Meme-Bapa dalam Tradisi Hindu: Kasih Yang Terlupakan [2]

(Sebelumnya)

Perkembangan prakrti dari yang satu menjadi yang banyak itu adalah prakrti memberikan bentuk, suatu transformasi, bukan suatu perubahan tempat. Prakrti dalam Bhagavadgita, VII :4 dijelaskan terdiri atas tanah, air, api, udara, ether, pikiran, bhudi, dan ego merupakan delapan unsur alam-Ku yang terpisah. Dalam Bhagavadgita, VII:5 dijelaskan bahwa inilah prakrti-Ku yang lebih rendah, tetapi berbeda dengannya ketahuilah prakrti-Ku. Unsur hidup, yaitu jiwa yang mendukung alam semesta ini. Selanjutnya, dalam Bhagavadgita, VII:6 dijelaskan bahwa ketahuilah bahwa keduanya ini merupakan kandungan dari semua makhluk; dan aku adalah asal mula dam leburnya alam semesta ini. Dari tiga sloka ini dapat diketahui bahwa prakrti adalah alam semesta itu sendiri yang berkesadaran penuh yang bertindak atas nama karma kosmis dan manusia menerimanya sebagai takdir atau nasib.

Demikian juga perubahan itu tidak hanya terjadi dalam saru jurusan saja, melainkan dalam banyak jurusan. Perkembangan prakrti terjadi secara berkala, yakni ada masa perkembangan dan masa peleburan. Pada masa peleburan itu seluruh keanekaragaman alam semesta ini menjadi terpendam atau ditidurkan di dalam prakrti .Perputaran ini, perkembangan dan peleburan, tidak ada batasnya. Oleh karena itu manusia melupakan waktu, lupa kepada meme-bapa, lupa akan hakikat dirinya yang sejati, dan hanya mendapatkan dirinya berputar dalam roda kelahiran terus - menerus dan berulang - ulang, punarbhawa dan samsara.

Sejalan dengan pemikiran Sankhya, Parmenides dan Empedokles berpendapat bahwa di dalam alam semesta tiada sesuatu pun yang dilahirkan sebagai hal yang baru dan dapat dibinasakan sehingga tiada lagi. Pemikiran ini sejalan dengan pemikiran yang berkembang dalam Mimamsa bahwa tindakan tidak dapat menciptakan realitas, tetapi hanya, memodifikasinya menjadi segala keberadaan. Dengan prinsip aktivitas ini alam berkembang dan memper¬tahankan eksistensinya melalui berbagai persembahan (yadnya), kerja, dan dharma. Empedokles menyatakan bahwa bentuk kenyataan yang bermacam-macam itu hanya disebabkan karena penggabungan dan pemisahan keempat anasir (air, api, udara, dan tanah) yang disebut rizomata.

Perbedaan-perbedaan yang ada dia antara segala realitas disebabkan karena campuran atau penggabungan keempat anasir tadi yang berbeda-beda. Proses penggabungan dan pemisahan anasir-anasir itu diatur oleh dua kekuatan yang saling berlawanan, cinta (filotes) dan benci (neikos). Cinta mempunyai sifat menggabungkan , sedangkan benci menceraikan. Ia memandang keduanya sebagai cairan yang halus yang meresapi semua benda. Dengan demikian segala sesuatu dipandang sebagai bersifat bendani.

Pemikiran ini, juga sejalan dengan argumentasi Herakleitos tentang filsafat "menjadi". Dikatakan bahwa tidak ada sesuatupun yang betul-betul berada sebab semuanya "menjadi". Yang ada adalah "menjadi". Segala sesuatu yang ada bergerak secara terus-menerus, bergerak secara abadi. Perubahan yang terjadi tiada henti. Seluruh kenyataan adalah arus sungai dan orang tidak mungkin turun dua kali dalam arus sungai yang sama. Dikatakan bahwa hal yang menjadi ini terjadi dalam pertentangan atau perlawanan sehingga tiap benda terdiri atas hal-hal yang saling bertentangan dan perlawanan, tetapi segala sesuatu mewujudkan kesatuan.

