Makna Simbolik Tangis Bayi dan Pemujaan Sang Hyang Kumara

Kelahiran seorang bayi merupakan dambaan setiap orang. Karena itulah segala bentuk upacara keagamaan (ritual) dilakukan sebagai wujud sradha bhakti manusia. Upacara keagamaan (ritual) adalah realisasi dari Bhakti Marga. Dasar Bhakti Marga adalah rasa cinta. Cinta kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, cinta kepada anak maupun sesama, dan cinta kepada lingkungan. Getaran cinta akan mengerakkan manusia untuk berbuat. Karena adanya rasa cinta, keinginan bergerak dan berbuat, maka akan melahirkan seni. Rasa seni digejolakkan oleh getaran keagamaan menyebabkan seni simbolis. "Simbol merupakan bagian dari dunia makna manusia yang berfungsi sebagai disignator. Oleh karena itu simbol tidak memiliki kenyAtaan fisik, tetapi hanya memiliki nilai fungsional. Simbol tidak semata-mata cognitivie constructs, tetapi juga bersifat emo-tive. "Banten atau sesajen-sesajen yang beraneka ragam jenisnya merupakan bentuk-bentuk kreasi budaya manusia yang penuh dengan simbol-simbol" karena kelebihan manusia dibandingkan binatang adalah aktivitasanya dalam penggunaan simbol-simbol dalam pembudayaan.

Pada masyarakat tertentu ritual sering dianggap sebagai bagian penting di dalam kehidupannya. Semua itu dilakukan untuk memohon keselamatan, kesejah-traan, dan terhindar dari mara bahaya. Proses panjang dari tahapan kehidupan manusia dari sejak lahir, masa kanak-kanak, proses menjadi dewasa, dan menikah, menjadi orang tua, hingga saatnya meninggal,manusia mengalami perubahan-perubahan biologi serta perubahan dalam sosial budayanya, dapat mempengaruhi jiwanya dan menimbulkan krisis mental.

Dalam menghadapi tahapan-tahapan pertumbuhan atau "lingkaran hidup" individu (life-cycle rites) atau proses peralihan ini manusia, senantiasa mengadakan upacara ritual oleh Van Gennep (dalam koentjaraningrat, 1987) disebut the stage a long life cycle. Dalam bukunya Rites The Passage, Van Gennep (dalam halam 1984) menjelaskan ada tiga tahapan ritual dalm kehidupan manusia, yakni masa pemisahan (separation) masa transasi (transtion), dan masa kerja sama (incorporation). Menurut Helman, secara umum ritual dapat dibagi tiga bagian penting yaitu (1) ritual lingkaran kosmos; (2) ritual untuk masa peralihan sosial; dan (3) ritual dalam kaitannya dengan tidak keberuntungan.

Dalam banyak kebudayaan, ritus peralihan sangat penting, misalnya dalam upacara hamil tua, upacara kelahiran, upacara saat anak-anak tumbuh (upacara potong rambut, upacara keluar gigi pertama, upacara penyentuhan si bayi dengan tanah untuk pertama kali, dan sebagainya), dan dalam upacara inisiasi. Dalam hubungan dengan tulisan ini akan disoroti bagian dari upacara kelahiran, yaitu upacara persembahan kepada Sang Hyang Kumara. Pada masyarakat Bali bentuk ritual diwujudkan dengan membuat sesajen (banten). Banten atau sesajen dibuat untuk dipersembahkan kepada kekuatan-kekuatan yang ada di luar kemampauan akal manusia. Dasar utama kepercayaan (sradha) seseorang tentang adanya kekuatan-kekuatan di luar kemampuan manusia, dikupas dalam beberapa teori tentang kelakuan manusia yang bersifat religi itu terjadi karena: (1) manusia mulai sadar akan adanya paham jiwa; (2) manusia mengakui adanya banyak gejala yang ditidak dapat diterangkan dengan akalnya; (3) bermaksud menghadapi krisis-krisis yang ada dalam jangka Waktu hidup lanusi; (4) kejadian-kejadian yang luar biasa dalam hidupnya dan alam alam sekelilingnya; (5) suatu getaran atau emosi yang ditimbulkan dalam jiwa manusia sebagai akibat dari pengaruh rasa kesatuan sebagai warga masyarakat; dan (6) manusia mendapat suatu firman dari Tuhan. Pengupasan terhadap banten Kumara yang dipersembahkan kepada Sang Hyang Kumara yang bertugas menjaga dan melindungi bayi dari mara bahaya merupakan bentuk aplikasi t,eori di atas, terutama ke-dua ke-tiga.

