Tentu anda masih ingat mitologi kelahiran Kala. Mitologi itu menyisakan banyak pertanyaan. Salah satu pertanyaan itu berbunyi: bagaimana mungkin Shiwa sebagai dewa tertinggi berhasil digoda oleh Kama yang statusnya sebagai dewa bawahan?
Mungkin saja! Pertanyaan itu langsung dijawab oleh tattwa, bahwa memang ada potensi Shiwa digoda oleh Kama. Karena tattwa yang ada menyebutkan bahwa Shiwa itu tiada lain adalah Mahakarna.
Shiwa sebagai Mahakama berarti Shiwalah yang mengadakan Kama, atau Shiwalah yang menjadi Kamanya Kama. Itulah sebabnya Shiwa bisa digoda oleh Kama, dengan penjelasan tambahan bahwa Shiwa sejatinya menggoda dirinya sendiri untuk mengadakan ciptaan.
Untuk level manusia (karena Shiwa dan Kama ada di dalam diri manusia) bisa dikatakan bahwa manusia pun sejatinya menggoda dirinya sendiri untuk mengadakan ciptaan, alias berkembang-biak. Dengan demikian, bila ada manusia mengatakan bahwa dirinya digoda oleh Kama, oleh Smara, oleh cinta, oleh libido, maka perkataan itu berarti bahwa manusia itu telah berhasil menggoda dirinya sendiri.
Hebatnya, ternyata jarang sekali ada manusia yang gagal menggoda dirinya sendiri. Kebanyakan manusia dari waktu kewaktu berhasil menggoda dirinya. Ia buat pikirannya merindukan objek-objek asmara. Ia ajak tubuhnya mencari objek-objek asmara itu. Ia simpan kenangan manis asmara itu di dalam sanubarinya yang tersembunyi. Dan ia beritahu dirinya bagaimana cara membangkitkan kenangan manis itu pada saat ia memerlukannya. Ia nikmati kenangan indah itu, tak tahu kalau kenangan itulah yang sedang “memakan” dirinya.
Begitulah Kama kecil di dalam tubuh manusia berhasil menggoda Shiwa kecil di dalam pikiran manusia. Cerita para dewa sejatinya tidak beda dengan cerita bangsa manusia. Paling-paling cerita dewa agak disakralkan, sedangkan cerita manusia sedikit diprofankan.
Seorang pembaca yang telah terlatih insting narasinya, tidak gampang lagi ditipu. Pembaca seperti itu tahu kelemahan wacana pada umumnya. Teks memperlihatkan apa yang mampu dikatakan dan sebaliknya menyembunyikan apa yang tidak mampu dikatakan. Yang tidak mampu dikatakan itulah yang disebut rahasia, yang tidak sembarang orang boleh tahu.
Begitulah, sebuah mitologi memberi tahu kita bahwa penciptaan dimulai dari godaan, Dalam pikiran banyak orang, kata penciptaan mengandung gagasan yang besar, yaitu mengadakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Sebaliknya dalam pikiran banyak orang, kata godaan mengandung gagasan negatif, yaitu menggagalkan proses penciptaan yang dianggap besar itu.
Ternyata pandangan kolektif itu tidak selalu benar. Karena mitologi di atas memberitahu bahwa godaan itulah yang memulai adanya penciptaan. Jangankan manusia yang memang lahir karena godaan untuk berkembang-biak. Dewa Kala saja sebagai penguasa Waktu juga lahir dari godaan.
Modus godaannya seperti berikut ini. Mahakama menggoda dirinya untuk mengadakan ciptaan, maka “dimodifikasilah” Kama sedemikian rupa sehingga akhirnya lahirlah Kala, yang kemudian dikalahkan oleh Mahakala. Siapakah sebenarnya Mahakala yang mengalahkan kesaktian Kala itu?
Siapa lagi kalau bukan Shiwa itu sendiri. Jadi, Ia adalah Maha kama yang bisa menggoda dirinya sendiri untuk mencipta, dan Ia adalah juga Mahakala yang bisa menggoda dirinya sendiri untuk menghancurkan ciptaannya. Menurut mitologi itu, penciptaan dan penghancuran ternyata dimulai dari godaan pada diri sendiri oleh diri sendiri.
Manusia nampaknya juga seperti itu. Manusia pun bisa menggoda dirinya sendiri untuk menghancurkan. Dan ternyata manusia jarang gagal bila menggoda diri untuk “menghancurkan” dirinya sendiri. Manusia bukan hanya seorang Kama kecil, manusia adalah juga seorang Kala kecil. Sebagai Shiwa kecil manusia senang bermain Kama-Kala” di dalam tubuh dan di dalam pikirannya. Permainan apakah permainan kuma-kala” itu?
Itulah permainan yang intinya adalah menghancurkan dan menciptakan. Seperti permainan anak-anak pantai membuat istana dari pasir. Datang ombak, istana hancur. Dirikan lagi, ombak datang lagi. Begitu seterusnya sampai malam tiba. Anak-anak pulang karena mereka harus tidur agar bisa bermimpi dan kemudian bangun lagi esok harinya untuk membuat istana pasir lagi yang akan dihancurkan lagi oleh ombak.
Siapa sebenarnya yang paling menikmati permainan kama-kala seperti ini, selain Shiwa. Kala, Kama, dan Anak Kecil itu? Siapa yang paling merasa diuntungkan? Siapa sebenarnya yang pantas disebut pelaku? Siapa sesungguhnya yang pantas disebut korban?
Oleh : IBM. Dharma Palguna
Source: BaliPost Minggu Kliwon, 17 April 2011