Pada Awalnya Keduanya Menjadi Satu, Pada Akhirnya Keduanya Menjadi Nol

Mengadu ujung duri (angadu tungtung ing rwi)

Ungkapan itu terdapat  dalam beberapa teks Sastra Kawi. Juga sering terdengar dalam apresiasi sastra di kalangan terbatas. Maksud ungkapan itu, kurang lebih, walaupun sangat sulit bukannya tidak mungkin. Artinya, bukan sesuatu yang mustahil. Bila kedua ujung duri itu berhasil dipertemukan, itulah yang disebut ''tepat'' (tepet). Dalam konteks upacara, tepet adalah satu dari tiga syarat. Dua syarat lainya adalah halus (suksma) dan rahasia (rahasya). Tentang suksma dan rahasya kita bicarakan lain kali. Berikut ini sedikit tentang tepet.

Pertemuan dua ujung duri biasanya berlangsung tidak lama. Mungkin sedetik, dua detik. Sedetik dua detik itulah yang disebut momen oleh orang-orang modern. Jadi, selain kondisi fisik, tepet juga ditentukan oleh momen. Dalam bahasa lain, momen itu disebut kala. Pertemuan ujung malam dengan ujung pagi disebut prabhata, juga disebut tepet. Pertemuan ujung siang dengan awal malam disebut sandyakala, juga disebut tepet, ketika manusia yang berdiri tidak punya bayang-bayang.

Karena demikian pentingnya momen itu, tradisi memandangnya sebagai sesuatu yang hidup, yang berkuasa: Dewa atau Batara. Naik dan turunnya manusia ditentukan oleh momen. Bila naik ia menjadi dewa. Bila turun ia menjadi bhuta. Apakah momen itu ada atau diciptakan? Itulah permasalahannya. Dalam kasus mengadu dua ujung duri, adanya momen karena diusahakan, dipelajari, dilatih, dan ditunggu dengan penuh kesabaran.

Sabungan ayam (tajen) di Bali memiliki hubungan dengan filosofi ujung duri di atas. Dua ayam jago yang diadu dipasangi taji di kaki masing-masing. Pada momennya, kedua hewan aduan itu memperagakan bagaimana seni mengadu di dua ujung taji. Jarang bahkan hampir tidak pernah kedua ujung itu beradu walau setengah detik sekalipun. Yang sering dan selalu terjadi, masing-masing ujung menusuk tubuh satu sama lainnya. Salah satu atau keduanya mati.

Dalam tradisi Bali dikenal sebuah cerita tentang seorang bebotoh yang mencapai tujuan spiritualnya dengan mencintai dan menjalani profesi judinya. Nama tokoh cerita itu adalah Bagus Diarsa, pekerjaannya mengadu ayam. Dalam cerita tidak diketahui apakah ia pernah berhasil mempertemukan kedua ujung taji ayam aduannya. Yang diketahui, ia kemudian mendapatkan sehelai bulu ayam ajaib. Dengan sehelai bulu itu ia bisa datang ke sorga dengan masih mengenakan badan jasmani. Bulu itu terbang menuju arah timur laut, Bagus Diarsa mengikutinya dari bawah.

Ada hubungan apa antara ujung taji dan bulu ayam? Menurut Ida Padanda Sebali Kenatan yang berasrama di Lombok, apalah ayam itu kalau bukan rajas. Apalah taji itu kalau bukan teknik dan keberanian plus keikhlasan mengadu rajas demi kebebasan dari rajas itu sendiri. Saat biji-biji beras ditaburkan, perhatikanlah, ayam tidak akan langsung mematuk-matuknya, tapi terlebih dahulu memerangi ayam lainnya. Tidak begitu halnya dengan piaraan yang bernama bebek, karena bebek itu representasi sattwa. Apalagi babi, nyata-nyata adalah penjelmaan dari tamas. Trilogi sattwa-rajas-tamas itulah doktrin Trigunatattwa, sumbangan pikiran penting dari paham Samkhyadarshana bagi belantara ajaran Hindu. Jadi dengan mengendarai rajas tokoh cerita Bagus Diarsa sampai ke sorga. Sekali lagi, rajas itu dikendarai. Bukan dimusnahkan. Demikian antara lain percakapan suatu sore di ''asrama-hutan'' Sang Wiku di Sweta, Cakranegara.

Filosofi di balik taji ayam aduan mengajak kita merenung tentang makna tepet. Lalu, dalam konteks ritual, upacara yang bagaimanakah disebut tepet? Jawabannya, menurut teks, bila telah bertemu antara yang memuja dengan yang dipuja, yang membayangkan dengan yang dibayangkan, yang merindukan dengan yang dirindukan, maka itulah tepet.

Pertemuan itu menyebabkan tidak ada lagi yang memuja dan yang dipuja, yang merindukan dan dirindukan, yang mencari dan yang dicari, yang disebut di luar dan yang disebut di dalam, yang disebut sakala dan yang disebut niskala ''hilang''. Pada awalnya keduanya menjadi satu. Pada akhirnya keduanya menjadi Nol.

Angka Nol, dilihat dari bentuk luarnya melambangkan kekosongan karena hanya pada angka itu semua titik yang membangun garis bertemu. Dilihat dari dalam, angka Nol melambangkan kepenuhan, karena tidak ada lubang, bahkan udara pun tak bisa keluar.

Istilah kosong dan penuh hanyalah penamaan manusia yang masih mencari, baik pencarian yang dilakukan ke arah luar maupun ke arah dalam. Sesungguhnya, tepet tidak bisa dideskripsikan. Persis seperti mendeskripsikan rasa asin, pedas, manis, dan sebagainya, pasti akan gagal. Tak seorang pun bisa menjelaskan apa itu asin kepada orang yang belum pernah mencicipi garam. Semua guru akan gagal menjelaskan apa itu manis kepada orang yang belum pernah makan gula dan yang sejenisnya. Moksa tidak akan bisa dirasakan oleh orang yang masih ''bercampur''. Tak semua hal bisa diajarkan dan dipelajari. Banyak hal hanya diketahui lewat pengalaman langsung, pengecapan langsung. Itulah inti agama, yang disebut anandam, yakni rasa dan hanya rasa yang dalam, rasa yang abadi, maharasa, parama-ati-rasa.

Upacara yang tepet tidak akan mengantarkan orang pada pengulangan-pengulangan. Sedangkan ritual yang tidak tepet menyebabkan segalanya berulang dan berulang, suka-duka, suka-duka, terus, terus. Pulau Bali terkenal sebagai pulau tempat ritual. Orang Bali dikenal hebat dalam hal ritual. Tidak ada yang tahu berapa dari ribuan ritual itu yang tepet.

Source: IBM Dharma Palguna l Balipost, Minggu Wage, 20 Agustus 2006