Dunia adalah sesuatu harmoni yang besar dalam ketegangan dan perlawanan. Segala sesuatu adalah sintes dari hal-hal yang saling bertentangan. Perlawanan dan pertentangan itulah justru keadilan. Yang satu itu adalah banyak, sedangkan yang banyak itu adalah satu. Hukum keseimbangan akan mengembalikan pertentangan dalam keselarasan. Dengan demikian yang sama adalah perlawanan. Yang hidup setelah berubah menjadi mati sebaliknya, yang mati setelah berubah menjadi hidup. Sementara itu, dalam Sang Hyang Tattwa Jnana dijelaskan sebagai berikut:

(1) Cetana dan Acetana adalah dua asas purba. Adanya sama halus, sama sukma, dan abadi. Cetana adalah Siwa Tattwa. Ia adalah jnana, yaitu asas yang tahu dan sadar abadi. Sebaliknya Acetana adalah Maya Tattwa. Asas yang bersifat lupa dan berwujud hampa.

(2) Siwa Tattwa dibedakan menjadi tiga, yaitu Paramasiwa Tattwa, Sadaciwa Tattwa, dan Atmika Tattwa, Paramasiwa Tattwa adalah keberadaan bhatara Siwa di niskala. Ia adalah kesadaran yang langgeng, sempurna, tak bernoda, bebas dari ruang dan waktu, bebas nilai, tak terpikirkan, dan tak terlukiskan. Sadasiwa Tattwa adalah Bhatara Siwa yang wyapara, yaitu kesadaran Siwa yang aktif, serba tahu, dan serba kerja, ia berstana pada Padmasana yang tiada lain adalah Cadusakti-Nya, antara lain Jnanasakti (mahatahu), Kriyasakti (mahakarya), Wibhusakti (maha-sempurna), dan Prabhusakti (Mahakuasa); Sedangkan Atmika Tattwa adalah Bhatara Siwa yangutaprota, yaitu kesadaran yang laksananya menyusup-menguntai, memancar memberi kesadaran kepada Maya Tattwa. Ia yang laksananya menjadi jiwa segala ciptaan. Dalam hal ini ia dan laksananya, dianalogkan sebagai matahari dan sinarnya. Matahari diam abadi, langgeng tak ternoda, tetapi sinar yang memancar memberi sinar dan energi, baur menyusup dalam segala rupa-warna ciptaan. Adanya pada ciptaan sebagai adanya api dalam kayu.

(3) Bhatara Mahulun yang tidak lain adalah Bhatara Sadasiwa berkehendak menyaksikan segala ciptaan. Oleh karena itu, Ia mempertemukan Sang Hyang Atma dengan Pradhana Tattwa, anaknya Maya Tattwa. Sang Hyang Atma adalah Purusa, yaitu perwujudan dari asas yang sadar (tutur) dipertemukan dengan Pradhana Tattwa, yaitu perwujudan dari asas yang alpa (lupa). Dari perkawinan kosmis Purusa Pradhana tersebut lahirlah citta dan guna. Pradhana tersebut lahirlah citta dan guna.

(4) Citta adalah wujud kasar dari Purusa, sedangkan guna adalah wujud kasar dari Pradhana Tattwa. Ada tiga jenis guna, yaitu sattzva, rajah, dan tamah. Ketiga guna inilah di jadikan sifat oleh citta. Oleh karena itu ada yang disebut citta sattwa, citta rajah, dan citta tamah.

(a) ciri-ciri citta sattwa, antara lain pandai, bijaksana, asusila, setia,bakti, jujur, penuh kasih sayang, tidak sedih bila ditimpa penderitaan, tidak senang bila mendapat kesukaan;
(b) Ciri - ciri citta rajah antara lain aktif, egois, cepat bangga, irihati, cepat tersinggung, gampang marah, suka memaksa, usil, suka mengagung- agungkan diri, loba, licik, bengis;
(c) Ciri - ciri citta tamah antara lain malas, kumal, senang makan, penidur, bodoh, penghayal, nafsu besar, suka irihati. Kelekatan citta pada guna inilah yang menyebabkan Atma mengalami tumbal lahir.

(5) Dari kelekatan pertemuan citta dengan guna lahirlah buddhi, yaitu wujud kasar dari triguna yang diberi kesadaran oleh citta. Sifat buddhi antara lain tidak tetap pendirian, berkepribadian mendua: sadar tak sadar, tahu tak tahu, baik tidak baik.

(6) Dari buddhi lahirlah ahangkara, yaitu wujud kasar buddhi akibat buddhi berkesadaran aku. Ia adalah kesadaran yang menyatakan sesuatu itu ada atau tidak ada, kesadaran yang melaksanakan aktivitas baik - buruk, dan kesadaran yang mengaku serba milik. Ada tiga ahangkara, yaitu ahangkara si waikreta, si taijasa dan si bhutadi.

