Prihan Temen artinya usahakan dengan sungguh-sungguh. Namun apa yang harus diusahakan dengan sungguh-sungguh?. Kakawin Ramayana menyuratkan bahwa tegaknya dharma atau kebenaran dalam menjalankan pemerintahan itulah yang hendaknya diusahakan dengan sungguh-sungguh : Prihan temen dharma dumaranang sarat. Ini adalah nasehat Sri Rama kepada Wibhisana yang baru saja dilantik sebagai raja di Alengka menggantikan Rawana.
Namun demikian kalimat itu masih dilanjutkan dengan pernyataan bahwa apa yang dilaksanakan oleh seorang bijaksana (sadhu) itulah yang hendaknya dituruti, beliau tidak mengutamakan harta maupun keinginan dan jasa; namun beliau benar-benar berkeyakinan bahwa saktinya seseorang adalah hanya karena menegakkan dharma. Dan yang lebih menarik lagi kepada Wibhisana yang memerintah di negeri "para raksasa" itu dijelaskan : usahakan dengan sungguh-sungguh pula untuk memegang teguh ajaran manu (manupadesa prihatah rumaksaya). Apa yang disebut sebagai ajaran manu tersebut?.
Dalam kitab Sarasamuscaya ada uraian yang menarik perhatian kita, yaitu apa yang disebut sebagai sabda bhatara Manu, suatu ajaran yang harus dilaksanakan oleh keempat golongan manusia. Ajaran itu pun jumlahnya empat yaitu Arjawa artinya jujur dan terus terang (siduga duga bener), Anrasangsya artinya tidak mementingkan diri sendiri (tan mamuhara sukha ri awaknya), Dama artinya dapat menasehati dirinya sendiri (tumangguh hana awaknya) dan indriya-nigraha artinya mengendalikan indriya (humret indriya). Keempatnya disebut sebagai prawreti pat yaitu empat perilaku yang harus dibiasakan oleh manusia. Dan prilaku ini pulalah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, dan menempatkan manusia sebagai makhluk tertinggi.
Namun demikian Sarasamuscaya ada juga menekankan dua hal yang harus sungguh-sungguh dikuasai (temen temening yogya kawasakena) yaitu ahimsa dan satya. Ahimsa artinya tidak menyakiti dan tidak membunuh, satya artinya senantiasa berpikir dan berkata benar, tidak berniat jahat pada makhluk apapun.
Pada bagian lain Sarasamuscaya juga menekankan bahwa kemarahan itu hendaknya benar-benar diusahakan pengekangannya (tang kroda prihen temen khretanya), terutama kemarahan kepada raja, pendeta, anak-anak, wanita yang sedang mengandung, orang tua yang telah lanjut usia, orang yang menderita sakit.
Itulah beberapa hal yang benar-benar ditekankan oleh kitab suci Sarasamuscaya termasuk kitab sastra kakawin Ramayana. Yang tersirat dari penekanan ini adalah bahwa manusia hendaknya dapat menjaga keagungan dan kemuliaan dirinya, tidak malahan jatuh ke kebiadaban. Dengan demikian manusia dapat menegakkan ajaran Manu, dapat membangun kebudayaan yang berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, dapat membangun peradaban yang memancarkan nilai-nilai moral dan spiritual.
Menjadi manusia hendaknya benar-benar disyukuri, karena menjadi manusia amat sukar diperoleh, terlebih lagi pendek dan begitu cepat kehadirannya, tak ubahnya dengan gerlapan kilat. Oleh karena itu Sarasamuscaya menegaskan gunakanlah sebaik-baiknya kesempatan menjadi manusia ini untuk melaksanakan pelaksanaan dharma.
Source: Ki Nirdon l Warta Hindu Dharma NO. 479 Desember 2006