Menuju Hindu Bhawantu

"Meskipun peradaban-peradaban lain sudah lenyap, atau sudah terserap ke dalam perubahan-perubahan yang terjadi lebih dari lima ribu tahun, peradaban Hindu masih terus berjalan sampai sekarang. "Demikian gambaran pembuka Rhadakrishnan untuk mengawali kuliah tentang Hindu. Yang dimaksud Rhadakrishnan ini adalah Hindu sebagai "dharma".

Dharma adalah penghayatan kebenaran dalam kehidupan dan kekuatan untuk mengubah kealamiahan manusia sehingga menjadi beradab. Melalui pemahaman konsep dharma, Hindu membawa bentuk-bentuk dan aktivitas-aktivitas yang memertajam dan memertahankan kehidupan manusia. Manusia secara alamiah hidup dengan hasrat, nafsu, atau keinginan (kama). Dengan hasrat itu manusia mencapai segala yang ideal, yang paripurna (artha).

Hasrat mengejawantah melalui pikiran, si raja indera. Jika tidak dijaga atau dikendalikan, ia seperti kuda liar, tunggang-langgang kesana kemari tanpa arah tujuan yang jelas. Di situlah dharma memainkan perannya. Ia seperti seorang kusir kereta, yang senantiasa terjaga untuk mengendalikan kuda-kuda inderawi agar tetap bergerak pada jalurnya. Pikiran itu seperti Parta, selalu dalam dilema. Ia membutuhkan Krishna, sang penjaga dharma (hati nurani), untuk mengarahkan dan mengendalikan pikiran dengan kereta perang yang ditarik kuda-kuda inderawi ke arah yang baik dan benar. Jika pikiran dapat diarahkan dan dikendalikan, sudah pasti kuda-kuda inderawi berlari terkendali tetap pada jalurnya demi tujuan yang dicanangkan. Dengan begitu, kemenangan di medan perang kehidupan adalah sesuatu yang pasti diraih (moksa). Begitulah jalan kemenangan Hindu yang diwariskan sejak masa purbanya; selalu harus sesuai dengan hati nurani. Itulah dharma. Dan dharma itu adalah Hindu.

Secara historis, Hindu meru-pakan tradisi religius utama tertua. Ia tidak memiliki pendiri, pun awalnya tidak memiliki tubuh otoritas yang merumuskan batas-batas dogma. Hindu hadir dalam tegangan antara agama dan kebudayaan yang dianut oleh masyarakat lokal yang mendiami lembah sungai Sindhu. Nama Hindu sendiri juga konon diperkenalkan justru oleh bangsa-bangsa asing dari luar India, seperti Persia, Yunani, dan Ing-gris, berdasarkan kata "sindhu". Boleh jadi orang-orang asing itu kesulitan mengucapkan kata / sindhu/. Dengan demikian, fonem frikatif /s/ perlahan meng-alami pelesapan dan bunyi frikatif  /h/, yang hadir pada morfem kedua, berpindah mencari ruang lain yang memudahkan alat artikulasi orang-orang asing itu.

Jadi, fonem /h/ mengalami transfer ke depan dan menggantikan /s/ sehingga cara artikulasinya lebih mudah. Kata /sindhu/ pun berubah menjadi /hindu/. Padahal sebenarnya, masyarakat penganutnya menyebut tradisi ini sebagai Vaidika Dharma maupun Sanatana Dharma, namun justru yang menyebar adalah nama Hindu atau Hindu Dharma. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Hindu memberi ruang bagi yang lain untuk mengada tanpa memaksakan suatu identitas tunggal namun tetap dengan diikuti kata "dharma".

Pada fase awal perkembang-annya di India, Hindu merupakan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Artinya, ia hanya dipeluk oleh mereka yang di-lahirkan dalam keluarga yang me-mang menganut Hindu. Syarat lainnya adalah menjalani ritual wajib serta tidak melanggar cara hidup tradisional. Konon. anggota komunitas Hindu akan kehilangan kehinduannya kalau menyeberangi lautan, berpindah dari India. Pada masa itu, ia hanya budaya lokal yang men-tradisi khusus di India saja. Dengan aturan ketat seperti itu, sudah pasti mengundang terjadinya penentangan dari para penganut yang lebih konservatif; Hindu akhirnya berkembang menjadi beberapa cabang isme-isme yang lebih kecil. Weda juga berkembang dari Sruti menjadi Smrti. Lalu, Smrti berkembang sampai tak terhingga. Bahkan, sampai ada Smrti yang tidak mengakui otoritas Weda, atau sering disebut dengan nastika.