(7) Aktivitas ahangkara si taijasa adalah menciptakan manah (pikiran); panca buddhindriya (lima indra persepsi), yaitu indra pada mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit; dan panca karmendriya (lima indra pekerja), yaitu indra pada mulut, tangan, kaki, alat kelamin, da anus. Ahangkara si bhutadi adalah menciptakan panca tanmatra dan panca mahabhuta. Panca tanmatra yaitu lima unsur halus (matra) dari suara, udara, teja, rasa, dan bau. Akan tetapi panca mahabhuta, yaitu lima unsur besar alam semesta: ether, yang berembus, yang panas, yang cair, dan yang padat. Ahangkara si taijasa berfungsi membantu kerja si waikreta dan si bhutadi.

(8) Bhatara Mahulun dengan daya saktinya mengolah Panca Mahabhuta, yaitu perthiwi, apah, teja bayu, akasa dipadu dengan guna. Dari perpaduan itu terciptalah andabhuwana (alam semesta). Ada empat belas lapis alam. Adanya seperti sarang tawon berlapis - lapis. Tujuh bagian alam atas disebut saptaloka, yaitu Satyaloka, Mahaloka, Janaloka, Tapaloka, Swarggaloka, Bhuwarloka, dan Bhurloka, sedangkan tujuh bagian alam bawah disebut sapta patah, yaitu Patala, Waitala, Nitala, Mahatala, Sutala, Talatala, dan Rasatala. Di bagian bawah sapta patala adalah Mahanaraka stana Sang Hyang Kalagnirudra, api yang menjadi dasar alam semesta yang senantiasa berkobar.

(9) Evolusi selanjutnya, atas kehendak Bhatara Mahulun, laksana kesadarannya yang pada tahap ini disebut Sang Hyang Pramana atau Sang Hyang Atma dirangsang untuk berkembang biak menjadi segala jenis mahluk. Buddhi dan manah menjadi alat berfikir, sedangkan ahangkara sebagai sarana untuk mengaku dan melaksanakan perbuatan baik-buruk.

(10) Perkembangan Sang Hyang Pramana menjadi beranekaragam mahluk penghuni alam semesta mengalami tumimbal lahir. Hal ini disebabkan oleh pengaruh triguna, yaitu sattiva, rajah, dan tamas. Tiap - tiap mahluk menjadi berbeda kualitasnya menurut dominan tidaknya pengaruh karakter dasar yang disebut yoni. Ada tiga kelompok yoni. yaitu yoni buddhi sattiva, yoni buddhi ra¬jah, dan yoni buddhi tamas.

Demikianlah aku, pianak dari meme-bapa, yakni manifestasi sebagai akibat dari cinta kasih yang menggetarkan hubungan antara meme-bapa, purusa prakrti. Akan tetapi sejauh kemampuan akal menalarkan esensi ini hanya melahirkan suatu keyakinan dan kepercayaan bahwa eksistensi aku disebabkan oleh sesuatu yang disebut nenek -moyang, yakni leluhur. Kemudian, kepercayaan ini melahirkan apa yang disebut dengan atman sradha selanjutnya, yang mengalirkan pitra yadnya.

Meme-Bapa dan Pitra Yadnya

Pitra yadnya adalah suatu upacara kurban tulus iklas yang dilandasi dengan hati suci sebagai pengabdian kepada roh leluhur. Disamping itu, juga disertai doa-doa agar leluhur mendapat kesucian dan status yang lebih tinggi di paraloka sehingga dapat kembali ke asalnya, Brahman. Dengan kata lain bahwa pitra yadnya merupakan pemujaan, persembahan, dan kurban suci yang ditujukan kepada leluhur atau roh nenek moyang. Ada empat tahapan dalam rangkaian upacara pitra yadnya, yaitu tahap pertama disebut atiwa-tiwa merupakan tata cara merawat jenazah, seperti memandikan, menggulung, memberikan ramuan-ramuan, dan meringkes. Kegiatan ini dikatakan sudah selesai, apabila sudah sampai dengan penguburan jenazah, mangkingsan.

