Anugerah Tuhan (Tiruarul) adalah salah satu konsep dasar dalam Saiva Siddhanta. Satu dari 14 karya ajaran Saiva Shiddanta berjudul Tiruarulpayan. Seperti halnya dengan dengan Tiruktural yang sangat terkenal itu, Tiruarulpayan berwujud couplet yang masing-masing panjangnya satu setengah baris. Disusun dalam 10 bab, masing-masing dari 10 couplet dapat dipandang sebagai edisi pendamping Tirukkural. Sementara Tirukkural secara eksplisit berkenaan hanya dengan tiga Purusartha pertama (dharma-aram; artha-porul; dan kama) Tiruarulpayan secara eksklusif berkenaan dengan yang keempat yakni Moksa-vidu. Karya ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul "The Fruit of Divine Grace" oleh G.U. Pope dan termasuk dalam pengaturan terjemahannya Tiruvacagam.
Merupakan hal yang biasa berbicara mengenai lima fungsi Siva. Kelima fungsi itu adalah pencipta (srsti), pemelihara (sthiti), penghancur periodik alam fisik (samhara), dan penggelapan (tirobhava), serta pemberian anugrah/berkat (anugraha) dan hubungannya dengan jiwa. Dipandang dari sudut berbeda, empat fungsi pertama membentuk ikatan (bandha) dan yang terakhir pembebasan/tak keterikatan (moksa). Melalui anugrah (grace) ini dipandang sebagai salah satu dari lima fungsi dan kaum Siddhanta menekannya sebagai dasar dari keempat lainnya. Dalam Anugrah Siva menciptakan alam semesta dan memeliharanya untuk memunginkan jiwa mengatasi ketidakmurniannya yang utama (anava).
Penghancuran bersifat periodik. Penghancuran tersebut memiliki tujuan sendiri serta masa-masa istirahat bagi jiwa dari lingkaran atau daur lahir dan mati. Penggelapan (obscuration) menutupi kecerdasan jiwa. Paling sedikit kehancuran periodik dapat dilihat sesuai dengan Anugrah karena Anugrah dimaksudkan memberikan jiwa istirahat dan pulih dari kelelahan akibat kelahiran dan kematian. Tetapi bagaimana hal yang bisa mengaburkan kecerdasan bukannya membawa pencerahan dianggap bisa sesuai atau cocok dengan Anugrah? Para Siddhanta menjelaskan konsep penggelapan: jiwa tak berawal, kalau dihubungkan anava egoisme yang menampakkan diri dalam pengertian "Aku" yang distorsi (ahamkara) dan "milikku" (mamokara).
Ini dikatakan merupakan bagian alami dari diri (yang terbatas seperti halnya noda/ bagian hijau pada perunggu, siva dan kapasitas/kemampuannyia, memberikan prodik maya (dunia, badan, indra dan kemampuan mental, dan obyek pengalaman-bhuwana, tanu, karana, dan bhoga) kepada jiwa untuk memungkinkan menggunakannya pada saat berdoa dan mengabdi. Dia memberikan kebebasan bertindak dalam pikiran, kata dan perbuatan fisik (Karma) sehingga dengan melaksanakan kebebasan itu mereka menigkatkan stabilitas jiwa. Namun di bawah pengaruh anava jiwa menyalah gunakkan produk maya untuk kepentingan sendiri (mamokara) dan bertindak demikian mereka mengencangkan/ menguatkan bukannya melemahkan ikatannya dengan bantuan maya dan karma.
Bila ikatan dipasang dalam kenikmatan sendiri dan kepentingan dirinya tentang: jiwa menjadi kecewa sementara dengan kehidupan dan mereka ingin menarik diri dari kehidupan. Penarikan diri secara dini seperti itu akan merintangi pertumbuhan moral dan spirtualnya. Dengan demikian Tirodhana sakti Tuhan menyelubungi kecerdasan jiwa dan membuat hidup menjadi menarik. Jiwa ditarik kembali ke dalam pusaran kehidupan sampai mereka menyadari perbedaan antara nilai-nilai yang benar dan salah.
Mereka bukan lagi menyatakan sebagai pelaku dari perbuatan dari sudut pengertian aku yang salah, tetapi belajar bertindak sebagai instrumen siva. Bila mereka mengosonkan dirinya untuk menerima Anugah Tuhan, terhadap suatu pengayaan/ pengisian bukan pemiskinan. Sebaliknya bila mereka berhenti mengaku dan memiliki sesuatu untuk kepentingan kepuasan dirinya sendiri tetapi menggunakannya untuk memuja Tuhan dan melayani ciptaan-Nya, berarti mereka telah mengatasi kesalah pengertian mereka tentang "kepunyaanku" (mine).
Dengan memberikan orang lain buah dari kebaikan moral dan spiritual, mereka mengambil kemungkinan bahwa ketergelinciran moral dan spiritual orang lain sebagai miliknya untuk selanjutnya dibayar oleh penderitaan dan penebusan dosa mereka. Sekarang telah tiba saatnya bagi munculnya Sang Guru dan turunnya anugerahnya. Bahkan sebagaimana katarak di mata hanya dapat di hilangkan bila telah masanya, anava sebagai penyebab makna salah tentang "aku" dan "kepunyaanku" dapat dihilangkan jika jiwa secara total tidak dikecewakan oleh semua nilai-nilai salah dan pada dasarnya makna salah dari "aku" dan milikku" Tirodhana sakti menjadi Arul sakti, energi pengabur dari Tuhan menjadi energi yang bermurah hati (baik).
