"Air cucuran atap akan jatuh ke pelimbahan juga". "Pantaslah anak itu pintar karena bapaknya seorang Jenderal, sementara ibunya adalah orang yang mampu menduduki jabatan penting di sebuah lembaga yang bergengsi". "Yeh-e kija lakune membah". "Nakalnya anak itu bukan main seperti kelakuan ibunya waktu kecil". "Wah ... Anu pastilah cucu dari pekak atau kakiang Anu". "Yaning suba mula pianakan be jair, jeg suba dueg nyilem", dan sebagainya. Beberapa ungkapan dan pepatah di atas sering terdengar di masyarakat (dan masih banyak ungkapan lain) yang menunjukkan bahwa anak sesungguhnya cerminan dari generasinya terdahulu. Tidak hanya dari orang tuanya langsung, tetapi bisa juga dari generasi sebelumnya.
Dalam keadaan heterorigot, individu disebut sebagai pembawa sifat. Ia sendiri tidak menampakkan gejala-gejala sifat itu, tetapi dapat mewariskan sifat-sifat itu kepada keturunannya". Dalam kitab Agastya Parwa dan Canti Parwa disebutkan tentang keturunan sebagai berikut. Dalam Agastya Parwa "Semua makhluk ber-beda-beda rupa dan wataknya karena watak dan keadaan hidup ibunya (leluhurnya), maka makhluk itu menemukan bahagia dan penderitaan (baik dan buruk)". Sementara dalam kitab Canti Parwa dinyatakan "Walaupun pahala kejahatan perbuatan seseorang tiada terlihat pada orang itu sendiri meskipun ia raja, pasti terlihat pada anak cucu sampai buyutnya juga". Pernyataan di atas dengan jelas menunjukkan bahwa betapa orang tua, terutama ibu mempunyai pengaruh dan memegang peranan sangat penting dalam menentukan watak dan kepribadian anak.
Dewasa ini, baik para orang tua maupun pendidik lainnya kerap merasa "putus asa" bagaimana melatih dan mengajarkan anak untuk dapat dengan tekun dan tenang mengikuti pelajaran ataupun bimbingan yang diberikan. Anak sering menunjukkan perilaku yang kurang pada tempatnya. Untuk membuat anak mengerti memang tidak mudah karena membutuhkan ketekunan, kesabaran, keseriusan, keuletan, dan mempunyai semangat dedikasi yang tinggi dalam memahami dinamika anak. Kedinamikaan anak tidak terlepas dari pengaruh (pendidikan) yang pernah diterima sebelumnya dari lingkungan keluarga sebagai peletak dasar pendidikan pertama dan utama.
Pendidikan yang diberikan dalam keluarga tidak hanya setelah anak itu lahir, tetapi sudah dimulai semasih anak dalam kandungan yang disebut dengan pendidikan prenatal. Kiranya semua orang mengaku bahwa pendidikan prenatal sangat berperanan dalam menentukan perkembangan mental dan spiritual anak selanjutnya. Persoalannya, bagaimana pendidikan itu dilakukan agar anak yang dilahirkan sesuai dengan harapan orang (anak yang suputra).
Terbentuknya Janin dalam Kandungan
Setiap manusia memulai hidupnya apabila terjadi pertemuan atau persatuan (union) antara ovum wanita dengan sperma pria. Hal ini juga diuraikan dalam buku Bhagawan Agastya Prana (rahasia hidup tubuh manusia) bahwa kehamilan dan kehidupan sudah mulai sejak terjadinya pertemuan antara kama bang (ovum) dan kama petak (spermatozoa). Pada saat itu Jiwatman berada di tengah-tengah sebagai perekat pertemuan tersebut. Pertemuan tersebut melebur menjadi satu dan diberi nama Sang Kama Reka (Sang Legeprana). Sang Kama Reka (janin) ini tetap hidup dan akan terus membesar menyempurnakan bentuknya sehingga terwujud jasmani, yaitu bayi. Dengan pengertian tersebut dapat dikemukakan bahwa kehidupan sudah mulai sejak terjadinya pembuahan.
Lebih jauh dikatakan kama petak dan kama bang mempunyai berbagai nama bergantung dari keharmonisan rumah tangga dan saat mulai melakukan hubungan sanggama, seperti Smara Jaya, Smara Ratih, Smara Lulut, dan Smara Heneng untuk berbagai tingkat keasmaraan. Berdasarkan berbagai nama pada berbagai tingkat keasmaraan dapatlah dikemukakan bahwa pembentukan kejiwaan anak yang diinginkan sudah mulai sejak perkawinan serta dalam melakukan hubungan senggama. Perkawinan menurut Hindu sakral adanya. Kenyataan ini erat hubungannya dengan pertanyaan mengapa ajaran Agama Hindu tidak dapat menerima kelahiran bayi tabung dengan donor kama bang maupun kama petak dari perkawinan yang tidak sah. "Bayi yang lahir dengan salah satu sebagai pendonor dianggap tidak sah dan merupakan bayi dari hasil perzinahan".