MAKNA TANGIS BAYI

Permulaan kehidupan anak di dalam kandungan dimulai pada saat perubahan, yaitu satu ovum dibuahi oleh spermatozoon. Suatu hal  yang  seringkali  menarik perhatian ialah adanya perbedaan yang sangat menyolok antara makhluk yang baru mulai kehidupannya dalam kandungan dengan mahkluk yang baru mulai kehidupannya di luar kandungan (neonatus) atau masa dimulai dengan kelahiran sianak. Kelahiran seorang anak dalam satu keluarga masyarakat Hindu dipandang sebagai suatu peristiwa amat penting dalam siklus kehidupan manusia. Terdapat waktu-waktu tertentu dalam kehidupan manusia yang dipandang kritis dan penuh bahaya sehingga perlu dibuatkan upacara keagamaan tertentu sebagai saradha bhakti untuk menghindari situasi kritis tersebut yang sering disebut  dengan  istilah   ritus peralihan.

Dalam banyak kebudayaan ritus peralihan sangat penting misalnya upacara hamil tua, upacara saat bayi lahir, upacara memotong rambut, bayi mulai tumbuh gigi, upacara bayi mulai menyentuh tanah. Oleh karena itulah berbagai upacara keagamaan tidak hanya dilakukan setelah anak lahir sampai dewasa, akan tetapi juga dilakukan semasih anak dalam kandungan.

Salah satu ciri yang ditampilkan anak yang baru lahir adalah kenyataan bahwa anak yang baru lahir itu senantiasa menangis. Persoalannya adalah kenapa anak yang baru lahir itu menangis. Tangis bayi dan anak-anak yang amat muda itu mempunyai fungsi dan arti simbplik yang sangat kompleks. Keterangan mengenai hal ini sangat bermacam-macam. Soerjabrata (1979) dan Kartono (1989) mengutip beberapa pendapat tentang makna tangis bayi diantaranya: l. Immanuel Kant seorang filsuf berpendapat bahwa tangis bayi pada waktu lahir merupakan protes jiwa manusia terhadap belenggu kejasmanian. Jiwa manusia mempunyai jiwa yang jauh lebih luhur daripada materi. Karena itulah, maka jiwa itu menentang proses yang mengakibatkan dan membelenggu jasmani dan materi itu. Pendapat Kant dewasa ini tampaknya tidak ada orang yang dapat menerimanya. 2. Freud, Ranke, dan bernfeld memeberikan keterangan bahwa tangis bayi itu merupakan ekspresi daripada ketakutan dan keinginan akan regresi. Pada waktu anak masih dalam kandungan, ia ada dalam kedaan yang serba "sempurna", serba aman, tempat yang lembut, suhu yang sesuai dengan keadaannya, makanan yang tidak usah dikunyah dan ditelah, dan sebagainya, sehingga dapat dikatan seakan-akan dalam sorga. Ketika ia datang untuk pertama kalinya di dunia ini sekaligus menghadapi keadaan-keadaan yang serba tidak enak, suhu yang berbeda dengan keadaannya sendiri, tempat yang kasar, sinar yang menganggu, suara yang membisingkan, dan sebagainnya, sehingga kelahiran ini merupakan pengalaman traumatis yang mula-mula merupakan malapetaka  yang menghakiri keadaan yang serba senang, serba aman, dan serba tentram dalam kandungan. Karena itulah di dalam jiwa mnusia terdapat dorongan regresi ke alam dalam kandungan itu yang disebut juga "kerinduan akan sorga". Keterangan ini juga tidak dapat diterima, karena sifatnya yang dicari-cari, sehingga tidak dapat menjelaskan persoalan. 3. Sis Heyster memberikan interprestasi tangis pada waktu kelahiran itu secara psikologis, yaitu sebagai pertanda mulainya adanya kesadaran pada anak. Kiranya pendapat ini memang tidak dapat dipungkiri. Disamping dapat diberi interprestasi secara pisikologis tangis pada waku kelahiran itu juga dapat diterangkan secara biologis. Dari segi ini tangis itu merupakan pertanda mulainya berfungsi paru-paru, dan karenanya juga orang yang lain yang karenanya juga merupakan  pertanda  tentang adanya kehidupan. Karena itulah maka kalau ada bayi lahir tidak segera menangis akan dirangsang dengan macam-macam cara supaya menangis, seperti misalnya dipukul pelan-pelan, dikipasi, atau dimasukkan udara kedalam paru-parunya dengan ditiupkan lewat pembuluh, dan sebagainya.