Oleh karena kaum Siddhanta juga meyakinkan adanya anava mala dalam keadaan pembebasan, bisa dimaklumi bahwa sebagaiman halnya : tirodhana sakti bisa menjadi arulsakti, maka anava yang memburuk bisa menjadi anava yang ditebus atau yang di hidupkan lagi. (Kalau kita meminjam kata-kata Sri Ramakrisna, ego kacha menjadi ego pucca?) Sekarang "Aku" menjadi meladeni bukan diladeni. "Milikku" mencari beban orang lain dijadikan bebannya sendiri bukannya mencari imbalan umtuk dirinya.
Manikkavacagar menjamin Siva sebagai yang membesarkannya (ennai valarppavace). Untuk membuat jiwa tumbuh, anugerah Siva bertindak dalam dua cara: lembut (anugraha) dan keras atau menghukum (nigraha) berikut diberikan ilustrasi. Seorang Raja memberikan hadiah kepada bawahannya karena perbuatannya yang baik dan menghukum mereka untuk perbuatannya yang jahat.
Dokter memberikan obat manis atau melakukan operasi yang menyakitkan sesuai dengan sifat penyakit pasiennya. Orang tua melimpahkan kasih sayang untuk kelakuan mereka yang baik dan memberikan hukuman pada anaknya atas perbuatannya yang jelek. Dalam kasus-kasus ini sisi baik dari seseorang merupakan motif yang mendasari atau penyebab. Sebaliknya perhatian/ kasih sayang Tuhan mengatur pembagian kebahagiaan dan kepedihan bagi jiwa, Pada saat kejadian, perbuatan Tuhan muncul dari Anugrah-Nya.
Kaum Siddhanta menyebutkan bekerjanya anugrah Tuhan (Divine Grace) juga sebaliknya Tuhan tak terjangkau oleh pikiran dan indra. Dia berada di balik insiden kelahiran dan kematian. Walaupun demikian dalam perbuatan baik-Nya, Tuhan berwujud Anugerah, Dia muncul dengan yang definitif (rupa) sebagai Nataraja, dsb. Dia memanifestasikan diriNya dalam Siva-Linga (ruparupa) Dia bermain dalam rongga jantung atau intelegensi seseorang (daharakasa atau cidakasa) Dalam satu hal, Dia berada dalam lima elemen dan bintang surgawi khususnya matahari dan bintang dan memberikan karakternya pada mereka.
Sebagai Dakshinamurti, Dia merupakan adiguru (yang pertama dalam ajaran pendidik) dan paramaguru (Guru tertinggi). Dia berwujud anugerah untuk memberikan veda dan Agama tuntunan jiwa. Bila dia mengambil bentuk, semua merupakan dari Anugerahnya, Semua ornamen dan senjata yang dilihat padanya adalah wujud Anugerah.
Tiruarulpayam yang di acu pada awal tulisan memiliki dua bab yang berjudul . "Keadaan Anugerah" (aruladunilai) dan "Hakekat Guru yang menjadi penguatan Anugerah" (aruelurunilai) Kita bisa melihat kutipan berikut dari "Keadaan Anugerah".
"Seperti apa yang paling dibutuhkan pada saat tertentu (orang yang sedang haus misalnya memerlukan tidak lain dari air) walaupun demikian (karena setiap orang dan setiap saat) tidak lain dari Anugerah.
"Seperti orang yang sedang berjalan di atas tanah tanpa menyadari bahwa tanah itulah enopang yang paling perlu bagi mereka, jiwa tidak menyadari bahwa Anugerah adalah penopang yang perlu baginya.
"Mereka yang gagal melihat Anugrah yang dalam perwujudannya sebagai smarana menopang, menerangi dan menuntun mereka adalah seperti orang yang gagal melihat gunung atau bumi atau langit yang secara jelas terlihat tegak.
Karya-karya ajaran dan persembahan dalam Saiva Sidhhanta mengakui Anugerah Tuhan yang dipersonofikasikan sebagai Sivasakti. Sebagai penutup kita bisa mengacu pada salah satu ayat dari Tevaram dan Risi. Mulai dengan cara yang negatif (neti neti), bisa membuat penegasan atas Anugerah sebagai bagian dari wujud Siwa: "Inilah Siwa, bukan matahari dengan cahayanya yang terpancar, bukan, bulan, bukan perintah Veda, bukan juga air yang jernih, atau api yang membakar. Seandainya kita bisa melihat, Dia adalah yang memiliki anak dari sebagai bagian diri-Nya dengan mata menghibur datang untuk memberikan anugerah, Dia bukan salah satu benda angkasa ataupun mahluk hidup.
Oleh: Dr. V.A Devasenapathi
Source: Warta Hindu Dharma NO. 517 Januari 2010