Visannam dinamaavignam ksudhaartam vyadhi piditam hertasvam vyasanaartam ca nityamaas-vaasayennarah
(Sarasamuscaya 252)
Maksudnya: Mereka yang harus diperhatikan nasibnya terutama oleh mereka yang sedang memegang jabatan pemerintahan negara adalah orang yang sedang kepayahan (angel), orang yang hina dina, orang miskin (daridra), orang yang sedang ketakutan,orang lapar, orang yang sakit (vyaadhi), orang sedang sengsara (manghidep lara), orang yang sedang diambil kepunyaan (inalap drbyanya), sedang kena rampas, dirampok (inahal), orang yang sedang mengalami duka nestapa.
Kehidupan beragama Hindu itu bukan hanya sembahyang dan menyelenggarakan upacara yandya semata. Sembahyang dan upacara yadnya adalah media untuk menanamkan nilai-nilai suci agama ke dalam lubuk hati umat untuk selanjutnya tergerak mewujudkan nilai-nilai suci agama itu dalam kehidupan empiris. Kalau hal itu tidak dilanjutkan setelah Sembahyang dan upacara yadnya berakhir, maka kegiatan itu akan sia-sia belaka.
Dalam Kekawin Ramayana ada dinyatakan: Prihan temen Dharma dumaranang sarat. Artinya: Utamakanlah Dharma (Agama) itu untuk menata atau memperhatikan nasib masyarakat. Teks Kekawin ini adalah bagian dari nasehat Sri Rama kepada Gunawan Wibhisana menjelang dia akan dilantik jadi Raja di Alengka Pura menggantikan Rahwana yang telah gugur dalam perang melawan Sri Rama. Teks singkat ini kalau diperhatikan memiliki nilai yang amat jelas tentang penggunaan agama sebagai kekuatan moral untuk mendorong siapa pun agar punya kepedulian pada nasib sesama. Apalagi mereka yang mendapat kepercayaan memegang jabatan dalam pemerintahan negara. Jabatan tersebut kewajiban utamanya adalah mengurus warga negara yang menderita untuk dapat hidup bahagia secara wajar. Memperhatikan nasib sesama itu sebagai pengamalan agama, bukan hanya upaya duniawi belaka.
Swami Satya Narayana menyatakan orang yang dapat disebut berkasta tinggi apabila ia merasakan penderitaan orang lain sebagai penderitaanya. Kalau merendahkan dan membuat orang lain menderita, mereka itulah sesungguhnya berkasta rendah. Ada Subha Sita (kata-kata bijak) Resi Wiyasa menyatakan intisari Itihasa adalah "para upakara punyaya, papaya para pidana". Artinya, barang siapa yang senantiasa melayani orang lain akan dapatkan "punia", akan papa nasibnya bagi yang senantiasa menyakiti orang lain. Pustaka Sarasamuscaya adalah sari pati dari pustaka Maha Bharata yang dibangun oleh delapan belas Parwa. Karena itu wajar ada sloka Sarasamuscaya 252 yang menekankan agar mereka yang punya jabatan dalam pemerintahan negara memperhatikan nasib mereka yang menderita untuk dibahagiakan.
Misalnya, rakyat yang sedang Angel, artinya kepayahan dalam memikul beban hidupnya. Payah fisik dan mental harus diberikan perhatian terutama membangkitkan semangat hidup mereka agar bisa mengatasi kepayahannya. Payah itu ada disebabkan oleh tenaga fisiknya yang lemah karena berbagai hal, ada juga karena lemah mental, sedikit ada masalah sudah kepayahan. Yang wajib juga diperhatikan nasibnya adalah mereka yang Daridra, artinya mereka yang miskin. Ada miskin kultural artinya miskin karena malas atau tak punya keterampilan atau juga kurang cerdas memanfaatkan peluang. Moral rendah dan mental lemah juga dapat menimbulkan kemiskinan kultural. Ada juga kemiskinan struktural disebabkan rakusnya para pejabat publik yang punya tugas dan kewajiban mengarahkan anggaran publik untuk memajukan masyarakat termasuk menciptakan lapangan kerja. Hal ini dapat diatasi dengan memberikan pendidikan dan latihan pada penduduk. Demikian juga pejabat publik yang rakus harus ditata dan ditindak agar mengutamakan peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan publik tidak rakus.
Vyadhi artinya sakit. Membangun kesehatan masyarakat harus diutamakan membangun wawasan yang dapat menanamkan sikap hidup sehat bagi masyarakat luas. Hal ini harus diciptakan sistem kesehatan yang dapat menciptakan lingkungan alam dan lingkungan sosial sehat sehingga mampu mencegah munculnya penyakit. Bagi yang terlanjur sakit harus diupayakan sistem pengobatan yang praktis dan tidak mahal. Misalnya, dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan di tingkat desa, sehingga dapat mengurangi kepadatan rumah sakit di pusat kota. Hal ini akan banyak sekali segi positifnya.
Menghidep lara maksudnya memperhatikan mereka yang sedang hidup menderita. Terkadang ada orang mungkin karena Karmanya dahulu menyebabkan berbagai upaya baik yang sudah dilakukan tetap saja dia mendapatkan kenyataan hidup yang sengsara. Seperti sulit rezeki, keluarga sakit sulit diobati, kena fitnah, dimusuhi keluarga dekat, banyak hutang dan berbagai kesusahan hidup yang menimpanya. Mereka ini wajib diperhatikan seperti menyiapkan tenaga konsuling yang profesional, dibantu membina keterampilannya, modal usaha dan hal lain yang mungkin dapat membantu mereka agar bangkit semangat hidupnya mengatasi penderitaannya.
Inalap drbyanya artinya orang yang diambil orang miliknya, apakah karena kecurian, karena kena gusur atau ditipu orang jahat. Mereka ini juga harus dibantu oleh pemerintah mengatasi nasib buruk yang menimpanya. Minimal diberikan bimbingan atau pendampingan dalam mengatasi persoalanya agar dapat diselesaikan menurut norma yang berlaku.
Inahal artinya sedih karena kena rampok sampai mengalami kedukaan. Kena rampok, kena tipu, dibohongi oleh orang jahat. Semuanya itu membuat orang yang demikian itu dalam kesusahan. Orang yang seperrti ini harus mendapat perhatian oleh berbagai pihak untuk mengangkat perbaikan nasibnya.
Oleh karena itu, Swami Satya Narayana menyatakan mendalami spiritual Weda harus mendatangkan tiga kepedulian yaitu Swastya Wahini peduli pada kesehatan, Widya Wahini yaitu peduli pada pendidikan dan Praja Wahini peduli pada perbaikan nasib masyarakat. Memperhatikan tiga hal itu bukan berarti rakyat itu dimanjakan, tetapi dididik dan dilatih agar rakyat mampu mandiri mengatasi segala persoalan hidupnya. Pejabat publik wajib menciptakan iklim hidup yang kondusif sehingga rakyat terdorong mandiri mengatasi persoalan hidupnya.
Source: I Ketut Wiana l Koran Bali Post, Minggu Paing, 7 Juni 2015