Mencari Kebenaran Sejati pada Kata-kata

Satyameva jayate nanrtam satyena pantha vitato
devayanah yenakramantyrsayo
hyaptakama yatra tat satyasya paramam nidhanam
(Mundaka Upaftisad 3.1.6)

Hanya kebenaran yang selalu menang, bukan ketidakbenaran. Dari kebenaranlah jalan spiritual menyebar keluar, dengan mana para Maharesi yang keinginannya sepenuhnya terpenuhi, dapat mencapai tempat di mana harta karun tertinggi Kebenaran tersimpan.

Kata-kata adalah nyawa bagi mereka yang mengikuti jalan Dharma. Kata-kata adalah ciri terhormat bagi orang-orang yang menjunjung tinggi kejujuran dan kebenaran. Pada zaman dahulu orang-orang dalam mimpi pun tidak pernah berpikir untuk ingkar pada kata-kata yang sudah diucapkan. Mereka sangat menjunjung tinggi-tinggi nilai kata-kata yang sudah dikeluarkan dari bibirnya.

Pustaka suci Sarasamuccaya 75 memberikan 4 jenis pantangan dalam berkata-kata: nyang tan paprawrttyaning wak, pat kwehnya, pratyekanya, ujar ahala, ujar apregas, ujarpisuna, ujar mithya, nahan tang pat sinanggahaning wak, tan ujar-akena, tan angen-angenan, ko-jaranya: berikut adalah hal-hal yang tidak boleh disampaikan melalui ucapan, yang jumlahnya ada empat jenis, yaitu ucapan yang mengandung kejahatan (ajakan, hasutan untuk berbuat jahat), kata-kata kasar (umpatan, hardikan, caci-maki), fitnah (gosip), dan perkataan yang mengandung kebohongan. Keempat hal itu haruslah dibuang jauh-jauh dari segala perkataan, jangan diucapkan, bahkan jangan berpikir untuk mengucapkannya.

Kitab-kitab suci mengatakan bahwa setelah melalui saringan pikiran yang ketat barulah kata-kata hendaknya keluar dari bibir. Kata-kata sangat berharga, dan ia adalah permata tiada nilai bagi mereka yang memastikan diri di dalam jalan Dharma. Bagi orang-orang tertentu yang sangat teguh prinsip dalam kejujuran dan kebenaran, mereka memilih lebih baik mati daripada ingkar pada kata-kata yang telah diucapkannya. Sarasamuccaya 124 sangat setuju dengan pernyataan di atas: matangnyan mangke sang mahapandita, sang makabratang kasatyan, tan pangumanuman, tan pagawe paisunya, tan pangupat, nguniweh tan mrsawada, yatna juga sira ami-heri ujarnira, rumaksa halaning len: maka dari itu, mereka yang telah mencapai kebijaksanaan, yang bertekad untuk berpegang teguh pada jalan Dharma, tidak akan mengeluarkan kata caci maki, tidak menyebar fitnah, tidak mencela, dan tidak akan berbohong, ia menjaga segala ucapannya, serta menghindari membuat orang lain menderita karena ucapannya.

Literatur Veda hampir sepenuhnya mengajarkan perihal keteguhan menjaga kejujuran dalam berkata-kata. Akan tetapi, pada zaman modern ini kata-kata adalah modal bisnis. Bukan uang yang menjadi modal bisnis, tetapi kata-kata. Orang bisa memulai bisnis tanpa modal uang, hanya perlu kata-kata yang dikemas dengan janji-janji keuntungan.

Zaman sekarang kata-kata juga adalah "pengadilan". Bahkan dalam sosial media, sebagian besar orang "menghakimi" orang lain melalui kata-kata yang ditulisnya. Mereka yang pintar mempermainkan kata-kata maka mereka akan menang dalam bersengketa atau pengadilan. Walau tidak mesti seperti itu akan tetapi ramalan kitab suci memang menyebutkan demikian. Kebenaran bisa terbalik ketika orang bisa mempermainkan atau membunga-bungakan kata-kata menjadi manis menarik.

Saya masih ingat, seseorang mencuri kamera teman saya yang cukup mahal. Akan tetapi, ketika seseorang menanyakan pada orang yang mencuri kamera tersebut, orang yang menanyakan tersebut malah berbalik menjadi menyalahkan teman yang kameranya dicuri. Ternyata kejadian menjadi terbalik sama sekali oleh permainan kata. Bukan tidak mungkin akibat permainan kata, pelapor justru menjadi tersangka. Zaman sekarang ini, pada umumnya orang-orang mengelabui dan menyamarkan kebenaran dengan permainan kata-kata.

