Nilai-Nilai Agama Hindu dalam Tutur Gong Besi Bagian Dua

(Sebelum)

Pada sasih caitra (bulan kasanga atau Maret), seluruh kerja baik kecil dan besar tidak baik atau sangat buruk dilaksanakan, oleh karena saat sasih itu merupakan hari persidangan segala bhuta dan kala. Saat itu semua pintu sorga tertutup karena dijaga oleh Sang Suratma, Sang Jogormanik, dan Sang Suralisu. Yang baik dilakukan saat itu adalah melakukan caru atau persembahan ke hadapan para bhutakala atau bhuta yajna, oleh karena para bhutakala menjelajahi seluruh wilayah di jagat raya ini. Maka dari itu pada saat tilem kasanga sangat baik untuk melakukan upacara bhuta yajna.

Selain itu juga dijelaskan mengenai wariga yakni tentang perwatakan menurut panca gati yaitu umanis, paing, pon, wage, kliwon yang dikaitkan dengan kelahiran bayi. Bila bayi lahir pada umanis wataknya berhati belas kasihan, sayang dan baik budi; lahir pada paing wataknya selalu jijik, lahir pada pon wataknya bodn atau tidak ramah; lahir pada wage wataknya senang merusak; dan lahir pada kliwon wataknya suka curang, berakal licik, dan berbuat dosa. Juga terkandung nilai perwatakan menurut panca wara, sapta wara, panca wisodo, seperti : wisesa sagara (wataknya berwibawa besar), tunggak semi (tidak beruntung), satrya wibawa (mendapat kedudukan baik), sumur sinabha (baik tempat berguru), satrya wirang (mendapat malu dan kemarahan), bhumi kupetak (pikiran kuat, suci dan tahu segala kerja), dan lebu katiup angin (nista, miskin, dan sengsara). Sedangkan perwatakan menurut sad wara yakni tungleh (ingkar pada janji), aryang (sering lupa), wurukung (ceroboh), paniron (banyak bicara/takabur), was (irihati), dan maulu (ragu-ragu).

Sedangkan perwatakan menurut asta wara yakni sri ( wataknya belas kasihan dan sayang), indra (cerewet angkuh, teguh pada pendapat sendiri), , guru (gemar melakukan percobaan tapi cerewet), yama (banyak pertimbangan dan manis pandangannya), rudra (suka percaya pada orang lain), brahma (miskin, mengaku-ngaku), kala (dengki, serakah, suka mengadu), dan tima (sering susah dan jahil). Kalau perwatakan menurut sanga wara yaitu dangu (wataknya manis, halus, gagah, jahil), jangur (tanpa keterangan), gigis (sangat kuat), nohan (tanpa keterangan), ogan (rajin dan ulet), herangan (rajin berdoa), urungan (selalu marah), tulus (banyak cita-cita dan berhasil), dan dadi (tidak mau ketinggalan). Juga dijelaskan mengenai perwatakan menurut pawukon, yakni sinta (wataknya prihatin, angkuh), landep (hati dan ingatan terang), ukir (didekati buruk, hatinya bingung), kulantir (lagi suka, lagi duka), tolu (cerewet dan angkuh), gumbreg (banyak bicara, cakap, suci pikiran), wariga (berhasil dan cacat), warigadean (dungu dan bohong), julungwangi (manis kata-kata, tahu segala kerja), sungsang (selalu marah), dunggulan (berhasil, tunduk, tertib, dusta), kuningan (banyak kata-kata dan ingkar), langkir (kata-katanya membuat jengkel), medangsia (marahnya tak terhalang), pujut (perhatian dan berhasil), paang (prihatin, susah di dalam, senang diluar), krulut (keras, pedas, gagal), merakih (bengis, kikir, halus, rapi, manis), tambir (berwibawa, suka marah), medangkungan (suka pamer, sengsara! pikiran noda, malas), matai (kata-katanya menyakiti, hati dan perasaan baik), uye (suka membicarakan kesusahan) , menail (malas, pikiran tamak), perangbakat (malu-malu, banyak pengetahuan, kalem, tenang, terampil), bala (sering salah sasaran, terhalang, tersesat), ugu (sulit, besar hati, pandangannya luas), wayang (bingung, suci hatinya, kaya sejahtra, budi menawan), klawu (berawal miskin, berakhir kaya), dukut (dikasihi, tampan, tak punya malu), dan watugunung (berhati/berbudi  terang,  paham pekerjaan dan pantas).

Pada bagian lain juga dijelaskan tentang penjelasan wuku sesuai panca wara dan sapta wara maupun, penjelasan pawukon terkait dengan sifat manusia. Ajaran kelepasan berupa dharma tattwa, hatur kamulan, desa kroktah, sundari tiga, surya tiga, agar dipahami dengan baik.