Didalam lontar Anggasya-prana diceriterakan bahwa kehidupan bayi selama berada dalam kandungan si ibu di jaga dan dilindungi oleh Hyang Siwa, yaitu manifestasi Hyang Widhi Wasa yang berfungsi sebagai pamralina. Secara biologis dapat diketahui kehidupan bayi dalam kandungan setiap saat mengalami perubahan  sesuai dengan usia kandungan. Kehidupan bayi dalam kandungan dipelihara dan dilindungi oleh "Nyama Bajang" atau "Sang Hyang Catur Sanak" atau nyama papat, yang selanjutnya banyak memiliki nama lain setelah bayi lahir. Diceritakan bahwa menjelang lahir, bayi justru tidak mau lahir karena setelah ditanya Hyang Siwa si bayi takut akan kekuatan-kekuatan alam seperti panas,dingin, angin, gumeruh dan sebagianya. Atas saran Hyang Siwa, si bayi meminta bantuan kepada Sang Catur Sanak. Ahkirnya Sang Catur Sanak mau  membantu kelahiran si bayi asal selama hidupnya nanti selalu ingat akan jasa-jasa Sang Catur Sanak. Setelah terjadi proses kelahiran, ari-ari si bayi dipotong dan si bayi pun menangis menjerit-jerit karena berpisah dengan saudara-saudaranya itu.

Apapun keterangan yang diberikan oleh para ahli di atas tampaknya melalui tangisnya bayi menampilkan keinginan, kebutuhan/rasa tidak senang, kesakitan, kemarahan, ketidaksabaran, kekece¬waan, kekhawatiran, dan semua bentuk duka cita atau rasa-rasa negatif. Dengan tangisnya, anak mengingatkan orang lain akan presensinya. Ia menuntut agar diperhatikan, ditemani, dipelihara, dirawat, (sthiti). "Oleh karena itu tangis merupakan alat pengekpresi kehadirannya kedunia dan sebagai pertanda bahwa bayi ingin selalu ditemani oleh orang tua dan pengasuhnya"

Makna tangis juga dijadikan "alat pemrotes" terhadap pengabaian, keteledoran, kelupaan, dan salah tidak dari orang tuanya. Jadi tangis itu dijadikan "alat pengekpresi perasaan dan kemauan bayi", juga sebagai "pengganti bahasa yang belum berkembang". Oleh karena itu bisa dipahami, mengapa bayi dan anak kecil itu suka menangis dalam mengung-kapakan perasaan dan kemauannya. Itulah sebabnya pada masa ini unsur empati besar sekali peranannya karena akan memberikan warna dasar pada kehidupan emosional anak selama-lamanya.

Kehidupan bayi dengan segenap tingkah lakunya itu menimbulkan emosi-emosi tertentu pada orang tuanya, misalnya rasa senang,-bahagia, puas, khawajjjr, takut, sedih, dan lain-lain. Juga ketidakberdayaan bayi itu menimbulkan appeal terhadap pengasuh atau oarang tuanya dalam bentuk pemeliharaan dan perlindungan. "Macam-macam tingkah laku disertai rasa kasih sayang, kelembutan, komfrort (kenikmatan, kesenangan), upaya menghibur, perlindungan, jaminan, kemanan, kontakmesra dan guarau bermain itu disebut sebagai "mothering" yang diterjemahkan dengan istilah menghidung" (Kartono, 1989:96).

Setiap bayi yang normal pasti akan mendambakan indungan dan kemesraan ibu segera setelah ia dilahirkan. Peristiwa ini merupakan kebutuhan primer dan kebutuhan maluriah, disamping kebutuhan vitalny untuk mendapatkan air susu ibu dan pemeliharaan. Oleh depodensi/ketergan-tungan dan ketidak berdayaan si bayi, juga disebabkan oleh banyaknya bahaya yang mengan-cam eksitensi bayi jika tidak dilindungi dan dibela oleh orang tuanya atua sunbstansi or¬ang tuanya, maka pada bayi itu timbul kebutuhan azasi untuk dicinta. Jadi, cinta itu merupakan kebutuhan mutlak bagi perkem-bangan anak manusia jika ia ingin hidup normal.

Berkaitan dengan unsur cinta tersebut, unsur-unsur keinginan, harapan, perasaan-perasaan (seperti rasa takut, rasa amari, benci, simpati, marah, lega hati, dan lain-lain) itu sudah ada sejak bayi masih berada dalam kandungan ibunya. Lambat laun, kehidupan perasaan bayi akan berkembang dan mengalami kematangan dengan semakin banyaknya pengalaman. Tangis misalnya, merupakan pencerminan dari emosi-emosi bayi yang negatif/ tidak menyenangkan.

Sebaliknya rasa-rasa nyaman, senang, akan dieks-presikan dengan wajah kepuasan, tidur nyenyak dan diam tenang. Karena itu kelahiran bayi hendaknya disambut dengan rasa cuka cita, dukungan, belaian, asuhan, perlindungan dan sentuhan mesra, sehingga menimbulkan rasa senang dan bahagia pada bayi. Kelahiran bayi ini, pada masyarakat hindu disambut dengan upacara mapag Rare dan runtutannya dengan maksud dan tujuan untuk membe-rikan panyangaskara agar bersih dan bernilai suci serta tetap berada dalam bimbingan serta lindungan Sang Hyang Widhi Wasa.

 

Source: Mi Putu Swardani l Warta Hindu Dharma NO. 540 Desember 2011