Tanpa dinyana, Hindu menyebar ke seluruh dunia dengan cara membaurkan diri ke dalam kepercayaan lokal masyarakat yang dikunjunginya. Hingga pada sekitar awal masehi, sampailah di Nusantara, Hindu hadir membawa pembaharuan pada agama-agama lokal masyarakat. Pada zaman itu, masyarakat Nusantara (dominan di Jawa dan Bali) belum mengenal baca-tulis, namun berbagai tradisi lisan telah ter-semaikan secara sangat baik. Tentu saja, karena lebih mutakhir, tradisi baca-tulis diadopsi oleh masyarakat lokal untuk menuliskan segala tradisi yang awalnya temurun secara lisan pada abad ke-8 sesuai dengan temuan arkeologi.

Pada aspek kebahasaan itulah terlacak bahwa terjadi pembauran tradisi budaya Hindu (India) dengan budaya lokal, yaitu bahasa Sanskerta dengan bahasa lokal. Istilah-istilah yang berterima diadopsi untuk mengokohkan fondasi kepercayaan lokal, yang sering-kali disebut gejala lokalisasi memunculkan istilah pen-Jawa-an dan pem-Bali-an. Dengan kesamaan esensi ajaran, masyarakat lokal pun tak segan melabelkan nama Hindu pada agama lokal yang sebelumnya tanpa nama dengan berbagai pertimbangan matang. Boleh dikatakan, Hindu memberi tubuh bagi roh-roh kepercayaan masyarakat lokal Nusantara, terutama di Jawa dan Bali. Dari situ, dimulailah perkem-bangan Hindu di Nusantara.

Sejak masa awal perkembangannya di Nusantara, tubuh keagamaan Hindu tidak pernah surut mengalami dinamika, terutama disebabkan oleh gempuran kepercayaan dari luar sejak abad ke-15. Untungnya gempuran itu tidak sampai di Bali, muara terak-hir Hindu. Dari Bali kemudian suara-suara ke-Hindu-an digema-kan kembali ke seluruh Nusantara sejak zaman kerajaan dengan berbagai faktor pendukung, seperti geografi dan kekuasaan. Kehadir-annya semakin menebal, hingga sampai abad ke-20, tubuh Hindu akhirnya dilembagakan ke dalam organisasi PHDI.

PHDI hadir bagai Krishna di zaman Mahabharata, yang menjaga dan mengendalikan arah laju kereta Hindu; ia mewakili hati nurani masyarakat Hindu Nusantara. Kehadiran para Sulinggih sebagai elit utama memberi kesan betapa seriusnya organisasi ini. Para Sulinggih itu rela limpad saking sunyata 'turun dari alam sunyi', dunia Siwanya, untuk mengemban aspirasi umat yang dipimpinnya. Mereka rela, seperti baru-baru ini, berdebat, bahkan mangencangkan otot leher demi menyuarakan aspirasi umat masing-masing sehingga menghadirkan sosok pemimpin organisasi PHDI baru. Ialah sang Parta baru, Bapak Wisnu Bawa Tenaya, pemegang busur yang menentukan arah memanah dan anakpanah akan dilesatkan. Ia membawa harapan pema-haman baru, tentu tidak hanya bagi para anggota PHDI, tapi bagi seluruh masyarakat Hindu Indonesia.

Di tangan beliau, melalui PHDI, Hindu diharapkan menjadi dharma yang bhawantu: sriyam bhawantu, sukham bhawantu, purnam bhawantu. Artinya, PHDI selalu hadir nyata bagi umat secara berwibawa. Sehingga Hindu selalu menjadi loka samesta sukino 'dunia kehidupan bahagia' yang bhawantu bagi masyarakat Hindu Indonesia, yang diwujudkan dalam segala dharma organisasi PHDI. Dengan begitu, Hindu selalu menjadi sanatana dharma bagi manusia di dalam meruang dan mewaktu secara dinamis.

Oleh: Sindhu Gitananda
Source: Wartma, Edisi 21 Nopember 2016