Mereka yang mempunya ber-bagai kepentingan duniawi biasanya akan mempermainkan kata-kata berbunga. Sedangkan mereka yang tidak mempunyai kepentingan duniawi, mereka menjadi kandidat terpercaya dalam menjaga kemuliaan kata-katanya. Bhagavad-Gita, adhyaya 2 sloka 57 mengajarkan: Di mana-mana di alam material ini, orang yang tidak terikat pada hal-hal baik dan buruk yang diperolehnya, tidak memuji dan tidak mencemoh, (orang seperti itu) kesadarannya sudah menjadi mantap sempurna (yah sarva-tranabhisnehas tat tat prapya subhasubham, nabhinandati na dvesti tasya prajna pratisthita).

Sloka ini menjelaskan bahwa orang-orang yang tidak memiliki kepentingan-kepentingan duniawi demi keuntungan pribadinya akan menjaga benar ucapannya. Ia tidak mengeluarkan kata-kata pujian demi mendapat keuntungan, tetapi ia juga tidak mencemooh orang lain untuk menyingkirkannya atau memandang orang lain lebih rendah dari dirinya. Orang-orang yang telah mantap di jalan Dharma hanya akan berbicara kebenaran.

Kita banyak punya cerita mereka yang sangat setia pada kata-katanya seperti Dewi Kunti yang hampir semua orang sudah tahu bagaimana Dewi Kunti sangat teguh dalam menjaga kata-katanya, Dharmawangsa atau Yudhisthira juga semua tahu ceritanya, sampai-sampai ia menolak disuruh berbohong oleh Sri Krsna bahkan demi kepentingan Yudhisthira sendiri, dan selanjutnya Maharaja Harischandra yang saking kokohnya menjaga kebenaran dan kejujuran dalam berkata-kata sampai-sampai mengorbankan kerajaan dan anak-istrinya. Dan banyak lagi contoh cerita seperti itu.

Akan tetapi, zaman sekarang kata-kata hanyalah alat untuk berbasa-basi. Bahkan, sumpah yang sudah diucapkan pada Tuhan pun orang akan pakai sebagai basa-basi belaka, bukan untuk menunjukkan dan mempertahankan kebenaran serta kejujuran, melainkan hanya untuk basa-basi. Jadi, sangat ringan kata-kata kita sekarang, seringan kapas yang sangat mudah diterbangkan oleh angin.

Bagaimana Raja Dasaratha mempertahankan kata-katanya, beliau mengatakan lebih baik mati daripada kebenaran kata-kata pergi dariku (pran jayen par vacan na jayen). Yajur Veda 26.4 mengajarkan agar kita selalu merenung dan menekadkan sambil berdoa memohon kepada Tuhan agar kata-kata kita selalu membawa kejujuran dan kebenaran, "kebenaran dalam kata-kataku". Vacah satyamasiya, semoga aku menemukan kebenaran dalam kata-kataku, artinya orang bertekad untuk tidak berbohong dan tidak mengabaikan kata-kata yang sudah dikeluarkan dari bibirnya.

Kata-kata itu mahal bagi seorang pencari kebenaran. Ia akan mempertaruhkan apa saja demi mempertahankan dan mewujudkan kata-kata yang sudah diucapkannya. "Taksu" dari kata-kata itu yang mereka jaga, sebab itulah yang akan menyelamatkan dirinya, dari keruntuhan moral-spiritual, yang akan menghalangi pencapaian tujuan hidup sejatinya. Oleh karena itulah mereka sangat berpantang melanggar kata-kata yang sudah diucapkan dan/atau mengeluarkan kata-kata yang tidak mengandung kebenaran Satyam.

Orang-orang bijaksana akan sangat memperhatikan kata-katanya. Mereka akan mengeluarkan kata-kata hanya dan hanya setelah melalui saringan Wiweka Dharma (kebijaksanaan yang dilandasi oleh ajaran Dharma) di dalam pikirannya. Hanya setelah itu mereka akan mengeluarkan kata-katanya. Mereka sangat berhati-hati mengeluarkan kata-kata. Karena dari kata-kata orang bisa mati, dari kata-kata orang bisa bermusuhan, dari kata-kata seorang saudara kandung bisa menjadi orang tak dikenal lagi.

Kakawin Niti Sastra 5.3 menyebutkan: wasita nimitanta manemu laksmi, bahwa melalui kata-kata orang bisa mendapatkan harta kekayaan; wasita nimitanta pati kapangguh, melalui kata-kata juga orang bisa menemui ajalnya; wasita nimitanta manemu duhkha, dengan kata-kata orang bisa menemui kesengsaraan; dan wasita nimitanta manemu mitra, dengan kata-kata yang tersaring indah di dalam ajaran Dharma orang akan mendapatkan kawan baik. Akan tetapi, yang sangat indah untuk kita renungkan bersama adalah ajaran Yajur Veda tadi, semoga kita menemukan kebenaran di dalam kata-kata kita, berarti, kita hendaknya mengeluarkan kata-kata hanya jika ia mengandung kebenaran. Jika tidak, lebih baik mauna alias diam.

Oleh: Darmayasa
Source: Koran Bali Post, Minggu Pon, 8 Mei 2016