Mata Uang Majapahit

Trowulan, sebagai salah satu kota kuno masa klasik, memiliki peninggalan mata uang yang merupakan salah satu bukti adanya sistem moneter dan hubungan perdagangan dengan bangsa lain. Mata uang yang ditemukan selain dari mata uang lokal (kepeng) adalah banyaknya mata uang Cina. Hingga saat ini temuan mata uang Cina yang berhasil diselamatkan di Balai Pelestarian Purbakala Trowulan sebanyak 34.175 keping koin Cina, baik dalam kondisi utuh maupun pecah atau telah mengalami patinasi. Banyaknya mata uang logam Cina yang ditemukan di situs Trowulan menunjukkan perdagangan Majapahit dan Cina yang cukup intens, bahkan, disinyalir telah mengakibatkan persediaan mata uang di Cina mengalami penyusutan. Ditemukannya benda-benda yang sangat erat kaitannya dengan mata uang seperti mata uang Cina, mata uang lokal, anak timbangan, cetakan mata uang serta celengan untuk menabung, merupakan bukti padatnya transaksi perdagangan masa itu.

Kajian tentang mata uang Cina di Trowulan sampai pada kesimpulan bahwa mata uang sebagai alat tukar yang beredar di kota Majapahit ternyata berasal dari beberapa jaman. Pedagang-pedagang asing dari India dan Cina ketika mengadakan transaksi dagang dengan penduduk lokal menggunakan mata uang yang dibawa dari negerinya masing-masing. Akibatnya banyak mata uang asing dari berbagai negara beredar di kepualauan Indonesia. Hubungan dagang ini lambat laun mendatangkan inspirasi bagi penduduk lokal atau penguasa kerajaan di Jawa untuk membuat mata uang sendiri.

Bagaimana hubungan antara Cina dan Asia Tenggara yang secara tradisional disebut Nanyang (artinya 'Laut Selatan'), tampaknya telah terjadi dari masa yang sangat tua. Diperkirakan hubungan antara Cina dan Indonesia itu telah terjadi sejak abad V dan mengalami peningkatan yang signifikan pada abad XIII ketika Majapahit mengalami kejayaannya. Lajunya pertumbuhan perdagangan tersebut selain karena Majapahit mampu menyediakan bermacam-macam komoditi yang dibutuhkan, juga disebabkan kondisi perekonomian serta politik dan keamanan di Cina sendiri yang makin kondusif. Kronik-kronik Cina merinci komoditi ekspor dari kepulauan Indonesia, khususnya Jawa, yang membuat pedagang-pedagang asing datang antara lain cengkeh, pala, merica, kayu cendana, gaharu, kapur barus, kapas, garam, gula, gading gajah, cula badak, dan lain-lain.

Adapun barang-barang impor untuk konsumsi di Jawa yajjoj utama adalah sutera, kain brokat wan I warni, dan keramik. Bagi kebanyakan orang, mata uang logam lokal dikenal dengan istilah uang gobog, dibuat bukan hanya dari tembaga melainkan juga logam timah, kuningan, dan perunggu. Berdasarkan jenis bahan, mata uang lokal yang berkembang sejak abad IX dapat dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu : (1) mata uang emas; (2) mata uang perak; (3) mata uang tembaga; dan (4) mata uang besi. Satuan mata uang Jawa dari bahan emas diurutkan dari satuan yang terbesar hingga terkecil yaitu; kati (disingkat ka), suwarna (su), masa (ma), knpang (ku), dan satak (sa). Semua mata uang tersebut menunjukkan ukuran berat benda (nilai intrinsik).

Mata uang gobog memiliki satuan nilai yang amat rendah dibandingkan dengan uang perak atau emas, tetapi nilainya masih lebih tinggi sedikit daripada uang timah. Perbandingan antara uang gobog dengan uang-uang yang beredar di Jawa lainnya antara lain : 1 gobog = 5 keteng; 1 derham perak = 400 gobog dan 1 derham emas = 4000 gobog. Pada kedua sisi mata uang gobog terdapat relief manusia yang umumnya adalah tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan.

