Mengapa memaafkan menjadi hal yang esensial pada momen Dharma Santi? Hal ini disebabkan karena untuk menggapai suasana damai (santi) salah satu jalan yang wajib dilakoni adalah dengan memaafkan. Bagaimana tidak! Sebab suasana damai tidak akan pernah terwujud bila masih ada dendam diantara kita, masih ada sekat pemisah hati kita, masih ada ketidakharmonisan diantara kita, singkatnya sebagaimana sebuah syair lagu menyatakan "jangan ada dusta diantara kita". Klise memang! Tapi sudah menjadi kenyataan sangat sedikit orang mampu untuk mewujudkannya dalam perbuatan, lebih banyak orang hanya mampu mewacanakannya saja. Sepertinya sudah bagaikan suratan takdir, bahwa memaafkan itu sangat mudah diucapkan tapi tidak mudah untuk dilaksanakan. Untuk dapat melaksanakanya tentu butuh pengorbanan dan keteguhan hati, berbicara tentang pengorbanan sudah pasti sedikit orang yang rela sebab trend di jaman kali atau di jaman edan ini orang cenderung berfikir pragmatis salah satu bentuknya yaitu bagaimana cara untuk mendapatkan sesuatu bukan untuk berkorban/memberi. Tetapi hal ini tetaplah merupakan suatu keniscayaan untuk dilakukan, diibaratkan sebagaimana bencana angin topan, hanya akan menyisakan pohon-pohon pilihan yang mengakar kuat dan kokoh, begitu juga dengan perilaku memaafkan hanya akan mampu dilakukan oleh orang-orang pilihan yang telah rela mengorbankan egonya dan rasa keakuannya.
Dengan tidak mudahnya , memaafkan itu, pertanyannya adalah bagaimana caranya agar menjadi mudah? Untuk menjawab pertanyan ini ada baiknya kita merenungi lalu mengamalkan wejangan Satya Narayana yaitu sebagai berikut: "Anggaplah selalu kesalahan dan kekurangan orang lain betapa pun seriusnya sebagai hal yang remeh dan tidak berarti. Pandanglah selalu kesalahan dan kekuranganmu sendiri, betapapun remeh dan tidak berarti sebagai hal yang serius. Kesalahan dan sifat burukmu ini harus membuat engkau merasa sedih dan sangat menyesal".
Mencermati wejangan di atas, jelaslah bahwa dengan menganggap remeh dan tidak berartinya setiap kesalahan orang lain terhadap diri kita, maka kita akan dengan begitu mudahnya memaafkan kesalahan orang lain tersebut, karena sudah terpatri di hati sanubari kita, satu pemahaman bahwa semua kesalahan itu sesungguhnya tidak berpengaruh apa-apa buat kita. Sebaliknya di lain sisi justru kita termotivasi untuk berbuat baik, sebab setiap kesalahan dari kita termasuk ketidak mampuan kita itu, sehingga dengan demikian segala macam bentuk tantangan dan rintangan di dalam mewujudkan sikap memaafkan itu akan. tereliminasi dengan sendirinya, dan pada akhirnya memaafkan itu akan mengalir secara tulus ikhlas tanpa pretensi apapun dibaliknya.
Tentang bagaimana caranya agar kita dapat dengan mudah memanfaatkan kesalahan orang lain juga diungkap oleh salah seorang motivator yaitu Andrie Wongso, ia mengilustrasikan dalam sebuah cerita pada web site Pembelajar.com, yaitu sebagai berikut: Di pesisir sebuah pantai, tampak dua anak sedang berlari-lari, bercanda, dan bermain dengan riang gembira. Tiba-tiba, terdengar pertengkaran sengit di antara mereka. Salah seorang anak yang bertubuh lebih besar memukul temannya sehingga wajahnya menjadi biru lebam. Anak yang dipukul seketika diam terpaku. Lalu, dengan mata berkaca-kaca dan raut muka menahan marah menahan sakit, tanpa berbicara sepatah kata pun, dia menulis dengan sebatang tongkat di atas pasir: "Hari ini temanku telah memkul aku!!!". Teman yang lebih besar merasa tidak enak, tersipu malu tetapi tidak pula berkata apa-apa. Setelah berdiam-diam beberapa saat, ya ... dasar anak-anak, mereka segera kembali bermain bersama. Saat lari berkerjaran, karena tiada berhati-hati, tiba-tiba anak yang dipukul tadi terjerumus ke dalam lubang perangkap yang dipakai menangkap binatang. "Aduh ....Tolong....Tolong!" ia berteriak kaget minta tolong. Temannya segera menengok ke dalam lubang dan berseru. "Teman, apakah engkau terluka? Jangan takut, tunggu sebentar, aku akan segera mencari tali untuk menolongmu." Bergegas anak itu berlari mencari tali. Saat dia kembali, dia berteriak lagi menenangkan sambil mengikat tali ke sebatang pohon. "Teman, aku sudah datang! Talinya akan kuikat di pohon, sisanya akan ku lemparkan ke kamu. Tangkap dan ikatkan di pinggangmu, pegang eraterat, aku akan menarikmu keluar dari lubang." Dengan susah payah, akhirnya teman kecil itu pun berhasil dikeluarkan dari lubang dengan selamat. Sekali lagi, dengan mata berkaca-kaca, dia berkata, "Terimakasih sobat!" Kemudian,dia bergegas berlari mencari sebuah batu karang dan berusaha menulis di atas batu itu, "Hari ini, temanku telah menyelamatkan aku." Temannya yang diam-diam mengikuti dari belakang bertanya keheranan, "mengapa setalah aku memukulmu, kamu menulis di atas pasir dan setelah aku menyelamatkanmu, kamu menulis ditas batu?" Anak yang dipukul itu menjawab sabar, "Setelah kamu memukul, aku menulis di atas pasir karena kemarahan dan kebencianku terhadap perbuatan buruk yang kamu berbuat, ingin segera aku hapus, seperti tulisan di atas pasir yang akan segera terhapus bersama tiupan angin dan sapuan ombak." "Tapi. ketika kamu menyelamatkan aku, aku menulis di atas batu, karena perbuatan baikmu itu pantas dikenang dan akan terpatri selamanya di dalam hatiku, sekali lagi, terima kasih sobat."
Dari ilustrasi cerita di atas, dapatlah dipetik sebuah hikmah bahwa yang seharusnya diingat dari orang lain itu hanyalah kebaikannya saja, adapun keburukannya yang pernah ia lakukan terhadap kita, seyogyanyalah segera dilupakan. Dengan demikian sudah dapat dipastikan tidak ada memori buruk yang tersimpan di hati dan pikiran kita tentang orang lain, sehingga memaafkan orang lain dapat dipastikan akan menjadi sebuah keniscayaan untuk mudah dilakukan.
Source: I Gede Sudarsana l Warta Hindu Dharma NO. 520 April 2010