Naga (Timah Hitam)
Timah hitam atau naga ini menurut mitos terjadi dari sukra Dewa Vasuki. Pada suatu hari Dewa Vasuki ini terangsang birahinya tatkala menyaksikan adik perempuannya Dewi Bhogi telanjang. Air maninya tumpah dan jatuh ke bumi. Sukra inilah yang berubah menjadi timah hitam atau naga.
Naga mempunyai kekuatan yang sama dengan vanga atau timah putih. Timah hitam ini dapat memberikan kekuatan sebanyak 100 kali kekuatan ular naga atau ular kobra. Oleh sebab itu, naga ini digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, sebagai ayusya (memperpanjang umur) pacana (merangsang pencernaan), mening-katkan vrsya (gairah seksual), dan menunda kematian jika digunakan secara tetap.
Bila digunakan tidak sesuai dengan aturan, logam naga dan vanga akan menyebabkan terjadi efek terbalik. Efeknya dapat berupa kustha (penyakit kulit, termasuk kusta), gulma (tumor), pandu (anemia, kurang darah), prameha (gangguan kencing), sopha (oedema yang disebabkan oleh unsur vatta) bhagandara (fistula, lubang luka di anus), svitra (bercak putih di kulit, leukoderma), sula (kolik, sakit menusuk-nusuk di perut), meningkatkan unsur kapha, menimbulkan para (demam), asmari (batu di saluran kencing), vidradhi (abses), mukharoga (luka di rongga mulut), arti (sakit seluruh tubuh), dan nitya abalatva (kelemahan yang cepat).
Ritika (Logam Genta)
Logam genta, logam lonceng, logam bel, atau ritika merupakan logam yang cocok digunakan sebagai bahan pembuat genta karena menyebabkan bunyi genta tersebut amat nyaring jika dipukul. Logam genta terdiri dua macam, yakni ritika dan kakatundi. Untuk menguji jenis logam ini digunakan api dan cuka. Jika logam ini dipanaskan dan kemudian dicelupkan ke dalam cuka (kanji) warnanya berubah menjadi merah tembaga, maka logam ini termasuk jenis ritika. Bila warnanya berubah menjadi hitam, disebut kakatundi.
Ritika yang berwarna kuning memiliki potensi guru virya (berat) dan snigdha virya (lembut). Guna yang dikandungnya ialah snigdha guna dan slaksha guna (licin). Selain itu, logam ini mempunyai sifat spharangi dan trotanaksama, yakni menyilaukan dan sukar dipecah sehingga merupakan bahan yang baik untuk ramuan obat.
Ada pula ramuan dengan logam ritika yang khasiatnya jelek, terutama yang bersifat stabdha (kompak, padat), khara (kasar), berwarna sukla (putih) atau hingala (amat merah), ghanasana (tak tahan tekanan), putaga (memiliki lapisan), dan mala (tidak murni). Kedua jenis logam ini, ritika dan kakatundi, memiliki sukma guna (halus), tikta rasa (pahit), dan lavana rasa (asin). Logam ini dapat dimanfaatkan untuk pembersih pembuluh darah atau alat pencernaan, menyembuhkan penyakit pandu (anemia, kurang darah), dan Armz'(cacingan, infeksi parasit).
Kamsya (Kuningan)
Kuningan atau kamsya memiliki kasaya rasa (sepet), tikta rasa (pahit), dan ruksha guna (kenyal) yang didominasi oleh bhuta perthivi, teja dan vayu, serta guru guna (berat) yang di dominasi oleh bhuta perthivi dan apah. Selain itu, logam ini mempunyai pula potensi usna virya (panas), bersifat lekhana (mengikis), dan visada (racun).
Logam ini dapat digunakan sebagai bahan ramuan obat untuk virecham (pencahar), caksurya (mempertajam penglihatan), dan menurunkan unsur kapha dan pitta. Loha (Besi). Terjadinya besi atau loha memiliki kisah tersendiri pula. Menurut cerita dalam Ayurveda, besi itu keluar dari mayat tubuh Lomila Daitya, salah seorang dari kelompok Deitya atau Raksasa, yang terbunuh ketika berperang melawan para Dewa.
Dalam loha terkandung tikta rasa (pahit), kasaya rasa (sepet), dan svadu rasa (manis), serta memiliki guru guna (berat,kenal), snigdha guna (lembut). Besi mempunyai sifat saurnya, yakni mendinginkan. Loha dapat dimanfaatkan sebagai virecham (pencahar), untuk ayusya atau vayasya (memperpanjang umur), caksurya (mempertajam penglihatan), meningkatkan unsur vatta, menurunkan unsur kapha serta vitta, menyembuhkan gara (keracunan), sula (kolik), sopha (oedema), arsa (benjolan di anus, ambeien), plihan (gangguan pada limpa, lien), panduta (anemia), meda (kelebihan lemak), meha (gangguan kencing), krmi (cacing, infeksi parsit), dan kustha (gangguan pada kulit).
