Manajemen Kreatif 'Yadnya'

Swami Satya Narayana menyatakan setiap upacara agama Hindu (agama Weda), ada lima unsur yang bersinergi membangun kesucian sebuah upacara. Lima unsur tersebut adalah Mantra, yaitu doa pujaan yang dijadikan pengantar upacara oleh Pandita ataupun Pinandita; Tantra, yaitu niat dan hasrat suci yang kuat; Yantra, yaitu simbol-simbol yang penuh arti; Yadnya, yaitu laksana yang didasarkan pada keikhlasan yang tulus untuk berkorban, dan Yoga, yaitu aktivitas dalam upaya tercapainya hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, antara manusia dengan sesamanya dan antara manusia dengan alam lingkungan.

Dari lima unsur itu, yang paling mudah terlihat secara visual adalah Yadnya. Yadnya berasal dari Bahasa Sansekerta dari akar kata "Yaj" yang artinya memuja. Secara etimologi pengertian Yadnya adalah persembahan suci secara tulus ikhlas dalam memuja Hyang Widhi. Sementara itu, banyak orang mengartikan bahwa Yadnya hanyalah upacara ritual keagamaan. Pemahaman tersebut tentu tidak terlalu salah karena upacara ritual keagamaan adalah bagian dari Yadnya. Namun pada dasarnya Yadnya bukanlah sekedar upacara keagamaan semata-mata, lebih dari itu segala aktivitas manusia dalam rangka sujud bhakti kepada hyang Widhi adalah juga Yadnya.

Di samping itu, umat Hindu meyakini Yadnya adalah penyangga dunia dan alam semesta, karena alam dan manusia, kita yakini diciptakan oleh Hyang Widhi melalui Yadnya secara evolusi. Pada masa srsti yaitu penciptaan alam Hyang Hidhi dalam kondisi wujud tanpa sifat (Nirguna Brahma) dan menjadikan Tuhan dalam wujud sifat Purusha dan Pradhana (Saguna Brahma).

Dari proses awal ini jelas bahwa awal penciptaan dilakukan dengan jalan Yadnya yaitu pengorbanan diri Hyang Widhi dari Nirguna Brahma menjadi Saguna Brahma. Dalam Bhagawadgita Bab III (Cloka 10) disebutkan "saha-yajoaaprajah sauttwa purowaca prajapatih; anena prasawiuyadham eua wo stw iuta-kama-dhuk" (dahulu kala Prajapati menciptakan manusia dengan yadnya bersabda, "dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk keinginanmu").

Dalam kehidupan keseharian umat Hindu, khususnya umat Hindu Bali, masyarakatnya dalam ber-Yadnya tidak terlepas dari adat istiadat di tempatnya masing-masing dengan segala keunikan dan kreatifitasnya, yang umumnya dilakukan dalam bentuk banten (upakara) dengan berbagai format dan bentuk yang bervariasi, namun dengan esensi yang tidak berbeda.

Masyarakat Hindu Bali sangat meyakini banten adalah syarat mutlak yang diperlukan agar pemujaan kepada Hyang Widhi dapat dilakukan sesempurna mungkin, meskipun dalam Bagawad Gita Sloka IX.26 dinyatakan "Patram puspam phalam toyam, yo me bhaktya prayacchati, tad aham bhaktya upahrtam, asnami prayatatmanah" (siapapun yang dengan sujud bhakti kepadaKu mempersembahkan sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah, seteguk air, Aku terima sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci).

Untuk sarana banten dan pelaksanaan upacara itu, terlihat sekali dipengaruhi oleh seni budaya masing-masing masyarakat setempat, seperti seni rias yang dipancarkan oleh bentuk banten, seni suara berupa kidung kakawin atau lagu-lagu pujaan, seni tari berupa seni sakral dan seni wali, seni tabuh berupa gamelan, serta tata cara berbusana upacara agama yang masing-masing daerah bisa berbeda. Dengan adanya seni budaya yang menunjang upakara, maka upacara tersebut menjadi begitu meriah dan memberikan rasa bahagia (hita). Harus dipahami pula, seni budaya tersebut sesungguhnya bukannya semata-mata seni, melainkan suatu seni yang mengandung makna simbolis tertentu dan membungkus ajaran tattwa agama.

