Ongkara Nyasa Brahman

Ongkara merupakan aksara tertinggi dalam aksara Bali dan Ongkara dimaksud ditulis () yang merupakan ke-empat putra Sang Hyang Brahma. Hal ini sangat seirama dengan Babad Brahmana Catur, disebutkan bahwa Sang Hyang Brahma mayoga maka lahir Ongkara (). Kamus Jawa Kuna Indonesia menguraikan, Aksara berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti kata suci. Sehingga, Ongkara merupakan kata utama dan suci. Ongkara merupakan nyasa Ida Sanghyang Widhi Wasa. Dengan demikian Ongkara senantiasa mengawali setiap mantra. Ongkara berhubungan dengan yadnya khususnya yang berkaitan dengan Kramaning Sembah dalam hal ini sarana yang berupa kwangen, sejatinya merupakan nyasa Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus merupakan nyasa suara tertinggi.

Guna kepentingan kehidupan maka Ongkara, memecah diri menjadi tiga ang (*), ung () dan mang (*) yang sejatinya merupakan Tri Murti. Dengan demikian Aksara Bali meliputi Utpati (pencipta), Sriti (pemelihara) dan Pralina (pelebur/kembali ke asal). Sehingga dalam hidup dan kehidupan umat Hindu yang bersuku Bali, sangat akrab dengan Aksara Bali, baik dalam bidang sastra dan Agama. Bidang karya sastra, Aksara Bali yang merupakan nyasa suara senantiasa digunakan dalam penulisan berbagai Lontar yang memuat berbagai Tattwa, Etika, dan Upacara Agama.

Di samping terwujudnya Ongkara yang merupakan rangkuman ang, ung dan mang, sejatinya Ongkara terbentuk melalui komponen alam dari benda tak terwujud yaitu suara, ia juga terbentuk dari benda berwujud yang berupa alam semesta di antara bumi serta candra (bulan). Ongkara itu sendiri pula terbentuk dari bilangan yaitu angka 3, yang selanjutnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
Nada = suara
Windu = bumi
Ardha Candra = bulan sabit
Tiga = 3

Dapat dijelaskan bahwa Ongkara tercipta melalui yoga Sang Hyang Brahma. Ongkara itu pada awalnya yang diciptakan terlebih dahulu adalah pada nada atau suatu kemudian bumi sebagai tempat hidup manusia, selanjutnya bulan. Guna kepentingan kelangsungan hidup dan kehidupan maka Brahman mencitakan dirinya sendiri yaitu Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara dan Siwa sebagai pengembali ke asal kehidupan yang dinyasakan dalam angka tiga. Dengan demikian angka tiga nyasa Tri Murti untuk memutar proses kehidupan sesuai dengan Rta.

Nada merupakan bagian yang demikian penting dalam kehidupan, sehingga ada makna yang demikian strategis untuk dipetik sekaligus sebagai motivasi dalam kelangsungan hidup umat manusia. Nada adalah suara Brahman, yang tak terpisahkan dengan gita atau lagu. Dihubungkan dengan Bhagawadgita atau nyanyian Tuhan, Dengan demikian nada memiliki makna yang demikian dalam sehubungan dengan memuja Tuhan, senantiasa dengan lagu-lagu illahi atau mantra.

Windu atau bumi sebagai tempat hidup dan berlangsungnya kehidupan. Bumi dinyasakan dalam Dewi Pretiwi, yang sejatinya patut dihormati. Sehingga guna kelestarian hidup dan kehidupan, maka bumi harus dilestarikan. Guna perwujudan pelestarian ini, maka pemahaman tentang pemanfaatan serta pengembangan bumi secara profesional dan proporsional seharusnya dilakukan, tentunya kelakuan semacam ini sangat baik dimulai dan tumbuh dan termotivasi dari dalam diri sendiri.

Candra atau bulan dalam keagamaan Hindu khususnya wariga, menempati fungsi yang strategis dalam menentukan baik-buruknya hari, terutama yang berhubungan dengan pananggal dan panglong. Di samping perhitungan pananggal-panglong, candra pula dipergunakan sebagai penentuan hari raya berdasarkan sasih (bulan) seperti Hari Rava Nyepi maupun Siwaratri.

Angka 3 merupakan nyasanya Tri Tunggal yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa yang merupakan penguasa pengaturan perputaran hidup dan kehidupan jagat raya. Penciptaan merupakan kuasa Dewa Brahma, Wisnu merupakan penguasa di bidang memelihara sedangkan Dewa Siwa, kuasa atas kembalinya mahluk hidup keasalnya. Tentunya pertimbangan inilah angka tiga dijadikan salah satu sarana Ongkara. Sehingga ongkara di samping sebagai nyasa Brahman, maka Ongkara merupakan miniatur alam semesta. Dalam yadnya, Ongkara dinyasai oleh Kwangen. Masing-masing komponennya memiliki arti seperti cili merupakan nyasa nada, uang kepeng merupakan nyasa windu, lingkaran pada kojong merupakan nyasa arda candra sedangkan kojong itu sendiri merupakan nyasa angka 3.

Dengan demikian Ongkara tidak hanya melambangkan Ida Sang Hyang Widhi Wiasa, namun juga merupakan miniatur alam semesta beserta penguasanya. Sehingga Ongkara adalah asal muasal, memelihara serta mengembalikan kehidupan. Pembelajaran, penguasaan, pengembangan, pemanfaatan dan pelestarian serta senantiasa melantunan Ongkara secara rutinitas, merupakan pembangkitan cahaya illahi diri manusia serta mencerahkan kehidupan di maya pada maupun di alam kaniskalan/akherat.

Source: Dra. Ida Ayu Made Suerti l Warta Hindu Dharma NO. 492 Desember 2007