Loha yang guruta (berat), drdhata (kokoh), utkleda (menebal), asmala (kotor), dahakarita (menghasilkan rasa terbakar), sudurgandha (bau busuk) tidak baik digunakan sebagai bahan ramuan obat. Bila dilakukan cara pengobatan yang salah dengan bahan loha ini, akan menyebabkan sandata (impoten), kustha (penyakit kulit), hrdroga (sakit jantung), sula (kolik), asmari (batu dalam saluran kencing), meningkatkan sakit dan hrllasa (nek, mau muntah), malahan dapat menyebabkan mrtyu (mati).
Orang yang sedang melakukan pengobatan dengan menggunakan bahan ramuan loha dilarang minum alkohol (madya) dan makan makanan yang rasanya masam (amla). Menurut Ayurveda ada beberapa macam atau jenis logam besi yang dapat digunakan sebagai bahan obat, yakni sebagai berikut:
1. Sara Loha
Logam besi jenis ini merupakan logam besi terbaik untuk digunakan sebagai bahan ramuan obat. Sara loha ini memiliki ksamabhrt (tahan tekanan) dan berbentuk Sikharakara (bentuk lonjong), Jika logam ini dicampur dengan cairan yang rasanya masam, akan menimbulkan partikel kecil seperti debu.
Sara loha berkhasiat segera menyembuhkan graliani (gejala sto-matitis, sariawan, jampi), atisara (mencret), meningkatkan setengah unsur vatta tubuh, parinamaja sula (kolik atau sakit perut menusuk -nusuk tatkala sedang terjadi proses pencernaan), chardi (muntah), pinasa (pilek atau rintis kronik), meningkatkan unsur pitta dan svasa (sesak nafas).
2. Kanta Loha
Jika air yang berada di dalam panci yang terbuat dari kanta loha ditetesi dengan minyak, minyak tersebut akan menyebar. Hingu (asafoetida) akan kehilangan bau busuknya dan pasta dari nimba akan kehilangan rasa pahitnya bila ditaruh dalam panci yang terbuat dari kanta loha ini. Bila susu dimasak dalam panci ini dan setelah itu susu dibuat bentuknya seperti tumpeng, tidak akan jatuh. Canakamla akan menjadi hitam kalau ditaruh dalam panci yang bahannya terbuat dari kanta loha.
Besi jenis kanta loha ini dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit gulma (benjolan), udara (gangguan pada perut, asites), arsa (ambeien), sula (kolik), amavata (rematik), bhagandara (fistula pada anus, luka di dubur), kamala (sakit jantung), sopha (oedema), kustha (penyakit kulit), ksaya (bergizi), ruk (sakit). Logam jenis ini dapat pula dimanfaatkan sebagai ahara atau untuk konsumsi bagi tubuh, meningkatkan bala (kekuatan), dan stabilitas tubuh. Selain itu, logam ini digunakan juga sebagai penolong mendewasakan anak, menambah darah (rakta), mengobati pliha (sakit di lien, limpa), amla pitta (keasaman lambung), dan si roruk (sirah-ruk = sakit kepala).
3. Loha Kitta
Loha kitta adalah karat besi yang umurnya seratus tahun lebih. Karat besi yang demikian ini merupakan bahan ramuan obat yang paling baik. Bila umur karat besi ini kurang dari 80 tahun, akan menjadi racun . Loha kitta amat berkhasiat bila digunakan sebagai obat panduta (anemia), kurang darah).
Dhatu atau upadhatu, logam dan mineral, menurut Ayurveda dapat digunakan sebagai bahan ramuan obat setelah melalui proses pengolahan. Tanpa diolah logam dan mineral ini akan menjadi racun di dalam tubuh. Setelah diolah menjadi bhasma, maka logam dan mineral ini amat bermanfaat untuk berbagai penyakit. Swarna atau emas dapat digunakan untuk meningkat¬kan nafsu seksual (vrsya), meningkatkan kekuatan (bala), dan untuk awet muda (rasayana). Logam perak (tara) berguna untuk pencahar (virecham), menahan proses menua (rasayana), serta untuk berbagai penyakit parameha (gangguan kencing). Logam tembaga (tamra) memberikan efek bhrama (pusing), murccha (pingsan), muntah (vanti), dan berbagai manfaat lainnya. Demikian pula timah, kuningan, dan besi memiliki khasiat berbeda - beda yang amat dibutuhkan oleh tubuh.
Oleh: N Pratiska
Source: Warta Hindu Dharma NO. 539 Nopember 2011