Ketika para raja dan pengikutnya dari Karangasem menyeberang ke Lombok, mereka tidak lupa membawa lontar-lontar, selain keris dan pekakas lainnya. Kemudian tentara Belanda datang. Diplomasi kata-kata ternyata gagal. Maka diplomasi kemudian menggunakan senjata. Belanda menyerang Cakranegara, basis kerajaan orang-orang Karangasem itu. Menurut catatan sejarah, perang pengetahuan dan senjata itu, secara fisik dimenangkan oleh Belanda. Salah satu bukti kemenangan fisik itu, lontar-lontar Bali yang ada di sana dirampas.
Setelah berpindah tangan, maka dengan kapal laut lontar-lontar itu kemudian diangkut ke Batavia melalui Soerabaja. Dari Batavia lontar-lontar itu kemudian diberangkatkan juga dengan kapal laut menuju negeri yang ribuan mil jauhnya di belahan utara planet bumi, Belanda. Sesampainya di Belanda, lontar-lontar itu kemudian menunggu diproses. Salah satu proses yang dialami lontar-lontar itu adalah pencatatan, penomoran, pengukuran, dan pengkatalogan.
Segera setelah katalog itu jadi dan diterbitkan, lontar-lontar itu akhirnya masuk ke dalam sebuah ruangan besar. Di ruangan besar itu, lontar-lontar itu bergabung dengan lontar-lontar lain yang sudah terlebih dahulu menjadi penghuni ruang penyimpanan koleksi perpustakaan itu. Perpustakaan itu adalah bagian dari sebuah universitas tua, bernama Universitas Leiden. Dari catatan Katalog itu bisa diketahui bahwa ratusan jumlah lontar-lontar rampasan dari Cakranegara itu.
Bila lontar-lontar itu akhirnya menjadi penghuni perpustakaan besar, maka keris-keris dan senjata lainnya menjadi penghuni museum-museum tua. Perpustakaan atau museum, pada prinsipnya sama-sama tempat penyimpanan. Baik lontar maupun keris akhirnya sama-sama disebut koleksi. Dalam bahasa sekarang, koleksi adalah asset. Pustaka dan Pusaka.
Begitulah salah satu kisah perjalanan sebagian dari lontar-lontar Karangasem yang diseberangkan ke Lombok dan kemudian menyeberang lagi ke Batavia, dan terakhir menyeberang ke Belanda. Tak beda dengan kisah para tawanan perang yang pindah dari satu camp ke camp yang lain. Tak beda pula dengan kisah barang komoditi yang dikemas dengan baik, karena memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan.
Meskipun jumlahnya ratusan, lontar-lontar itu sesungguhnya barulah sebagian kecil dari jumlah lontar-lontar Karangasem yang menyebar di Lombok. Karena pada jaman itu, selain lontar milik raja dan keluarga raja, di Lombok juga banyak tersimpan dan tersebar lontar-lontar milik para pedanda dan keluarganya. Lontar-lontar yang disebut terakhir ini ”selamat” dari perampasan dalam perang. Tentang lontar ini, akan kita bicarakan pada tulisan tersendiri.
Termasuk di Bali dan Lombok, ada pandangan bahwa lontar adalah pustaka, dan keris adalah pusaka. Pustaka bukan sekadar bacaan. Pusaka tidak sekadar senjata. Keduanya dikerahmatkan dan disucikan karena dipandang sebagai sumber kuasa, baik kuasa berupa ilmu pengetahuan maupun kuasa berupa kewenangan mengatur kehidupan orang banyak.
Ketika Belanda datang, ternyata mereka tidak datang dengan tangan kosong. Mereka juga memiliki ”pustaka” dan ”pusaka” yang berbeda bentuk dan fungsinya. Dalam sebuah perang, yang bertanding sejatinya bukan sekadar manusia melawan manusia, tapi pengetahuan melawan pengetahuan, dan senjata melawan senjata. Menurut catatan sejarah, Belanda menang. Pustaka dan pusaka dirampas. Bukan hanya itu. Kewenangan mengatur rakyat dan menata negeri diambil alihnya.
Tapi ada ”sesuatu” yang tidak berhasil dirampas oleh Belanda, yaitu jiwa yang menyebabkan pustaka dan pusaka itu ada. Jiwa itu abstrak, dan bisa dirasakan dalam bentuk semangat. Ternyata semangat mengadakan pustaka dan pusaka tidak mati oleh perang. Setelah perang itu berlalu, pustaka dan pusaka itu diadakan kembali. Jadi dalam dunia pustaka dan pusaka, juga berlaku pepatah ”hilang satu tumbuh seribu”.
Tapi permasalahannya sejatinya bukan di sana. Bukan pada pengadaan dan penyebarannya. Tapi belajar dari sejarah ”kekalahan” di masa lalu, akankah pustaka dan pusaka kita kalah lagi dalam menghadapi ”serangan” dunia yang sekarang berubah cepat seperti siluman ini?
Dengan pertanyaan ini saya tidak mengajak orang-orang kembali terjebak dalam teori-teori kebudayaan. Tapi hanya satu kata kunci, yaitu baca! Baca-bacalah pustaka shastra, simak-simaklah pustaka hati. Karena ingat dan lupa ada di hati. Nasi putih sekepal sudah cukup!
Oleh: IBM Dharma Palguna
Source: Koran Balipost – Minggu, 08 Agustus 2010