Upacara ini dilakukan karena upacara ngaben belum dilaksanakan. Apabila dilanjutkan dengan upacara ngaben maka upacara ini disebut atiwa-tiwa karena hanya sampai dengan jenazah dinaikkan ke bale. Tiwah berarti sama dengan tiwa merupakan upacara penguburan jenazah dari zaman prasejarah Indonesia. Tahapan kedua, yaitu ngaben merupakan upacara penyucian roh pase pertama dan peleburan jenazah untuk dikembalikan kepada bentuk asalnya, yaitu panca mahabhuta. Pada upacara ini terjadi pemisahan antara purusa dan prakrti dari orang yang diaben dan dikembalikan ke asalnya masing-masing.

Tahapan ketiga, yaitu mamukur yang berasal dari kata bukur. Kata bukur akronim dari kata bu (bhu) yang artinya alam dan kata ur (akar kata dari kata urdhah) yang artinya atas. Jadi, kata bukur'berarti menuju alam atas (swarga loka). Mamukur adalah upacara pensucian roh fase kedua yang dapat dilaksanakan, apabila proses upacara pitra yadnya fase pertama (ngaben) itu sudah dilaksanakan. Upacara ini dimaksudkan untuk meningkat kesucian arwah menjadi dewa pitara. Ngalinggihang deWa pitara merupakan upacara atmapratistha, yaitu ngalinggihang roh suci yang disebut dewa pitara di palinggih kamulan di merajan. Upacara ini, juga disebut upacara nilapati.

Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa pitra yadnya merupakan wujud persembahan dan cinta kasih generasi manusia yang berkedudukan di alam fana (dunia relatif) kepada leluhur yang berkedudukan di alam niskala (dunia mutlak). Ini menunjukkan bahwa dua alam yang berbeda dapat disatukan dalam persembahan dan cinta kasih berdasarkan keyakinan dan kepercayaan mendalam. Cinta kasih kepada leluhur dalam hal ini dipandang sebagai Rna. (Pitra Rna), yaitu hutang kepada leluhur, yang tiada lain adalah kewajiban kepada luluhur, orang tua. Secara moral suatu kewajiban harus dipenuhi karena merupakan sebuah ikatan, yakni ikatan yang sama sekali tidak tampak karena berupa hukum, dharma. Di atasnya alam semesta mendasarkan diri, sanatana dharma, yaitu prinsip yang menyatukan dan menyelaraskan.

Dharma kepada leluhur rupanya dapat dipahami dengan baik, walaupun kedua-duanya, baik dharma maupun leluhur merupakan sesuatu yang sangat abstrak. Dikatakan demikian karena eksistensinya dibatasi berdasarkan keyakinan dan kepercayaan yang secara akal sehat tak mungkin terpikirkan. Berdasarkan keyakinan dan kepercayaan ini seharusnya tidak pernah ada dan tidak akan terjadi persoalan tentang perlakuan dan penghormatan terhadap orang tua termsuk kepada meme-bapa. Akan tetapi kenyatan menunjukkan hal yang sama sekali berbeda bahwa tidak banyak meme-bapa (ibu-ayah) atau nini-kaki (nenèk-kakek) yang bisa menerima perlakuan dalam pelayanan, bhakti.

Ironisnya lagi tidak sedikit meme-bapa yang sakit hatinya tak tertahankan, akibat dari perbuatan dan tindakan anak-anaknya. Tidak sedikit meme-bapa harus menikmati kemesraan hubungan dengan anaknya dalam suasana kemunafikan. Meme-bapa berusaha bersikap senang dalam keadaan yang sama sekali tidak menyenangkan. Hal ini dilakukan demi cinta kasihnya kepada anak - anaknya, seperti tangisan meme (ibu) ketika melahirkan. Sakit dan tangisan itu hanya semata-mata demi kelahiran anak, si buah hati (cinta kasih) meme-bapa. Hanya meme yang mengerti dan memahami arti dan makna sakit dan tangisan tersebut, yang lain hanya mengiakan saja tanpa makna (apa-apa).

Tangis itu dibawa sebagai bekal hidup yang tak pernah habis-habisnya sepanjang lorong waktu dan karma semesta menghendakinya. Mengingat pada gilirannya meme-bapa segera menjadi kaki-nini (kakek-nenek) yang menangisi diri dalam kesendiriannya di sebuah pojok sepi di sudut emper sebelah rumah (mewah yang luas). Mereka menangis, bukan karena keberhasilan dan kesuksesan anak cucunya dalam dunia yang serba mod¬ern. Akan tetapi air mata itu sebagai akibat dari berlimpahnya materi dan kemewahan yang telah diraih oleh anak-cucunya yang telah melemparnya kesudut ruang kosong itu.

