Pengalaman Sebagai Guru Utama dan Pengalaman Berguru

Apakah Pengalaman itu bagi Anda ?

Pengalaman, sesuai dengan tataran keberadaan kita, sebetulnya ada tiga jenis. Namun, lantaran ketidak sadaran kita akan keberadaan kita sendiri, kita menyangka hanya pengalaman jasmaniah yang fisikal-indriawi inilah satu-satunya pengalaman. Apa yang selama ini kita sebut dan anggap sebagai pengalaman hanyalah sebatas pengalaman fisikal-indriawi ini saja.

Sejalan dengan itu, kita pun beranggapan kalau yang bisa disebut dan dianggap sebagai perbuatan, tindakan atau kerja hanyalah kerja fisikal melalui indra-indria motorik yang ada saja. Kerja mental misalnya, bukanlah sebentuk kerja bagi kebanyakan orang; apalagi kerja spiritual. Bahkan, konyolnya lagi adalah, tak sedikit di antara mereka yang menyebut dirinya-menekuni ke-hidupan spiritual, masih beranggapan kalau kerja atau laku spiritual harus berupa kerja atau laku fisikal-mekanis.

Pendeknya, semua kerja haruslah kerja fisikal-mekanis. Di luar itu, bukan kerja. Yang menganut pola-pandang seperti inilah yang disebut dengan berpola-pandang kasat-indra. Mereka sangat terkondisi oleh bentuk-bentuk kinerja indriawi. Sesuai dengan bakat dan kecendrungan masing-masing orang, secara faktual kita saksikan kalau banyak orang-orang yang sangat minim kerja fisikal-motoriknya, namun bisa menghasilkan sesuatu yang jauh melebihi -baik secara kualitas maupun kuantitas-hasil dari mereka yang bekerja membanting tulang. Mereka adalah para 'pemeras-otak' bukan' pembanting -tulang. Mereka bekerja secara mental, menggunakan intelek,
dimana pengalaman pengalamannyapun tidak semata-mata bersifat fisikal.

Namun, Para 'pembanting tulang dan pemeras keringat' tidak bisa menghargai kerja seperti itu, dan mengalami kesulitan besar untuk menerima pengalaman mereka sebagai suatu pengalaman. Sejalan dengan itu, bagi para 'pembanting tulang dan pemerasan-keringat', hasil mestilah berupa bentuk-bentuk materi. Mereka tidak bisa menghargai 'keuntungan moril'. Buat mereka keuntungan mesti berwujud materiil.

Demikianlah; pemilahan secara ekstrim tipe manusia seperti itu memberi kita pemahaman sedikit lebih mendalam tentang diri kita. Bermodalkan daya pemilah-milah secukupnya, lebih besar kemungkinannya kita memandang dengan benar, secara proporsional dan seperti apa adanya.

Yang belajar dari Pengalaman

Walaupun setelah jatuh besar kemungkinannya kita akan berjalan dengan hati-hati, namun untuk bisa berhati-hati berjalan, kita tidak mesti pernah tersungkur bukan? Pengalaman jatuh, atau sekedar terperosok, bisa mengajari apapun bagi yang lainnya. Oleh karenanya, pengalaman terjatuh tidak menjamin seseorang menjadi sadar. Seseorang bisa saja jatuh tersungkur berkali-kali, bahkan sampai cedera berat, tetapi tetap saja tidak membuatnya jera, tidak membuatnya sadar. Makanya, tidak semua orang benar-benar bisa belajar dan mengambil hikmah dari pengalamannya sendiri; apalagi dari pengalaman orang lain.

Adalah benar kalau dikatakan bahwa 'pengalaman adalah guru utama'. Akan tetapi itu hanya berlaku bagi mereka yang memang mampu dan mau belajar dari pengalamannya. Tidak bagi semua orang. 'Belajar dari pengalaman' ternyata memang tidak berlaku umum dan otomatis bagi semua orang. Kejeraan bisa mengajari banyak hal bagi semua orang, namun pengalaman belum tentu.

Menarik manfaat dari Pengalaman

Suatu pengalaman yang sangat berkesan, apalagi bila ia sampai menyebabkan trauma, akan diingat seumur-hidup. pengalaman seperti itu, secara alamiah, menggurat bekas di bawah-sadar kita. Kalau pengalaman itu bersifat positif, seperti suatu pengalaman atau pelajaran spiritual misalnya, tentu akan banyak manfaatnya. Ia bisa mencerahkan atau sekurang-kurangnya sekedar mentransformasikan seseorang secara lebih signifikan. Akan tetapi bila ia bersifat negatif, yang berakibat buruk bagi mental maupun spiritual, maka akan sangat sulit menghapuskan diri dari ingatan.

Setiap pengalaman ya berkesan, baik yang bersifat baik maupun buruk, sama-sama akan berpengaruh terhadap kehidupan seseorang sesudahnya. Sayangnya, kita tidak (selalu) punya wewenang untuk memilih hanya yang baik-baik saja. Seringkali kita sepertinya dipaksa untuk menghadapi yang buruk juga.

