagi ke tempatnya semula di Karangkates. Bahkan konon seseorang pernah menjualnya ke Perancis tetapi arca tersebut kembali lagi. Selain itu, hingga kini warga di sekitar arca tersebut selalu menyuguhkan persembahan berupa makanan yang mereka masak di depan arca. Ada yang menuturkan bahwa bilamana alpa menghaturkan persembahan di arca tersebut, maka bahan makanan apa pun yang dimasak penduduk tidak akan pernah bisa matang (masak). Ada banyak cerita misteri lain yang dipercayai warga di sekitar arca tersebut.
Saat tiba di lokasi arca dimaksud, Ida Pandita Mpu Nabe melihat selintas kalau arca tersebut bersih karena diperkirakan sengaja dibersihkan dari lumut dan debu. Juru kunci arca tersebut, Mbah Malim menyebutkan kalau banyak para penghayat kebatinan maupun warga sekitar datang ke arca ini pada waktu-waktu tertentu untuk melakukan persembahan maupun mengheningkan diri.
Arca Ganesha di Karangkates ini cukup unik, dengan posisi berdiri dengan tinggi sekitar tiga meter. Umumnya arca Ganesha yang banyak ditemukan di Indonesia berada dalam posisi duduk bersila. Keunikan lainnya, arca Ganesha ini berdiri di atas tumpukan tengkorak sementara dalam mitologi disebutkan kalau wahana dari Ganesha adalah tikus. Oleh sebab itu Ida Pandita Mpu Nabe Reka Darmika Sandhyasa saat dijumpai Raditya pada Senin, 10 Agustus 2015 lalu di geriyanya di Kyumas Kaja, Denpasar menyebutkan bahwa dirinya menduga kalau pembuatan arca ini dahulunya dibuat oleh penganut Siwa Bhairawa.
Penghadang Bahaya
Arca Ganesha ini terletak di belakang Kompleks Wisama Perum Jasa Tirta, Desa Karangkates, Malang. Lokasi situs Ganesha memang tidak bisa dilihat dari jalan utama jurusan Malang-Blitar, karena, di sana juga tidak ada papan nama yang menunjukkan jalan menuju ke situs tersebut. Namun, jika bertanya kepada warga sekitar, maka akan langsung ditunjukkan arahnya. Untuk menuju arca Ganesha ini dari arah Kota Malang, hendaknya jangan melalui jalan yang melintas di atas Bendungan Karangkates, tetapi lurus saja mengikuti jalan raya, setelah itu terdapat sebuah masjid di sisi kanan jalan. Di samping masjid terdapat sebuah gang, kemudian berbelok kanan dan lurus saja mengikuti jalan. Terdapat dua pintu masuk menuju sang Ganesha. Yang satu, berada tepat di depan Ganesha. Satunya lagi, berada sejajar dengan lengan kanannya. Di bagian kanan dan kiri Ganesha dibangun sejenis pendopo kecil untuk tempat berteduh.
Arca Ganesha ini ditemukan ketika Bendungan Karangkates dibangun. Arca itu kemudian dipindahkan ke bukit kecil, tidak jauh dari permukiman penduduk. Hanya ada dua arca Ganesha berdiri yang pernah ditemukan di Indonesia. Selain di Karangkates, satu arca lagi pernah ditemukan Belanda di Gunung Semeru yang kini dibawa ke Leiden, Belanda. Kondisinya lebih utuh dibandingkan dengan Ganesha Karangkates. Adapun arca di Karangkates sudah rusak di beberapa bagian, seperti mata kiri yang tidak utuh dan gading yang putus.
Dilihat dari gaya seni arcanya, para ahli arkeologi menyimpulkan bahwa pada masa Singhasari merupakan puncak kejayaan seni Indonesia kuno. Belum ada temuan arca yang dibuat lebih bagus dari zaman Singasari. Sayang, tidak banyak peninggalan Singasari yang bisa ditemukan saat ini.
Setiap hari selalu ada yang mengunjungi situs arca Ganesha ini, namun jumlahnya tak sampai puluhan. Paling ramai ketika malam Jumat Legi. Terkadang pengunjung yang datang untuk mengadakan selamatan dengan memberikan semacam sesajen. Konon, menurut sang juru kunci, dari cerita turun temurun Arca Ganesha ini pernah dibawa ke Singosari dengan diangkut kereta yang ditarik 44 sapi. Saat dipindahkan pada siang hari, tetapi anehnya pada malam harinya sudah kembali ke tempat semula di Karangkates ini.
Dahulu arca Ganesha itu berada di dekat pertemuan Sungai Sengguruh dan Sungai Brantas yang berada di bawah dari lokasi yang sekarang. Arca itu dipindah lebih ke atas di dekat permukiman penduduk. Selain berdekatan dengan perkampungan, juga dekat makam China kuno yang sudah tidak pernah dikunjungi oleh keluarganya. Makam tersebut menurut juru kunci adalah pindahan dari lokasi yang saat ini jadi Pasar Sumberpucung. Namun kapan perpindahan itu, juru kunci Arca Ganesha juga tidak mengetahui secara pasti namun diduga agar lebih aman. Namun alasan pastinya belum ditemukan data-data sejarahnya secara pasti. Kemungkinan perpindahan itu terjadi pada masa kolonial.
Selain sebagai penghalang marabahaya dan pemimpin pasukan perang, Ganesha juga disebut sebagai dewa ilmu pengetahuan (Vidyadewa). Hal itu bisa dilihat dari simbol gambar yang ada di patung, yang mana di tangan kanan dan kiri depan memegang mangkuk dari tempurung kepala manusia yang dibelah. Lalu belalainya mengarah ke mangkuk di tangan kiri. Belalai yang mengarah ke tengkorak ini bisa disimbolkan bahwa Ganesha haus dengan pengetahuan.
Di Indonesia banyak sekali terdapat arca Ganesha terutama di Jawa dan di Bali, mungkin karena pemujaan kepada Siwa kuat sekali. Ganesha seringkah dipahat tersendiri, dianggap sebagai dewa penolak bahaya. Stutterheim mengemukakan bahwa arca Ganesha sering ditemukan di dekat tempat berbahaya seperti pada penyeberangan sungai atau dekat jurang seperti arca Ganesha di Karangkates, sehingga perlu didirikan arca Ganesha yang dipercaya mampu menghadang marabahaya atau peredam murka. Bahkan, posisi arca Ganesha di tempat lain tidak hanya di pertemuan dua sungai (tempuran), tapi juga di perempatan jalan dan di lereng gunung. Seperti di wilayah Torongrejo, Kota Batu, yang posisinya berada di pinggir sungai dan dekat pegunungan. Selain itu, di Candi Penataran Blitar, arca berada di dalam candi karena bertujuan untuk menghadang kemarahan Gunung Kelud.
Edy Sedyawati menguatkan bahwa keberadaan arca Ganesha secara teologis selalu dikaitkan dengan strategi kultural manusia untuk menanggulangi bencana. Ganesha sebagai dewa penjaga dari bahaya. Penempatannya pada tempat-tempat yang dipandang berbahaya. Misalnya, Ganesha Karangkates dengan posisi berdiri di tepi Sungai Brantas. Di wilayah rawan bencana itu ditempatkan Ganesha dengan tujuan sebagai penolak bahaya dan bencana.
Sumber : Majalah Raditya Edisi 218, September 2015