Telah diketahui pula bahwa menurut ilmu genetika, baik dalam inti ovum (kama bang) maupun spermatozoa (kama petak) terdapat kromosom yang dapat memberikan berbagai bentuk sifat kejwiaan dan bentuk fisik yang akan turun ke generasi yang akan datang. Struktur "cellulair" yang disebut kromosom-kromosom menurut praduga mengandung berbagai susunan unsur yang tak dapat dilihat, yang disebut gen-gen, yang menurut dugaan pula letaknya menyerupai rangkaian mata kalong dan terikat pada pasangan-pasangan kromosom.
Setengah dari 46 kromosom untuk setiap manusia datang dari setiap pihak orang tua sehingga tidak ada seorang anak pun dapat tepat menyerupai salah satu dari kedua orang tuanya. "Penurunan sifat-sifat kejiwaan atau ciri-ciri dari satu generasi ke generasi lain dengan perantaraan plasma benih (germ-plasm) dalam ilmu psikologi disebut dengan hereditas. Ini mengandung arti bahwa yang diturunkan bukan bentuk-bentuk tingkah laku, melainkan struktur jasmani dan rohani".
Sifat kejiwaan yang diturunkan tersebut tidak terlepas dari Hukum Karma Phala atau Karma Wesana yang dilakukannya dalam kehidupan yang lampau di samping pengaruh dari Tri Guna. Namun, dalam kehidupan sekarang manusia memperoleh kesempatan untuk memperbaiki karma wesana yang tidak baik pada kehidupan yang lampau. Upaya ini tidak saja dilakukan setelah manusia lahir, tetapi dapat dilakukan sejak masih dalam kandungan. Oleh karena itulah dalam konsep Hindu diamanatkan untuk mendapatkan anak suputra (su=utama, sedangkan putra yang terdiri atas kata "put" yang berarti neraka dan kata "Trayati" yang berarti menyeberangkan). Dengan demikian, suputra artinya ia yang utama dapat menyelamatkan atau menyeberangkan roh leluhurnya dari neraka mencapai alam surga. Oleh karena itu, untuk mendapat anak yang suputra harus dimulai dari proses perkawinan yang sah hingga wejangan (aturan-aturan) dalam berhubungan intim.
Dalam kisah Dharmasastra dijelaskan bahwa tujuan perkawinan (Grehasta Asrama) adalah untuk mewujudkan tiga hal, yaitu sebagai berikut:
1. Dharmasampatti yakni kedua mempelai berkewajiban melaksanakan yadnya, sebab dalam grahastalah yadnya dapat dilaksanakan dengan sempurna.
2. Praja, kedua mempelai mampu melahirkan keturunan yang akan dapat melanjutkan amanat dan kewajiban kepada leluhur. Melalui yadnya dan lahirnya putra yang suputra akan dapat dilunasi utang jasa kepada leluhur (Pitrarna), kepada Tuhan Yang Maha Esa (Devarna), dan kepada para guru (Rsirna).
3. Rati, kedua mempelai dapat menikmati kepuasan seksual dan kepuasan-kepuasan lainnya (Artha dan Kama) yang tidak bertentangan dengan Dharma.
Bila disimak kutipan tersebut dapat dimengerti bahwa makna Grehasta Asrama dalam kitab suci Weda dan susastra Hindu lainnya adalah untuk mewujudkan kebahagiaan bersama lahir batin termasuk pula dalam pengertian memperoleh keturunan yang suputra sebagai penerus keluarga. Demikian pentingnya posisi spiritual seorang anak dalam keluarga Hindu sebagai penerus keturunan dan penerus/pewaris segala tugas yang belum terselesaikan dalam kehidupan berkeluarga oleh orang tua. Hal ini dapat diperhatikan secara saksama bahwa tidak semua anak yang dilahirkan atas bertemunya kama bang dan kama petak menjadi manik jeroning garba sebagai penyelamat orang tuanya.
Misalnya putra-putri yang dilahirkan dari kumpul kebo, ayah yang tak jelas, putra-putri yang terlahir tanpa upacara keagamaan, dan putra-putri yang lahir bukan hasil pertemuan antara ayah atau ibu yang sejati (hasil penyelewengan seksual) yang telah disepakati. Untuk memperoleh anak suputra perlu dilakukan penyucian terhadap kama bang dan kama petak.
