Konsep Taksu dalam Berkesenian dan Kreativitas Seni

Jika ditanya apa yang menjadi penentu keberhasilan sebuah pergelaran atau penciptaan seni, hampir dapat dipastikan warga masyarakat Hindu-Bali akan menjawabnya dengan taksu. Masyarakat Bali pada umumnya memandang taksu sebagai kekuatan yang dapat memberi kecerdasan dan kewibawaan kepada pemiliknya Jiwa dan daya pikat bagi karya seni' Pergelaran atau ciptaan seni yang kemasukan taksu akan menjadi hidup dan berjiwa sehingga dapat menggetarkan perasaan para penikmatnya. Sebaliknya, tanpa taksu semuanya itu akan menjadi hampa dan hambar sehingga sulit untuk dinikmati.

Belakangan ini taksu semakin ramai dibicarakan orang dan menjadi topik diskusi baik di kalangan masyarakat Bali maupun orang luar dan asing yang tertarik dengan seni budaya Bali. walaupun setiap orang mengakui bahwa taksu sangat esensial di dalam dunia seni Bali, namun hingga kini pemahaman tentang taksu di kalangan masyarakat masih sangat bervariasi. Sesuai latar belakang budaya masing-masing, setiap orang memiliki pemahaman serta perspektif tentang taksu yang berbeda-beda.

Pada kesempatan ini, penuiis mencoba untuk menyajikan sesuatu paparan terhadap keberadaan taksu dalam kaitannya dengan kegiatan dan kreativitas seni di Bali. Tulisan mi adalah hasil rangkuman tentang taksu  yang dihasilkan dalam beberapa kali diskusi dengan para ahh seni, praktisi seni, para sulmggih, dan lain-lain,dalam beberapa tahun belakangan ini. Tulisan ini diharapkan dapat merangsang munculnya pandangan-pandangan baru guna membangun pemahaman yang lebih dalam dan menyeluruh tentang taksu.

Apa Taksu Itu?

Sungguh tidak mudah menjawab pertanyaan sederhana ini. Hal ini disebabkan oleh keberadaan taksu yang abstrak walaupun tidak sulit untuk merasakan kehadiran maupun ketidakhadirannya. Sebagai sebuah konsep Hindu, taksu dapat dibatasi sebagai kekuatan dalam {inner power), kekuatan spiritual (spiritual poiver), atau kekuatan gaib (gagical poiver). Diyakini bahwa taksu bisa memberikan kecerdasan dalam melakukan suatu pekerjaan, disamping membuatnya menjadi lebih berwibawa dan berkarisma.

Taksu diduga berasal dari kata "caksu" dalam bahasa sansekerta yang berarti mata atau penglihatan (Mardiwarsito, 1978:46). Di bidang seni kata metaksu mengandung arti seniman, karya seni, atau obyek seni lainnya yang sudah matang. Di kalangan masyarakat Bali taksu juga memiliki pengertian benda, tempat suci yang ada pada setiap rumah orang Hindu Bali. Di tempat inilah para profesional mohon anugrah Tuhan agar diberikan kecerdasan sehingga mereka mampu melakukan tugas dengan baik sesuai swadharma masing-masing.

Selama ini, taksu lebih banyak dikaitkan dengan bidang seni, walaupun dalam realitasnya tahu dibutuhkan oleh semuabidang ptoiesi. Seniman, budayawan, politisi, dokter, guru, dukun, pendeta, pengacara, pedagang dan lain-lain semuanya membutuhkan tahu. Dalam tradisi Bali, pencapaian taksu seringkali melalui atau melibatkan upacara ritual keagamaan (Hindu).

Di Bali, lebih dari di tempat-tempat lainnya, baik di Indonesia maupun dibelahan dunia lainnya, masyarakat sangat percaya bahwa seni adalah ciptaan Tuhan (devine creation). Dalam berkesenian dan berolah kreativitas, manusia dalam hal ini seniman, bisa berbuat atas petunjuk dan bimbingan Tuhan. Mereka juga sangat yakin bahwa kualitas suaru pergelaran atau hasil kreativitas seni sangat ditentukan oleh datangnya sinar suci Tuhan yang lazim disebut taksu .

Dikatakan bahwa embrio taksu sudah ada dalam tubuh manusia sejak ia dilahirkan. Ida Wayan Granoka pernah menuturkan bahwa tubuh manusia, sebagai bhuana alit, diatur dan diawasi oleh Tuhan dalam wujudnya sebagai Dewa Brahma, Visnu, dan Dewa Shiva, yang sering disebut dengan Sang Hyang Tiga Sakti. Ditambah lagi dengan saudara empat {nyama papat) yang terdiri dari anggapati, prajapati, banaspati, banaspati raja. Di antara keempatnya ini, banaspati raja, juga sering disebut Ratu Wayan Sakti Pengadangan, adalah dewanya taksu. Namun demikian, ibarat permata, embriyo ini hanya akan memancarkan sinar ketika pemiliknya terus "menggosok" nya dengan kesungguhan hati. Ini berarti bahwa setiap orang bisa mendapatkan taksu apabila ia mau berupaya atas dasar kerja keras.