Waktu yang telah menggeser dan menggusur dirinya dalam setiap ruang dan kesempatan. Mereka sudah tidak sesuai lagi dengan zaman kemewahan ariak-cucunya dan semakin lama semakin banyak hal yang tidak sesuai dengan zaman sehingga semakin banyak hal yang harus disesuaikan kembali. Demikianlah waktu membunuh satu demi satu setiap eksistensi, keberadaan, dimulai dari diri sendiri dan kemudian, segala materi sirna dari yang asasi segera dilahirkan kembali. Padahal disela-sela keriput kulit pembungkus tulang berlulang rapuh itu tersimpan cinta kasih abadi yang tak terbatas (bagi anak cucunya). Setidak-tidaknya hal ini dapat disaksikan dalam panti jompo, yang apabila ditanyakan, tidak semua lansia (lanjut usia)itu tidak memiliki anak-cucu. Padahal panti jompo dan sejenisnya itu diselenggarakan bagi lansia yang tidak lagi memiliki siapa-siapa sehingga dalam hal ini kemuliaan sebuah yayasan seperti ini benar-benar diuji eksistensinya.

Pitra yadnya yang sesungguhnya dimaksudkan untuk menuntun manusia (Hindu) ke dalam sikap dan perilaku hormat dan bhakti kepada orang tua, ternyata telah mendapatkan makna secara sepihak. Hormat dan bhakti yang ditunjukkan kepada orang tua, yang telah meninggal tidak sebanding dengan orang tua yang belum meningggal (masih hidup?). Kontaksi sikap dan perbuatan ini boleh jadi disebabkan oleh suatu keyakinan yang dipahami secara keliru. Sebagaimana dijelaskan dalam Shvatattwa bahwa Widhi berarti yang menetapkan, yang menentukan, dan yang menakdirkan. Dalam hal ini seharusnya meme-bapa adalah Widhi yang paling dekat yang dapat dikenal karena setiap orang dapat dipastikan ditakdirkan dan dilahirkan dari meme-bapanya.

Sebaliknya, yang melahirkan sebagai yang menakdirkan, malahan hanya dipandang sebagai yang memiliki kewajiban. Sizvatattiva, juga mengajarkan bahwa segala sesuatu (keberadaan) terwujud dari unsur yang paling halus sampai dengan yang paling kasar. Sebaliknya, peleburan terjadi dari unsur yang paling kasar sampai dengan yang paling halus. Pemahaman ini membawa pencarian manusia ke luar dari diri sendiri terutama kepada hal-hal yang halus dan sublim, yaitu yang tak terpikirkan, yang tak terumuskan.

Semula, seluruh aktivitas indera terarah keluar diri mencari dan menemukan berbagai objeknya demi pemenuhannya di dalam dunia relatif. Ketakpuasan terhadap dunia materi mengarahkan perhatian dan segenap pemahaman untuk menelusuri dunia sublim yang jauh dari makna material. Kesadaran memasuki wilayah tanpa arti dan makna menembus keberanian berspekulasi terhadap hal-hal di luar norma dan bebas nilai. Mulailah kepercayaan bergayut kepada hal-hal ditakuti, tetapi mempesona seperti yang dikonsepsikan oleh Marret bahwa sikap takut dan terpesona mengalihkan perhatian manusia kepada persoalan religius. Ketakutan akan kutukan leluhur, para dewa, dan kekuatan-kekuatan mistis lainnya telah mendorong kesadaran mistis manusia pada posisi tak berdaya.

Menyerah dan takluk dibawah avidya dari nirvidya sehingga manusia terasing dalam lingkungannya dan ketakutan pada diri sendiri. Mereka lupa bahwa upanisad, juga mengajarkan "neti-neti" (bukan ini,bukan ini). Ini berarti pencarian seharusnya dimulai dari yang kasar, yakni artha, kama, dan dharma. Ini merupakan pengetahuan yang seharusnya dinegasikan sehingga pada gilirannya dapat menjelma menjadi vidya-jnana (pengetahuan benar) yang mengantarkan pengertian dan pemahaman kepada sat-cit-ananda, dan moksa. Seperti diungkapkan Zimmer bahwa tujuan moksa bukan terletak pada tri varga, yaitu artha, kama dan dharma atau pada masa brahmacarya, grhastha, dan vanaprastha, melainkan pada masa bhiksuka.