Sekarang timbul pertanyaan ciri-ciri manakah yang diturunkan dan mempunyai arti bagi pendidikan? Di antara beberapa ciri biologis yang penting untuk tujuan pendidikan prenatal adalah kecenderungan bergerak atau berbuat. Pola-pola gerak dimulai sejak masa embrio dalam kandungan dan berlangsung sampai dengan setelah anak menjadi bayi walaupun gerakan itu masih kabur dan belum terarah (mass action). Makin berkembang umur anak makin berkembang pula gerakan tersebut yang makin terarah dan mengkhusus.
Gerakan-gerakan anak dalam kandungan menurut penyelidikan sangat erat hubungannya dengan kelancaran kemajuan motoris anak setelah lahir. Gerakan tersebut mengalami proses "differensiasi dan individuasi" sehingga berkat pendidikan yang sadar tercapailah berbagai-bagai tingkat penguasaan keterampilan (skills), sekalipun pendidikan yang diberikan melalui ibunya. Sebagai contoh, para ahli atau para seniman yang mempunyai keterampilan dalam melukis bisa saja keterampilannya ini ditularkan (diwariskan) dengan mengajak istrinya untuk berusaha mencintai dan dekat dengan kegiatan melukis. Artinya, apa yang ingin ditanamkan oleh seorang ayah kepada anaknya sudah bisa dimulai sejak anak dalam kandungan melalui perantaraan ibunya.
Selain pengaruh lingkungan tersebut, perkembangan anak juga sangat ditentukan oleh kondisi ibu yang mengandung. "Kelahiran anak-anak, pemeliharaan terhadap mereka yang lahir itu dan kehidupan sehari-hari bagi orang-orang laki, semua kejadian itu nyatanya wanitalah yang menyebabkannya". Banyak contoh yang dapat dilihat, baik dalam teori-teori umum (kondisi aktual) maupun contoh pada cerita-cerita pewayangan bahwa kondisi jasmani dan psikis dalam kandungan. Oleh karena itulah, ada anjuran agar tidak membuat ibu yang sedang mengandung merasa tegang, cemas apalagi terkejut.
Keadaan tegang yang akut maupun kronis dapat merambat melalui sistem hormonal ke placenta efek ini dapat bersifat sementara, tapi mungkin pula mempunyai pengaruh yang lama. Contoh yang tampak jelas adalah terjadinya kelahiran prematur yang meningkat, fantasi ibu mengenai bayi dan keibuan yang dipunyainya semasih gadis akan mempengaruhi "kelakuannya sebagai ibu dikemudian hari. Hubungan suami istri juga memegang peranan. Seorang ibu yang merasa suaminya kurang memberikan dukungan dan kasih sayang selama kehamilan, sadar atau tidak sadar akan merasa bersalah dan akan membenci anak yang dikandungnya.
Dalam cerita-cerita pewayangan dapat ditemukan bagaimana kondisi psikis ibu yang sedang mengandung dapat mempengaruhi anaknya. Ambillah contoh kelahiran Drestarastra dan Pandu dalam Adi Parwa. Diceritakan ketika Bhagawan Byasa akan mengadakan "Putra Pidana" (pemberian putra yang diresmikan dengan upacara keagamaan terhadap istri orang lain), yakni kepada Dewi Ambika dan Dewi Ambalika. Ketika terjadi pertemuan antara Dewi Ambika dengan Bhagawan Byasa karena ketakutan melihat keangkeran Sang Bhagawan sampai akhirnya Dewi Ambika memejamkan matanya. Dalam cerita disebutkan akibat memejamkan mata, maka Dewi Ambika melahirkan putra yang buta.
Demikian pula ketika pertemuan Dewi Ambalika dengan Bhagawan Byasa, karena ketakutan melihat keangkeran Bhagawan Byasa, maka Dewi Ambalika wajahnya menjadi pusat pasi. Dari pertemuan ini akhirnya Dewi Ambalika melahirkan, putra yang kondisinya putranya sama seperti ketika pertemuannya dengan Bhagawan Byasa. Putranya diberi nama Sang Pandu.
Kemudian dalam versi yang berbeda-beda tentang kelahiran Ganapati diceritakan bahwa sewaktu Dewi Uma mengandung terjadilan huru-hara di Swarga Loka yang menyebabkan gajah (kendaraan Betara Siwa) lepas. Gajah ini lari ke arah Dewi Uma yang menyebabkan Dewi Uma sangat terkejut dan ini mempengaruhi janin yang sedang dikandung. Pengaruh kejadian itu menyebabkan Dewi Uma melahirkan seorang putra berbadan manusia berkepala gajah, yaitu Ganapati.