Akan tetapi, suatu pengalam yang buruk-seburuk apapun adanya-belum tentu berpengaruh buruk juga terhadap kehidupan kita selanjutnya; ini tergantung mampu tidaknya kita menarik hikmah atau pembelajaran-diri dari padanya. Bila kita mampu, setiap pengalaman akan berpengaruh positif bagi  kita. Sayangnya, tidak semua orang punya kemampuan itu, dan bagi yaang mampupun tidak semua kemampuannya sama. Makanya, bukan pengalaman-pengalaman buruk yang harus dihindari atau yang baik yang harus diburu, namun kemampuan menarik hikmah atau pembelajaran diri sebesar-besarnyanlah yang perlu ditingkatkan. Hanya dengan begitulah seseorang akan selalu bisa menarik manfaat yang sebesar-besarnya dari setiap pengalaman hidupnya.

Bagaimana Anda memetik pembelajaran belajaran-diri dari Pengalaman

Kita  pasti  mengalami  dan merasakan, bahkan mengingatnya nanti, apa yang kita alami sekarang ini apa yang Anda baca sekarang ini namun bila kita tak memahami apa sesungguhnya yang sedang kita alami, pengalaman ini tak banyak artinya bagi kehidupan kita secara keseluruhan, kita tidak akan memetik pembelajaran apapaun daripada semua ini. Demikian pula kalau kita hanya hanyut dalam sebentuk pengalaman tertentu yang umumnya kita sebut dengan menikmatinya itu - kita juga tak memperoleh pelajaran apapun daripadanya, kecuali sekedar kenangan untuk diingat-ingat kemudian. Tak lebih dari itu; hanya menimbun kenangan demi kenangan.

Namun, kendati hanya untuk paragraf tulisan yang Anda baca ini saja, kalau Anda benar-benar memahaminya, Anda bisa memetik pembelajaran-diri luar biasa besar yang bahkan bisa saja merubah perjalanan hidup Anda sesudahnya. Pengalaman hidup tak selalu mengajari kita sesuatu yang benar-benar bermanfaat, apalagi berdaya-rubah, kalau kita tak memahami apa sesungguhnya yang kita alami itu, mengapa kita mengalaminya sementara yang lainnya malah tenang-tenang saja, padahal rumah kita sama-sama tenggelam dalam luapan lumpur-yang seakan-akan tak habis-habisnya-itu misalnya.

Seberapa menyakitkanpun suatu pengalaman hidup tak akan mengajari kita apapun, kalau kita tak memahami apa sesungguhnya itu. Dan, untuk bisa memahaminya dengan baik kita tak boleh menolaknya dan lari darinya, tak boleh mengutuknya, atau sekedar hanyut di dalamnya. Kita diminta benar-benar awas akan reaksi-reaksi internal yang ditimbulkan oleh semua itu serta merasakannya dengan sikap-batin netral.

Bisakah kita menyikapi setiap pengalaman-baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan-dalam sikap-batin seperti itu? Bila bisa, kita memperoleh pembelajaran-diri; bila tidak, kendati yang serupa itu terjadi berulangkali di dalam kehidupan ini, kita tetap saja tak memperoleh pembelajaran-diri apapun daripadanya, dan oleh karenanya pula derita dan kepedihan itu harus terus akan kita rasakan lagi dan lagi.

Pengalaman Berguru

Pengalaman uyang utuh, yang mengajari kita sesuatu, adalah pengalaman yang 'dirasakan' dan juga 'diketahui' secara langsung, pengalaman yang dipahami. Mengalami tanpa merasakan, tidak mengasilkan pengalaman yang utuh. Demikian pula mengalami tanpa mengetahui apa sebetulnya yang kita alami itu. Merasakan dan mengetahui membentuk suatu pengalaman yang lengkap, yang utuh. Hanya pengalaman yang utuh inilah yang bisa mengajari kita sesuatu, yang layak diposisikan sebagai "guru utama".

Oleh karenanyalah, tak banyak orang yang bisa menjadikan pengalamannya sebagai "guru utama" - seperti slogan yang sangat sering kita dengar itu. Mereka hanya sekedar mengalami begitu saja, sama seperti yang lainnya. Paling-paling itu hanya melekat dalam ingatan sebagai kenangan saja, tanpa mengajarinya apapun.

Seorang Guru melatih kita untuk bisa merasakan, dan memberitahu kita apa yang sesungguhnya kita rasakan itu. Pelatihan-pelatihan fisikal apapun bermanfaat untuk mengasah kepekaan kita, mengasah kepekaan kita untuk bisa merasakan rasa itu. Pelatihan-pelatihan itu mendekatkan kita pada rasa itu sendiri. Dan, wejangan-wejangan atau petunjuk-petunjuk beliaulah yang memberi kita pengetahuan akan apa sebetulnya yang kita rasakan di dalam latihan. Disini fungsi sentral dari keberadaan seorang Guru. (Selanjutnya)

Oleh: Anatta Gotama
Source: Warta Hindu Dharma NO. 525 September 2010