Mata uang logam Cina disebut pisis atau kepeng, di negeri asalnya Cina disebut qian. Dari hasil analisis destruktif diketahui bahwa unsur penyusun logam mata uang Cina termasuk dalam kelompok 'binary al-loys', yaitu suatu campuran logam vang terdiri dari 2 jenis logam; tembaga dan timah putih sebagai unsur pokoknya. Selain unsur logam pokok tersebut, ada unsur tambahan lain yaitu timah hitam, seng, dan besi. Terdapat dua cara pembacaan legenda pada koin Cina, yaitu : (1) atas-kanan-bawah-kiri atau searah jarum jam; (2) atas-bawah-kanan-Sementara gaya tulisan yang telah dikenali adalah; (1) Zhuan Shu (seal script style) yaitu gaya tulisan melengkung; (2) Li Shu (plain script style) yaitu gaya tulisan persegi; (3) Kai Shu (regular script style) yaitu gaya tulisan baku; (4) Hsing Shu (running script style) yaitu gaya tulisan sambung; (5) Ts'ao Shu (cursive script style) yaitu gaya tulisan miring.

Dilihat dari bentuknya, pembuatan mata uang logam Cina dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan, yaitu teknik cetak (casting) dan teknik tempa (striking). Teknik cetak yang telah dikenal dalam seni penuangan logam sejak akhir abad V, dilakukan dengan cara menuangkan logam cair ke dalam cetakan setangkup (bivalve mould). Cetakan ini terdiri dari beberapa jumlah mata uang yang dihubungkan dengan saluran untuk mengalirkan logam cair. Setelah logam mendingin dan cetakannya dibuka, maka akan tampak hasil cetakan mata uang logam yang memiliki semacam 'cabang-cabang' dan sering dinamakan 'pohon uang'.

Selain teknik cetak, pembuatan uang logam juga dilakukan dengan teknik tempa dengan cara menempa lembaran logam yang masih polos (blank), yang diletakkan di antara dua kepala cetak (lower die dan upper die). Cara ini biasa disebut dengan hammered coinage. Selanjutnya upper die dihantam dengan palu (menggunakan tenaga manusia). Hasilnya adalah mata uang logam bergambar atau bertulisan tercetak pada satu atau dua sisi. Cara lain yang dikenal adalah dengan milled coinage dimana mata uang logam tidak dihantam dengan tenaga manusia tetapi dengan mesin, sehingga menjadi lebih rapi dan teratur. Kedua cara ini dilakukan dengan teknik tempa dingin maupun tempa panas.

Dari penelitian, mata uang logam Cina yang ditemukan di Trowulan sebagian besar berasal dari Song Utara (960-1127) dengan legenda Yuanfeng Tongbao (1078-1085) yang diterbitkan oleh kaisar Shen Tsung (1067-1085). Selain sebagai alat pembayaran dalam jual beli barang, mata uang kepeng juga digunakan untuk membayar utang piutang, gadai tebus tanah, denda akibat pelanggaran hukum serta digunakan sebagai benda sesaji, bekal kubur, dan amulet atau jimat.

Di dalam buku Ying-yai-Sheng-lan atau "Laporan Umum Tentang Pantai-pantai Lautan" yang diterbitkan dalam tahun 1416 oleh Ma-Huan, dikatakan bahwa orang-orang Cina yang tinggal di Kerajaan Majapahit berasal dari Canton, Chang-chou, dan Ch'uan-chu. Mereka kebanyakan bermukim di Tuban dan Gresik menjadi orang kaya di sana. Tidak sedikit penduduk pribumi yang menjadi orang kaya dan terpandang. Dalam transaksi perdagangan, penduduk setempat menggunakan kepeng Cina dari berbagai dinasti. Artinya bahwa penduduk pribumi tidak mengerti tulisan Cina yang tertera pada -kepeng itu sehingga mau menerima uang Cina dari dinasti manapun (Dinasti Tang, Song, Yuan) yang mungkin sudah tidak berlaku lagi di negeri asalnya.

Source: Trigangga l Warta Hindu Dharma NO. 489 September 2007