Oleh karena itu kehidupan harus dilalui dalam masa pembelajaran diri dengan menekuni ilmu pengetahuan dan berbagai ketrampilan hidup (brahmacarya) dan masa berumah tangga (grhastha) dalam pengabdian penuh kepada masyarakat berdasarkan artha, kama, dan dharma.Pengetahuan empiris konvensional dan kepemilikan duniawi (artha) dicari untuk memenuhi kesenangan (kama) berdasarkan hukum (dharma). Selanjurnya, artha disisakan digunakan untuk memenuhi kewajiban keagamaan sebagai kepatutan tertinggi untuk mencapai tujuan khidupan pada tahapan-tahapan berikutnya. Tahapan kehidupan pembuangan diri ke hutan (vanaprstha), yaitu hidup dengan tidak mengutamakan kebutuhan indrawi yang bersifat duniawi dan tahapan kehidupan tanpa memperdulikan kehidupan sendiri, yakni menjadikan diri sebagai peminta-minta (bhiksuka) merupakan landasan pokok untuk mencapai tujuan hidup tertinggi, moksa.

Dengan demikian diperlukan keseimbangan sikap dan perilaku antara dunia relatif (sekala) dan dunia kemutlakan (niskala), antara pemujaan kepada leluhur (pitra yadnya) dan meme-bapa, dan antara yang purusa dan yang prakrti. Mengingat segala sesuatu itu semula berada pada posisinya yang seimbang, yaitu keseimbangan kekuatan antara ketiga guna. Untuk itu yang diperlukan adalah mengembalikan diri kepada keadaannya yang semula, diri yang tanpa aktivitas, tanpa atribut, tanpa penetapan-penetapan, tanpa predikat, dan bebas dari fungsi-fungsi relatifnya. Biarkan diri diam dalam hening selama 15 menit setiap 24 jam. Mengingat introspeksi diri yang mendalam dapat mengantarkan pengertian dan pemahaman yang terdalam kepada hakikat kemanusiaan dan kepada apa yang disebut harmoni kehidupan.

Meme-Bapa dan Harmoni Kehidupan

Pada suatu hari, sesudah perang besar antara kaum Kurawa dan kaum Pandawa berakhir dengan kehancuran total pada pihak Kurawa, dan kelima saudara Pandawa duduk bersama Vidura yang bijaksana. Mereka membicarakan manakah yang paling mulia dari anatara ketiga tujuan yang dikejar manusia. Adakah itu dharma, nrtha, ataukah fainza-kebenaran, kekayaan, ataukah kesukaan/Demikian tulis Zaehner, dalam bukunya yang berjudul Kebijaksanaan dari Timur-.Beberapa Aspek Pemikiran Hinduisme. Ini berarti tujuan yang hendak dicapai itu merupakan gambaran harmoni kehidupan ideal yang hendak diwujudkan. Sehubungan dengan hal itu Vidura mengatakan dharma-lah nampaknya sebagai tujuan manusia yang tertinggi di dunia.

Berkat dharma para bijak zaman dulu merasuk ke dalam brahman. dan di atas dharma ketiga dunia mendasarkan diri. Menurut Vidura harmoni kehidupan lebih ditentukan oleh dharma sebagai hukum kehidupan universal, Rta. Oleh karena itu karma kosmis (nasib) haruslah menjadi pedoman bagi karma individu sehingga seluruh tindakan individu terserap kedalam tindakan kosmis. Dengan cara demikian harmoni kehidupan antara individu dan kosmis terwujud dan dengannya para bijak zaman dahulu merasuk ke dalam brahman.

Nakula dan Sahadewa menyetujui pendapat ini dan mengatakan bahwa dharma harus dikejar sebagai yang pertama, baru kekayaan boleh dikejar sesuai dharma dan akhirnya pada kesukaanlah pikiran manusia harus diarahkan. Dalam pemikiran Nakula dan Sahadewa bhawa harmoni kehidupan bisa terwujud, apabila dharma digunakan sebagai panduan dalam mencari kekayaan dan memenuhi kesukaan. Dalam hal ini dharma dijadikan panglima dalam mewujudkan kekayaan dan kesukaan untuk harmoni kehidupan. Jelaslah dalam pandangan ini kebenaran yang bersumber dari dunia mutlak (sanatana dharma) hendak digunakan sebagai landasan untuk pemenuhan terhadap kekayaan dan kesukaan dalam kehidupan dunia relatif. Akan tetapi, Arjuna menolaknya dan mengatakan kekayaanlah yang paling unggul, sementara kebenaran dan kesukaan merupakan kedua sayapnya saja.

