Natha dan Niti

Natha, raja atau seorang pemimpin, seharusnya berpegang teguh pada niti atau ajaran kepemimpinan. Sebuah kitab berjudul Nitisastra menguraikan secara mendalam ajaran kepemimpinan yang seharusnya dihayati oleh seorang pemimpin. Ajaran yang dikandung di dalamnya menyangkut berbagai aspek, mulai dari bagaimana seorang pemimpin membaca tanda-tanda jaman, menghadapi rakyatnya, sampai pada menentukan seorang pendeta kerajaan.

Nitisastra secara khusus menguraikan tentang tanda-tanda jaman kali, atau jaman kehancuran. Disuratkan sebagai berikut : "Apabila jaman kali datang, sungguh tiada yang melebihi dari kekayaan yang dihargai; tak perlu dikatakan lagi bahwa orang-orang pandai, pahlawan, pendeta, para ahli, akan menghamba kepada orang kaya; semua ajaran yang dirahasiakan oleh para pendeta akan hilang; rakyat dan pemimpinnya jatuh hina dan sengsara; anak-anak berbohong pada orang tuanya, mencela orang tuanya, orang kebanyakan dan para pedagang mendapat kemuliaan dan kepandaian.

Dunia akan tergoncang diselimuti kegelapan, para raja menjadi hina dan miskin, malah disedekahi oleh orang-orang kaya; para pelaku sandiwara pergi ke hutan melakukan tapa, disertai melakukan gerak mudra, sesuai dengan suasana jaman kali; orang kebanyakan menghina golongan pedagang, para pedagang tidak menghargai rajanya, karena memang raja jatuh miskin; raja berselisih dengan para pendeta, dan para pendeta malas melakukan pemujaan kepada Bhatara Siwa". Bagaimana tindakan raja menghadapi jaman seperti ini?.

Dalam kitab ini ditegaskan bahwa tidak ada kewajiban yang mulia yang melebihi kebenaran (satya), oleh karena itu agar pemimpin dihormati oleh rakyatnya maka tegakkanlah kebenaran sampai menemui ajal (mara ninamaskara yang isanekanang bhuwana matya satya wacana).

Nitisastra sangat menegaskan pentingnya seorang raja mendalami sastra. Janganlah seorang raja alpa sastra, terlebih menghina kitab-kitab susastra atau nindyeng sastra. Kitab-kitab yang dimaksud adalah kitab-kitab yang memuat ajaran kepemimpinan seperti kitab-kitab Itihasa, atau Ramayana dan Mahabharata. Oleh karena itu ketika memilih seorang pendeta kerajaan Nitisastra menyuratkan Prihalnya seorang pendeta kerajaan yang utama sebagai pendamping raja; beliau adalah orang yang mendalami sastra, benar-benar dapat menguasai karya-karya sastra yang utama; mengetahui hakikat ilmu pengetahuan, dan mendalami sari ajaran kerohanian; beliau selalu memuja Siwa melaksanakan ajaran agama dengan sungguh-sungguh". Dengan demikian seorang raja benar-benar memiliki pengetahuan yang luas, termasuk mendalami karya-karya sastra yang utama. Seorang raja adalah juga seorang yang dapat mengapresiasi nilai-nilai keindahan, bukan hanya orang yang ingin bertempur atau ingin menjadi pahlawan.

Memang seorang pemimpin atau natha hendaknya tidak mabuk kekuasaan. Ia hendaknya dapat mengalahkan musuh-musuh di dalam dirinya terlebih dahulu, seperti kemarahan, kerakusan, kelobaan, kemabukan dan sebagainya. Mabuk kekuasaan atau kasuran, adalah salah saru kemabukan yang diingatkan kepada sang natha di dalam kitab Nitisastra.

Source: Ki Nirdon l Warta Hindu Dharma NO. 511 JUli 2009