Di dalam sebuah tulisan yang disajikan dalam diskusi taksu di GEOKS Singapadu-Gianyar, 23 Desember 2007 yang lalu, I Made Bandem menawarkan tiga pilar taksu yaitu : fisik, mental, dan spiritual. Lebih jauh dijelaskan bahwa pilar pertama mencakup segala aspek fisikal dan material yang digunakan. Pilar kedua meliputi motivasi, kekuatan transformasi, termasuk penyatuan diri terhadap apa yang dilakukan. Akhirnya pilar ketiga mencakup  kekuatan spiritual seseorang dalam menyatukan kekuatan   makrokosmos   dan mikrokosmos   dalam   dirinya termasuk pada setiap karya -seni yang digarapnya.

Jika kemampuan seni bisa digambarkan sebagai lingkaran tiga lapis seperti dibawah,taksu ada pada lingkaran inti. Seorang seniman yang baru mencapai kecerdasan fisik (material) ia berada pada lingkaran luar (C). Ketika kemudian ia sudah memiliki kepekaan rasa, kekuatan sikap mental, dan kejujuran yang tinggi, maka ia sudah mencapai lingkaran kedua (B). Baru setelah ia memiliki kedewasaan spiritual, sehingga berhasil mendatangkan roh (taksu) , maka ia sudah sampai pada lingkaran inti (A). Dengan pencapaian ketiganya ini kemampuan seorang seniman menjadi sempurna (metaksu).

Keterangan:

A : Spirit/Roh

B : Sikap/Mental

C : Fisik/Ragawi

Berdasarkan sumbernya, taksu dapat dibedakan menjadi tiga : taksu bekel raga, adalah taksu yang dibawa/ dimiliki dari sejak lahir, taksu paica adalah anugrah atau pemberian Ida Sanghyang Widhi Wasa yang biasanya diperoleh melalui proses permohonan suci (nunas ica) dan taksu gegaen adalah yang dibuat oleh orang pintar (peranda, pemangku, atau balian). Di antara ketiganya, dua jenis taksu yang disebut pertama yang diinginkan oleh banyak orang karena diyakini lebih kuat dan lebih kekal.

Hingga kini masih ada dua pandangan terhadap kepemilikan taksu. Pandangan pertama, kepemilikian taksu bersifat permanen sehingga tidak bisa diwariskan kepada orang lain (biasanya dalam satu keluarga). Pandangan kedua, kepemilikian taksu bersifat tidak permanen sehingga bisa diwariskan kepada orang lain. Terkait dengan pandangan kedua banyak seniman di Bali yang merasa ila-ila untuk menyebutkan dirinya memiliki taksu karena  semuanya itu sangat tergantung kepada anugrah Tuhan, Ida Sanghyang Widhi Wasa. Keberadaan taksu sering kali dikaitkan dengan nadi atau kerawuhan. Salah satu alasannya adalah penampilan para seniman di atas pentas yang karena kesungguhan sehingga membuat Sreka terlihat seperti orang kerawuhan-hilang kesadaran atau daya kontrol. Juga patut diingat bahwa hingga kini masih banyak tari-tarian, atau kegiatan budaya, yang taksunya sangat tergantung pada kerawuhan.Tari Sanghyang akan kehilangan makna jika penarinya tidak sampai nadi, pergelaran dramatari Calonarang akan terasa hambar jika tidak terjadi keraivuhan, upacara piodalan (di Badung dan Denpasar) akan terasa hampa jika tidak ada sadeg yang kerawuhan.

Para seniman seni pertunjukan Bali pada umumnya dibekali dengan mantra-mantra untuk mendatangkan maupun mengembalikan taksu. Untuk mendatangkan (ngundang) taksu, Jero Mangku Dalang Paneca dari Buleleng, misalnya, mengucapkan : Om Sanghyang lswara Sanghyang Amangku Rat. Undangen Manusanira kabeh. Teka resep, teka purna teka purna, teka purna. Sidha swaha ya wong. Untuk mengembalikan (ngelebar) taksu ia mengucapkan : Om tatwa carita merem. Sajiwa yanaman swaha.

Taksu Dalam Pertunjukan

Dalam pertunjukan seni, kehadiran taksu bisa menambah daya pikat, daya pesona  dan wibawa pertunjukan secara keseluruhan. Pertunjukan seru yang sudah bisa menggetarkan rasa para nenikmatnya maka pertunjukan itu San menjadi sumber kelanguan; yang dapat membahagiakan orang banyak. (Selanjutnya)

Source: I Wayan Dibia l Warta Hindu Dharma NO. 537 September 2011