Rupanya Arjuna memiliki pemikiran yang lebih realistis bahwa untuk mewujudkan harmoni kehidupan hendaklah dimulai dari kesejahteraan terlebih dahulu. Sementara itu, kebenaran dan kesukaan diposisikan pada kesejajaran yang berlawanan untuk menciptakan keseimbangan kehidupan. Konsep harmoni kehidupan dalam hal ini menempatkan kekayaan pada ujung keseluruhan tujuan kehidupan dikendalikan dengan keseimbangan kebenaran dan kesukaan. Kendatipun demikian, Bima lebih memilih memuasi hasrat (kama) terlebih dahulu, karena itulah tugas manusia, sebagaimana diajarkan dalam Veda. Dia berkata bahwa tanpa hasrat untuk meraih tak ada hasil bisa diperoleh. Lebih dahulu menghasratkannya dan lewat semangat hasrat ini memperoleh hadiahnya. Hasrat adalah rahasia segala keberhasilan, baik material maupun spiritual. Rupanya Bima melakukan pilihan yang terdekat dengan dirinya, bahkan yang ada di dalam dirinya. Hanya seorang munafik yang mengingkari ini. Kendatipun demikian, haruslah ada keseimbangan antara ketiganya. Kebenaran, kekayaan, dan kesukaan harus dikejar bersama karena dia yang unggul adalah yang menguasai ketiga-tiganya (tirvarga).

Yudistira, sang Raja Dharma tak dapat menyetujui satu pun semua pendapat iru sebab pembantaian jutaan manusia berkenaan dengan apa yang disebuj manusia sebagai dharma, justru membuatnya muak terhadap dharma itu sendiri. "Coba dengarkan saya, tetapi janganlah kalian dibingungkan", kata Yudistira sebagai berikut.

Hanya dia yang tidak mempunyai kesenangan, baik dalam kejahatan maupun kebaikan, dalam harta, dharma ataupun kesukaan; hanya dia yang bebas dari (segala) cela (dosha), bagi siapa segumpal tanah dan sepotong emas tak ada bedanya, hanya dialah yang bebas, baik dari kenikmatan ataupun kesakitan, dari kekayaan dan kesuksesan. Kelahiran dan kematian adalah jiwa dari segala ciptaan. Sehala sesuatu bisa hancur dan berubah. Lagi mereka mungkin disuruh siapa-siapa oleh banyak orang (guru dan orang bijak) lewat kotbah tentang pembebasan, namun kita tak tahu apakah itu. Tidakkah Tuhan sendiri yang Mahadiri mengatakan bahwa tak mungkin ada pembebasan bagi orang yang mengetahui ikatan cinta (snehena yukla)? Orang-orang bijak mempunyai Nirvana sebagai tujuan mereka, dan melakukan bukannya yang menyenangkan, bukan pula yang tidak menyenangkan (bagi mereka). Itulah hukum yang fundamental, tidak melakukan apa yang kau inginkan.

Sebagaimana telah diwajibkan kepadaku, demikian aku melaksanakan. Nasib mengawasi semua makhluk, dan Nasiblah yang lebih kuat. Yakinlah mengenai hal ini. Bukan lewat suatu tindakan (dari dirinya) manusia mampu mencapai tujuan yang melampaui kemampuannya. Ketahuilah bahwa apa yang semestinya ada, pasti akan berada dalam kebenarannya.

Zeahner lebih lanjut menjelaskan bahwa dilema yang dihadapi Yudistira sungguh nyata, dia adalah dharma yang menjelma dan setiap orang mengakui hal ini dan menghormatinya demikian itu.Akan tetapi dia, juga tidak merasa tenang di dunia ini, dimana dharma yang tradisional begitu jelas bertentangan dengan suara hati dan perasaan nurani. Dia tidak melawan kesepuluh perintah yang merumuskan apa yang wajib bagi semua orang tanpa peduli kelas dan kastanya, sebab semuanya cocok dengan kodratnya sendiri, yaitu "ketabahan, kesabaran, mawas diri, tidak mencuri, kemurnian, pengendalian indera, pandangan (dhi), kebijakan, kebenaran, dan penolakan terhadap kamarahan".