Khusus Yadnya dalam bentuk banten dalam tradisi Hindu di Bali, sesungguhnya melewati perjalanan sejarah yang panjang. Di dalam kitab Yajur Weda dapat dijelaskan adanya persembahan yang dihaturkan kepada Dewa sebagai manifestasi dari Brahman. Sesuai dengan namanya sendiri bahwa Yajur Weda artinya pengetahuan yang digunakan untuk persembahan, maka dalam perwujudannya materi persembahan tersebut bisa kita lihat sekarang dalam bentuk tetandingan banten.

Memang dalam kitab Yajur Weda belum disebutkan binatang (satva) sebagai persembahan, tapi dalam konsepsi tantrayana yang juga berpengaruh di Bali, kita mengetahui adanya konsep Panca Tattwa terdiri atas Matsya (ikan), Mamsa (daging), Madhya (minuman), Maithuna (penyatuan pikiran atau samyoga), dan Mudra (sikap tangan yang mengandung kekuatan gaib), sebagai sarana memuja Tuhan. Ajaran tantra adalah ajaran yang sangat kompleks dan dalam, yang pada intinya mengajarkan suatu keharmonisan antara sekala dengan niskala atau wahya dan dhyatmika.

Di samping ajaran Weda dan Tantrayana, alam pikiran lokal juga melandasi adanya banten yang dikemas dalam simbol-simbol pengharapan manusia pada sesuatu dari Ida Hyang Widi. Adanya alam pikiran atau kearifan lokal (local genius) itu, lalu ditunjang oleh berbagai kreasi umat Hindu setempat sebagai perwujudan rasa indah dalam memuja Sang Hyang Widhi dan para arwah leluhur. Konsepsi Weda dan Tantrayana yang berasal dan India serta local genius sebagai budaya asal Indonesia, ketiganya terpadu dan luluh secara harmonis menjadi satu yang diwujudkan dalam bentuk-bentuk banten sekarang. Itulah sebabnya Yadnya dalam bentuk banten memancarkan nilai keindahan penuh makna simbolis dan sangat unik.

Nah, ketika banten disusun sedemikian rupa menjadilah ia sebuah candi banten, sekaligus sebagai sebuah persembahan (offering). Candi banten adalah tempat mensthanakan Tuhan Yang Maha Suci, sehingga banten benar-benar dijaga kesuciannya. Bahan-bahan terpilih tidak saja bersih tapi juga suci atau sukla. Demikian juga halnya dengan proses pembuatannya, ada proses manajemen di dalamnya, yaitu bagaimana dimulai dari perencanaan (planning), kemudian mengorganisasikan orang-orang yang terlibat (organizing), lalu menggerakan orang-orang untuk mengerjakan (actuating) dan melakukan pengawasan agar sesuai dengan yang direncanakan (controlling).

Jika ada suatu daerah kekurangan akan bahan atau malah kelebihan bahan, maka diperlukan kreasi dari sang wiku tarpini untuk memodifikasi bentuk dan format banten, tanpa mengurangi esensi. Disinilah diperlukan manajemen kreatif dalam membuat banten. Makanya jangan heran, masing-masing daerah bentuk dan format banten bisa berbeda akibat adanya kreatifitas.

Kreatifitas Yadnya itu umumnya bersifat luwes dan elastis, selain berlandaskan desa, kala dan patra, juga dapat dilaksanakan menurut tingkatan, yakni tingkat kanista (sederhana), madya (menengah) dan utama (mewah). Kanista berarti sesuatu yang menjadi prinsip di dalam Yadnya itu yang harus ada. Madya adalah pengembangan dari prinsip tersebut sehingga menjadi lebih besar dari kanista. Utama adalah pengembangan dan penambahan dari madya sehingga tampak menjadi lebih besar dari tingkatan madya. Apabila yang prinsip dasar sudah dilaksanakan, maka Yadnya itu sudah benar menurut ajaran agama Hindu.

Oleh: Prof. IB Raka Suardana
Source: Wartam, Edisi - 14 April 2016