Rasa, Virya dan Vipaka

Menurut Ayurweda, makanan tidak hanya terletak pada kuantitasnya, tetapi juga dalam hal kualitasnya. Yang dimaksudkan dengan kuantitas adalah banyaknya atau jumlah dan mudahnya makanan dibakar didalam tubuh. Dinilai dari kuantitasnya apakah makanan tersebut mampu menghasilkan sejumlah energi atau substansi vital yang mencukupi guna memenuhi kebutuhan tubuh melakukan segala aktivitasnya, terutama untuk bergerak dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sedangkan yang dimaksudkan dengan kualitas adalah nilai atau potensi yang dikandung di dalam makanan berupa rasa, virya, dan vipaka, yang sangat berperan dalam hal menjaga keseimbangan proses yang terjadi di dalam tubuh.

Rasa adalah apa yang diperoleh melalui rasa atau kecap oleh lidah, sebagai indra pengecap. Nilai ini tergantung pula pada apa yang pernah dialami sebelumnya. Jenis "sari kecap" seperti inilah yang di dalam Ayurweda disebut rasa. Ada enam jenis kecap atau rasa yang dapat dirasakan oleh lidah manusia. Keenam jenis kecap atau rasa ini disebut sad rasa, yang terdiri atas swadu (manis), amla (masam), tikta (pahit), lawana (asin), katu (pedas), dan kasaya (sepet).

Rasa merupakan pengalaman yang didapat melalui pengecapan di lidah, baik itu berupa makanan maupun obat yang menimbulkan efek tertentu di dalam tubuh pemakainya. Misalnya makanan yang mengandung rasa swadu (manis) tidak baik dikonsumsi oleh mereka yang menderita penyakit madumeha (kencing manis, diabetes) atau mereka yang sthaulya, yakni mempunyai badan kegemukan.

Virya adalah potensi makanan setelah dicerna, kemudian diserap dan berada di dalam tubuh. Potensi ini misalnya dapat berupa kemampuan untuk memanaskan tubuh, menurunkan unsur tri dosa (vatta, pitta, kapha), merangsang pencernaan, dan sebagainya.

Di dalam Ayurveda dikenal ada dua tipe virya, yakni : Virya Tipe I dan Virya Tipe II, Virya tipe I, terdiri atas dua unsur, yaitu: 1). Unsur panas (usna) dan 2). Unsur dingin (sita). Sedangkan Virya Tipe II terdiri atas 8 unsur, yakni : 1). Unsur dingin (sita). 2). panas (usna), 3) berlemak (snigdha), 4), kering (ruksa), 5). berat (guru), 6). ringan (laghu), 7). lamban (manda), dan 8). tajam (tiksna). Virya merupakan sifat yang paling aktif baik berada di dalam makanan maupun dalam obat.

Nasi yang semula terasa hambar sewaktu dikunyah di dalam mulut-lama-kelamaan akan terasa swadu atau manis. Rasa swadu atau manis yang dikandung oleh nasi setelah dikunyah inilah yang dimaksudkan dengan virya yang berpotensi usna untuk menghangatkan tubuh.

Vipaka adalah "rasa" dari makanan yang muncul setelah dicerna. Selama pencernaan berlangsung, makanan mengalami perubahan melalui tiga tahapan, akibat adanya reaksi dari agni atau enzim yang ada di dalam saluran alat pencernaan. Produk pada tahap I adalah swadu (manis). Produk pada tahap II adalah amla (masam). Produk pada tahap III adalah katu (pedas).

Sebagaimana telah diketahui bahwa hubungan antara rasa, mahabhuta, dosa, efek metabolik, virya (kedua tipe) dan vipaka amatlah erat. Satu sama lain saling bertautan. Di dalam hubungan keterkaitan ini dapat dilihat, jika dua unsur mahabhuta bersatu atau membuat suatu ikatan, masing-masing akan menghasilkan sebuah rasa. Misalnya : unsur panca mahabhuta perthiwi (tanah) bergabung dengan unsur panca mahabhuta jala (air) akan menghasilkan rasa swadu (manis). Demikian pula halnya dengan rasa amla (masam) terjadi oleh karena adanya perpaduan antara unsur jala (air) dengan unsur teja (api, panas). Rasa katu (pedas) terdiri atas gabungan unsur vayu (udara) dan teja (panas, api).

Unsur vayu (udara) bergabung dengan unsur akasa (kosong, eter) akan menghasilkan rasa tikta (pahit). Dan rasa kasaya (sepet) terbentuk akibat penyatuan unsur vayu (udara) dengan unsur perthiwi (tanah). Dari perpaduan ini dapat disimak bahwa makanan atau obat yang mengandung rasa pahit, sangat tepat dipergunakan untuk menurunkan suhu tubuh yang meningkat/demam.

Menurut Ayurweda, dengan mengenal keberadaan unsur rasa, wirya dan wipaka di dalam makanan maupun minuman akan memudahkan untuk memilih makanan apa yang akan dimakan, sehingga menyebabkan tubuh tetap sehat dan panjang umur. Demikian pula halnya dalam memilih bahan ramuan obat, dengan memperhatikan ketiga potensi ini akan lebih mempercepat dan memudahkan dalam proses penyembuhan.

Source: Ngurah Nala l Warta Hindu Dharma NO. 489 September 2007