Keempat, nilai spiritual (kalepasan/kajnanan) juga terkandung dalam tingkah tutur gong besi, antara lain tentang keputusan sanghyang mimbayagni ajaran Resi Dwijendra kepada Manik Angkeran saat berbakti di Parahyangan Besakih. Dibicarakan juga ajaran panca geni (lima api) dalam badan. Yang tujuan untuk membakar habis racun dalam badan dengan mengucapkan mantra tertinggi yaitu Sanghyang Mantra Wisesa. Adapun mantranya : "Om upas waryang, upas kasulayah, upas gringsing wayang, upas sigar mangsi, upas geni, uwah ta ngko denku, gsengmu kabeh katadah dening sanghyang gni, mangdadi awu, kagunturan dening udan mrtha, tlah kabehmu, sasar sumasar, hrang 3x, ang ah 3x (Tim Penyusun, 2002: 54). Ilmu ini dinamai juga Kuntyagni yang dibawa dari Majapahit.

Ada pula ilmu tentang pengaradan dewa dengan cara menepuk lekuk antara paha dengan kemaluan (pikang) tiga kali, dibalik tiga kali dengan mantra : "Ong Yang Dewa Bhatara, teka wlas asih, ong 3x, teka asih 3x, jeng tlas (ibid). Kemudian ini ilmu pematuh ndewasraya yaitu dengan cara merapalkan mantra yaitu : "Ong Indra Sanghyang Wiji Kamalasa, Aku Sanghyang Wisesa, Aku Sanghyang Wit Sakti, apan akuamatuhang sarwa wisya, sarwa sakti, Aku maring Majapahit, Aku amatuhang bhuwana kabeh, tka patuh ingkup 3 x, tlas (ibid, 55).

Selanjutnya juga diajarkan mengenai ilmu bagaimana untuk menarik para dewa, terutama pada hari Kamis, umanis, guru, wuku klawu, pada purnama kadasa, dan tilem pananggal 1, atau Jumat penanggal ke-4, 5, 9, 10, 13, dengan mantra : "Ong platak, ong platik, ong tluh, endih, enduh, Hyang Nini dewata kabeh, angrenga swara umumwa bangkit, ong tke i menangis, Sanghyang Mraja Hyang Bhatara Kunti, ih wwih lengjeng, 2x (Ibid). Pada bagian lain juga diajarkan tentang hakikat manusia melalui ilmu yang disabdakan Sanghyang Dharmatattwa kepada Wiswakarma dan, Yogiswara sebagai ajaran seluk beluk hidup dan mati, manusia dengan perwujudan sakala dan niskala, baik dan buruk, tidur dan terjaga, yang disertai dengan upacara suci lepas pusar, tiga bulanan, otonan, yang tergolong pradana sakala, serta upacara pebersihan setelah sebelas hari, ngaben, mukur, nyekah, ngeroras, matuun mensthanakan, yang tergolong pradana niskala (upacara terhadap orang yang telah meninggal). Juga ajaran kependetaan sebagai ajaran yang dianugerahkan oleh Sanghyang Suksmantara Wisesa.

Kelima, nilai kebahagiaan (anandam) juga terkandung dalam tutur gong besi. Diajarkan agar umat manusia meningkatkan kesucian diri menuju kesempurnaan pikiran (manacika parisuddha), kesucian perkataan (wacika parisuddha), kesucian perilaku (kayika parisuddha), pengabdian (bhakti), jasa (yasa) pengendalian diri (tapa), hubungan rohani (yoga), pemusatan dan penyatuan diri dan pikiran kepada Hyang Widhi (samadhi). Selain itu disertai pula dengan merapalkan mantra suci Sanghyang Atma Wisesa.

Jadi sebagai upaya menuju kesempurnaan hidup (purna jivan) serta kebahagiaan hidup (anandam) diawali dengan memahami hakikat diri berupa panca atma, panca indriya, panca bayu, dan panca brahma. Dengan demikian nafas, ucap, dan pikiran terkontrol melalui mantra. Sanghyang Atma Wisesa. Setelah itu secara kontinyu melakukan tapa, brata, yoga, dan samadhi. Dengan demikian bahwa tutur gong besi merupakan naskah tradisional Bali yang sarat dengan nilai ajaran agama Hindu (Siwaistik), yakni : nilai teologi atau brahma vidya, persembahan/ritual (yajna), padewasan/ baik buruk dewasa (subhasubhacara), nilai spiritual/ kelepasan (kajnanan), dan nilai kebahagiaan (anandam).

Source: Ketut Subagiasta l Warta Hindu Dharma NO. 474 Juli 2006