Kingking Ing Akung

Keindahan sasih Kapat atau Kartika memang dinanti-nanti oleh para kawi atau pengarang. Mereka juga menyebut diri "akung", dia yang merindukan keindahan, dia yang mabuk asmara atau dia yang dibelenggu "kingking" (kesedihan) karena berpisah dengan keindahan.

Mpu Tanakung dalam salah satu karyanya berjudul Bhasa Tan Akung menyusun kata dalam sejumlah baik kakawin yang sangat menarik. Tan akung i gati ning hyas tan tresneng wida mawangi; tan akung i pangan i prem karyan lot hana ri hati; tan akung i huripa ngwang yan kangen raras ing akung; ndya ta panamuna kingking-kingking ning kasekan uneng, .... (Tiada cinta lagi pada kesemarakan tidak pula terbelenggu oleh bau yang harum; tidak tertarik pada makanan tidak pula ingin tidur karena senantiasa ada dalam hati; tiada mencintai hidup lagi karena rindu keindahan asmara; karenanya dimanakah tempat untuk menghilangkan rasa sedih terbelenggu rindu;....)

Kesedihan seorang kawi (kingking ing akung) lebih sebagai kerinduan yang tak tertahankan untuk bertemu dan bersatu dengan dewi pujaannya, Dewi Keindahan. Maka sang kawi lalu alanglang kalangwan, mengembara di alam keindahan, di tepi laut atau di kaki gunung, atau disebut sebagai sagara-giri atau pasir-ukir. Di tempat sepi itu sang kawi melakukan yoga sastra, menulis karya sastra, menstanakan Dewi Keindahan dalam padma hatinya, lalu dalam karya sastranya yang disebut candi bahasa.

Mpu Nirartha dalam Anang Nirartha ada menyuratkan sebagai berikut: Nahan ta bhasa nghing wwaya ta kawekas ring karas alit; gawe sang mawak truh lumaku humanyut kung lawan uneng; besur dening kingking karana nira lunghahusan uneng; panononanta dyah gurit ira kidung yeki tamahen. (Demikian sebuah karya Sastra namun disuratkan pada daun lontar yang kecil; karya dia yang berbadankan gerimis yang berjalan menghanyutkan cinta dan rindu; lelah dengan kesedihan oleh karenanya ia pergi bersama rindu; lihatlah Dewiku karyanya kidung ini, terimalah).

Demikianlah dibawsh gerimis sasih Kapat sang kawi melepas rindu, mengolah rasa dalam bhasa (karya liris), memuja Dewi Keindahan. Sang kawi meniti pantai, mendaki bukit atau gunung, melakukan yoga sastra dan puja sastra, angdon lango atau menikmati rasa keindahan. Saat inilah sang kawi memekarkan rasa, seperti mekarnya bunga-bunga pada sasih kapat (kartika panedenging sari).

Sungguh musim yang tak pernah dilewatkan oleh mereka yang merindukan keindahan, yang memuja Hyang-Hyang Ning Kartika. Pemujaan yang didorong oleh gairah spiritual, kerinduan akan rasa lango, rasa indah yang menyusup dalam hati.

Ketika kumbang berdengungan mengisap sari kembang, ketika pohon gadung melilit erat pohon-pohon kayu, ketika ayam hutan berteriak di kejauhan, ketika gerimis menyiram pasir laut yang putih, ketika itu sang akung mengolah rasa kingking dalam untaian mutiara kata persembahan. Kingking ing akung kesedihan sang kawi adalah kerinduan kepada Dewi Keindahan, yang distanakan dalam padma hatinya, tetapi yang juga menyusup dalam setiap keindahan itu sendiri.

Oleh: Ki Nirdon

Source: Warta Hindu Dharma NO. 514 Oktober 2009