Yudistira menempatkan kehidupan religius sebagai panduan dalam mewujudkan harmoni kehidupan, yaitu dengan menempatkan kewajiban sebagai satu-satunya azas tertinggi dalam keseluruhan aspek kehidupan. Dengan melaksanakan kewajiban berdasarkan sepuluh perintah sastra maka ketiga tujuan kehidupan akan terlampaui. Harmoni kehidupan secara mutlak bisa terwujud bagi yang tidak terikat pada dua hal yang berlawanan, seperti yang tidak mempunyai kesenangan, baik dalam kejahatan maupun kebaikan, dalam harta, dharma ataupun kesukaan, hanya dia yang bebas dari (segala) cela (dosha). Bagi siapa segumpal tanah dan sepotong emas tak ada bedanya, hanya dialah yang bebas, baik dari kenikmatan ataupun kesakitan, dari kekayaan dan kesuksesan.

Sebagaimana dijelaskan dalam Bhagavadgita, V:3 ketahuilah, dia yang disebut sanyasin senantiasa adalah dia yang tidak membenci dan tidak berkeinginan, bebas dari dualisme, dengan mudah (ia) terlepas dari belenggu (karma). Di samping itu bebas dari dualisme, juga merupakan jalan, kebebasan, seperti dijelaskan dalam Bhagavadgita, V:20 bahwa (dia) tidak bergirang menerima suka dan juga tidak bersedih menerima duka, tetap dalam kebijaksanaan teguh iman, mengetahui Brahman, bersatu dalam Brahman.

Harmoni kehidupan dalam beberapa karakternya seperti tersebut di atas sesungguhnya telah menempatkan spirit meme-bapa sebagai dua kutub yang berlawanan sebagai dasar dan alasan pemilihan tihadap tujuan hidup. Prinsip penerimaan dan penolakan terhadap dharma (kebenaran), artha (kekayaan) dan kama (kesukaan) di antara karakter harmoni kehidupan tersebut menjadi dasar- dasar pertimbangan atas pilihan - pilihan yang dilakukan. Vidura misalnya, dengan memilih dharma sebagai panduan kehidupan tentu mengabaikan dan menolak artha dan kama. Demikian juga Arjuna, dengan memilih artha sebagai panduan kehidupan telah menempatkan dharma dan kama sebagai sayap untuk menjaga keseimbangan kehidupan. Bima, bahkan memilih kama sebagai panduan kehidupan dengan demikian telah mengabaikan dharma dan artha. Jadi, pemilihan terhadap yang lain, setiap kali terjadi pemilihan sekaligus pula terjadi penolakan. Prinsip ini sesuai dengan hakikat purusa-prakrti atau meme-bapa sebagai keberadaan yang saling bertentangan.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa pada dasarnya kehidupan terdiri atas dua prinsip yang saling bertentangan. Kendatipun demikian kehidupan bukanlah terdiri atas pilihan - pilihan, bahkan bukan pilihan yang serta merta dapat ditentukan berdasarkan pertimbangan akal sebagaimana dilakukan oleh Vidura, Arjuna, Nakula dan Sahadewa, dan Bima.

Dengan demikian harmoni kehidupan bukan ditentukan oleh pilihan-pilihan atau ketepatan atas pilihan yang dilakukan, melainkan lebih ditentukan oleh pikiran, sikap, dan perilaku subjek terhadap pertentangan-pertentangan tersebut. Sebagaimana dalam pengalaman empiris bahwa harmoni kehidupan tidaklah mungkin terwujud dengan memilih satu di antara meme dan bapa, melainkan lebih ditentukan oleh sikap dan perilaku anak terhadap mereka. Sikap dan pelayanan penuh yang ditujukan kepada para leluhur dalam pitra yadnya hendaknya, juga ditunjukkan kepada meme-bapa sebagai Widhi yag paling dekat yang dapat dikenal.

Harmoni kehidupan dalam pengalaman empiris dapat diwujudkan melalui pengabdian dan pelayan yang sungguh-sungguh kepada meme-bapa atau kaki-nini. Sikap dan perilaku yang benar terhadap meme-bapa adalah seperti yang diajarkan oleh Yudistira kepada saudaranya.

Oleh: Ki Dharma Tanaya
Source: Warta Hindu Dharma NO. 540 Desember 2011