Kekuatan yang ada di Rambut Siwi sehingga orang yang datang dari barat maupun dari timur menghentikan kendaraannya di sana, lalu duduk di tanah mencakupkan dan mengangkat tangan tanda menyembah kekuatan yang tidak kelihatan itu?Entahlah! Barangkali kekuatan itu memang benar-benar ada sehingga dari dulu hingga kini orang tetap berperilaku-budaya seperti itu bila melintas di sana. Atau, barangkali kebanyakan dari mereka itu ikut-ikutan, karena memang seperti itulah perilaku-budaya berproses: dari ikut-ikutan menjadi benar-benar ikut.
Tidak berbeda dengan perilaku-beragama kebanyakan orang. Ketika masih kanak-kanak, mereka ikut-ikutan orang tua dan lingkungan dekatnya. Setelah dewasa mereka benar-benar ikut: ikut merencanakan, ikut memutuskan, ikut melaksanakan, dan barangkali ikut mengevaluasi perilaku-beragamanya.
Yang disebutkan terakhir, yaitu mengevaluasi perilaku-beragama, belum begitu umum dilakukan oleh para penganut agama. Yang dimaksud dengan evaluasi perilaku-beragama adalah menilai apakah perilaku-beragama sudah memperingan hidup dan memperingan mati. Seperti itulah salah satu contoh evaluasi keberagamaan kita. Karena kita diajarkan oleh agama kita, bahwa salah satu fungsi agama adalah untuk memperingan hidup yang berat ini, dan tidak memperberat mati yang tidak ringan itu.
Mengevaluasi perilaku-beragama, yang semakin lama semakin institusional, adalah gagasan yang tidak populer sama sekali. Karena agama institusional, dengan satu dan lain cara, berhasil membangun budaya sensor-diri pada masing-masing pemeluknya. Misalnya, jika hidup dan mati terasa semakin berat karena tuntutan agama formal institusional itu, mereka tidak akan mengevaluasi praktik agama institusional itu, tapi mereka cenderung akan mengedepankan perasaan bersalahnya sendiri. Mungkin diri ini kurang ini, mungkin diri ini kurang itu dalam memenuhi tuntutan agama formal institusional itu. Karena itulah evaluasi perilaku-beragama hanya dilakukan bisik-bisik. Itupun kebanyakan bisik-bisik dengan diri sendiri di tempat pribadi bernama pikiran dan perasaan.
Para pedharma-wacana agama sekalipun sering lupa bahwa agama sebagaimana adanya sekarang adalah hasil eksperimen para Guru Agama dan para pengikutnya yang berabad-abad lamanya. Sejarah agama menunjukkan bahwa agama adalah eksperimen tiada henti dari zaman A ke zaman B ke zaman C dan seterusnya, hingga ke zaman X sekarang. Barangkali karena lupa itulah, mereka cenderung menyajikan agama itu seperti produk yang baku, yang sudah jadi, yang sudah selesai, yang akan beresiko fatal bila tidak sesuai dengan standarisasi formulanya.
Barangkali juga karena lupa, akhirnya agama dihadirkan sebagai doktrin yang seram dan menakutkan. Sehingga keindahan agama yang dijanjikan oleh ajarannya menjadi tenggelam oleh gelombang sensor-diri. Jangan-jangan nanti akan begini jadinya kalau tidak begitu. Jangan-jangan nanti akan begitu kalau tidak begini. Ketakutan pun pada awalnya adalah gejala ikut-ikutan. Dan pada akhirnya benar-benar menjadi takut.
Keindahan agama tidak terletak pada aspek formalnya, tapi pada religiusitas alias rasa ketuhanan itu sendiri. Indahnya sebuah ”pemberhentian” seperti di Rambut Siwi itu akan dirasakan oleh orang yang berhenti di sana bukan karena tuntutan agama formal, tapi oleh diri yang merindukannya. Rindu tidak bisa diajarkan. Tapi bisa ditumbuhkan oleh orang yang tidak takut membuat eksperimen. Seorang Guru menurut kitabnya tiada lain yang dilakukannya kecuali menularkan rindu. Bukan menyebarkan ketakutan di hati.
Para penebar ketakutan pada jiwa orang banyak dalam bahasa sekarang disebut teroris. Siapa itu yang sekarang menjadi teroris spiritual? Tidak penting siapa dia. Karena orang seperti itu akan terus ada. Yang tidak selalu ada adalah kerinduan itu sendiri. Menurut buku, jika ada kerinduan yang begitu keras di dalam hati kepadaNya, pertanda Ia sedang ”bekerja” di dalam hati. Teroris spiritual mana bisa mengalahkan Ia yang sedang bekerja membuat rindu itu?
Pemberhentian rindu seperti di Rambut Siwi, dan di banyak tempat lainnya, dibuat justru untuk para penempuh perjalanan jauh dari rumah ke tujuan. Di mana lagi pemberhentian para teroris spiritual selain dalam kotbah seramnya?
Oleh: IBM Dharma Palguna
Source: Koran Balipost Minggu, 25 Juli 2010