Kisah lain terdapat dalam cerita Raja Brihadrtha (Raja Tjedi). Dalam perkawinannya beliau belum dirakuniai keturunan, yang selanjutnya beliau memanggil Maharsi Kausika, seorang Brahmana yang sidi dan mahir dalam weda. Beliau menyampaikan bahwa sampai saat ini belum dikaruniai keturunan yang didambakan. Akhirnya, Maharsi Kausika menuju kepemujaan untuk memohon petunjuk Hyang Widhi Wasa. Di akhir pemujaan beliau mendapatkan sebuah mangga ranum. Buah mangga tersebut diserahkan kehadapan Raja Brihadrtha dan diterimanya dengan termangu-mangu. Karena beliau mempunyai dua istri yang sama-sama dicintai, maka mangga tersebut diberikan kepada kedua istrinya dengan membelahnya menjadi dua bagian.
Akhirnya kedua permaisuri hamil secara bersamaan dan melahirkanpun secara bersamaam pula. Akan tetapi, putra beliau lahir tidak sempurna, yaitu berujud belahan bayi. Karena rasa malu, kedua bayi tersebut dibuang. Pada suatu saat kedua belahan bayi itu ditemukan oleh seorang raksasa dan secara tidak sengaja kedua bayi tersebut ditempelkan, maka terjadilah keajaiban bahwa setelah ditempel (disatukan) bayi tersebut menjadi sempurna. Bayi ini diberi nama Sang Jarasanda.
Selain penurunan sifat kejiwaan dan bentuk fisik, individu yang terlahir tidaklah dari semula "intelegent", tetapi mereka memiliki kapasitas-kapasitas keturunan yang berbeda-beda untuk menjadi intelegent. Bila perlengkapan herediter memiliki kapasitas yang genius (cerdas luar biasa), maka apa yang perlu dilakukan untuk menjadi genius adalah adanya stimuli-stimuli dari lingkungan. Sebaliknya, terbatasnya kapasitas dari herediter walaupun lingkungan diatur sebaik mungkin, anak itu akan tetap bodoh, ediot misalnya. Seorang ayah atau ibu yang cerdas misalnya dapat memiliki bermacam-macam kualitas "gen", yaitu dari yang cerdas sampai bodoh. Kalau kombinasi gen ibu dan ayah kebetulan sama-sama berkapasitas cerdas, anak itu menjadi cerdas tetapi, kalau kedua gen itu kombinasinya sama-sama berkapasitas bodoh, maka anak itu juga akan bodoh.
Konsep Pendidikan Prenatal Menurut Hindu
Dalam konsep memelihara dan mendidik bayi dalam kandungan tekanan lebih banyak ditujukan untuk pembentukan jiwa anak. Anak sejak dalam kandungan sudah dapat merasakan pola tingkah laku orang tuanya. Oleh karena itu, ibu yang sedang mengandung harus mampu mengendalikan diri (Manacika, Wacika, Kayika). Banyak larangan/pantangan yang harus diindahkan, dengan kata lain harus banyak melakukan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama. Kewajiban ini harus dipikirkan bersama-sama oleh kedua mempelai, yang telah dipersatukan menjadi satu jiwa dalam dua badan. Hal ini dinyatakan dalam kitab suci Weda (Atharvaveda VII. 36. 1), "Hendaknya manis bagaikan madu cinta kasih dan pandangan antara suami istri penuh keindahan. Semogalah senantiasa hidup bersama dalam suasana bahagia tanpa kedengkian (di antara mereka). Semoga satu jiwa bagi keduanya".
"Dalam Lontar Surya Sewana banyak dituangkan tentang ajaran pengendalian diri (Tri Kaya Parisudha) dengan ungkapan yang bervariasi, di antaranya variasi yang paling singkat seperti 'jangan tidak susila' atau 'jangan tanpa malu' (aywacawuh)". Semua ini ajaran ini menuntun manusia untuk mencapai tujuan pendidikan mental spiritual. Konsep pendidikan ini juga dapat dilakukan dalam hubungan dengan pendidikan prenatal. Selain itu banyak nasihat diberikan, baik kepada istri maupun suami ketika istri mengandung yang tujuannya adalah menumbuhkan dan mengembangkan jiwa anak dengan sempurna. (Selanjutnya)
Source: Ni Putu Suwardani l Warta Hindu Dharma NO. 497 Mei 2008