Retrospeksi Pendidikan Hindu

Sebagaimana dipahami bersama bahwa pendidikan agama dapat dijadikan sebagai wahana untuk mengembangkan moralitas universal yang ada dalam agama-agama, sehingga dapat dijadikan acuan dalam berpikir, berkata, dan berperilaku (bertindak). Namun, dalam praktiknya pendidikan agama sering hanya memberikan pemahaman agama yang ekslusif dan dogmatis kepada para peserta didiknya, sehingga sedikit banyak telah menyumbang dan mengabadikan konflik, baik ekternal maupun internal umat beragama.

Terhadap kondisi ini Noer (1999) menegaskan bahwa, setidaknya ada empat faktor yang menye-babkan kondisi ini terjadi antara lain: (1) pendidikan agama yang diberikan di bangku sekolah, dalam prosesnya lebih menekankan transfer ilmu agama dibandingkan dengan transformasi nilai-nilai keagamaan dan nilai-nilai moral kepada peserta didiknya; (2) adanya sikap masyarakat yang memandang dengan sebelah mata keberadaan pendidikan agama di sekolah, dalam arti pendidikan agama hanya dilihat sebagai "hiasan kurikulum"; (3) dalam praktiknya pendidikan agama di sekolah selama ini kurang mene-kankan penanaman nilai-nilai moral, rasa cinta, kasih sayang, sikap persahabatan, dan sikap suka damai; (4) kurangnya perhatian di kalangan peserta didik untuk mempelajari agama-gama lain.

Namun, jika dicermati secara seksama dalam konteks pendidikan Hindu justru yang ditekankan adalah penanaman nilai-nilai moralitas, sikap keperibadian, dan perilaku yang sesuai dengan norma-norma agama, norma-norma sosial, dan norma-norma hukum yang berlaku dalam masyarakat. Dalam konsep pendidikan Guru kula, misalnya kewajiban seorang sisya (baca:murid) adalah, selain harus mempelajari segala jenis kitab suci Weda, dan ilmu pengetahuan lainnya, ia juga dituntut memiliki berbagai sikap dan keterampilan, seperti sikap hormat, dan patuh pada perintah sang guru, serta perilaku siap melayani gurunya. Misalnya, pagi-pagi harus sudah bangun mendahului gurunya, lalu membersihkan diri (mandi pagi) kemudian melakukan puja tri sandya, dan japa gayatri mantra.

Setelah itu, baru menyiapkan segala keperluan sang guru, dalam menjalankan aktivitas sehari-harinya. Oleh karena itu, seorang sisya mesti hidup dalam kesederhanaan dan taat melayani gurunya, serta hormat kepada setiap orang yang lebih tua dari dirinya. Bukan hanya itu, seorang brahmacarya juga harus berupaya memurnikan pikiran, perkataan, dan perbuatannya (Tri Kaya Prisudha). Oleh karenanya, seorang brahmacarya harus selalu menyibukan diri dalam hal melakukan pelayanan kepada sang guru. Mengapa demikian, sebab dalam Veda ada disebutkan Acarya Devo Bhawa yangartinya kurang lebih, guru dipandang sebagai wujud Tuhan, yang layak mendapat pelayanan dari para muridnya.

Berkaitan dengan berbagai kewajiban dan tatanan nilai yang harus ditaati oleh seorang brahmacarya, maka ia harus dapat menahan diri dari berbagai bentuk perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama, seperti minum, minuman berhalkohol, bermain judi, mencuri, berbohong, melakukan sex pranikah (sublimasi seksualitas), dan berbagai bentuk perilaku menyimpang lainnya.

Namun, dalam praktik kehidupan sosial budaya dewasa ini di mana masyarakat Indonesia, termasuk masyarakat Bali telah memasuki sebuah era yang disebut era post modern. Di dalam masyarakat postmodern tolok ukur kemajuan kehidupan masyarakatnya dilihat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang berhasil diraihnya. Oleh karenanya masyarakat dewasa ini, seakan tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Padahal di balik kemajuan ilmu pengetahun dan teknologi tersebut, selalu ada dimensi-dimensi yang perlu diwaspadai oleh umat manusia, sebagai sebuah kekuatan yang dapat menghancurkan kehidupan umat manusia itu sendiri. Misalnya, dengan kemajuan ilmu pengetahun dan teknologi manusia bisa saja membuat apa saja yang mereka suka, bahkan tidak tertutup kemungkinan manusia bisa menciptakan alat yang dapat menghancurkan alam semesta ini, dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkannya.

Seperti dikatakan Giddens (2002) bahwa situasi yang tidak menentu saat ini, justru bukan ditimbulkan oleh alam, melainkan oleh sikap dan perilaku manusia itu sendiri melalui berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berhasil diciptakannya. Misalnya, gejala pemanasan bumi, perusakan lapisan hozon, volusi udara, dan berbagai bentuk kerusakan lingkungan lainnya. Belum lagi berbagai bentuk penyakit yang ditimbulkan akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pertanian, yang menghasilkan berbagai macam produk unggulan yang kemudian menjadi bahan makanan bagi umat manusia.

Namun, menurut Giddens ada persoalan lain yang jauh lebih menakutkan dari sekadar perusakan alam, akibat ulah manusia sebagaimana dijelaskan di atas, yakni dengan arsenal persenjataan modernnya manusia kini mampu menghancurkan bumi dan seisinya berkali-kali. Bahkan menurut Giddens situasi dunia saat ini bisa dikatakan telah sampai pada apa yang disebutnya sebagai "manufactured unsertainty", yakni apa yang disebutnya sebagai "high consequence risk" (konskuensi yang amat jauh). Bahkan dengan sebuah metafor juggernaut (truk besar) yang meluncur tanpa kendali Giddens dengan plastis menggambarkan situasi dunia sekarang ini.

Dalam pandangannya itu, Giddens menggambarkan bahwa dunia saat ini, diibaratkan bagaikan sebuah truk (juggernaut) dengan muatan yang sangat berat dan kecepatan yang sangat tinggi meluncur di jalan menurun tanpa kendali dan tidak dapat dihentikan oleh siapapun. Penumpangnya adalah semua yang ada di alam semesta ini, termasuk semua umat manusia, sehingga penumpang yang ada di dalamnya hanya bisa pasrah dan berdoa memohon keselamatan.

Giddens menyampaikan hal tersebut, bukan dalam rangka untuk menyangkal keberhasilan manusia dalam menciptakan berbagai kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, yang memuat kepastian-kepastian yang disebut logical security. Akan tetapi yang ditekankan oleh Giddens dalam konteks ini adalah bahwa di balik berbagai kepastian yang dihasilkan justru yang tidak dapat dihindari adalah berbagai ketidakpastian yang secara terus-menerus menghampiri kehidupan manusia dewasa ini yang intinya dapat membuat kehidupan manusia menjadi selalu was-was.

Terhadap kondisi ini, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencoba mengendalikan kekuatan juggernaut tersebut, yang menimbulkan berbagai ketidakpastian bagi kehidupan umat manusia dimuka bumi ini menurut hemat penulis adalah dengan jalan melakukan retrospeksi pendidikan Hindu, sehingga ke depan secara perlahan perilaku anak-anak dapat dikendalikan berdasarkan nilai-nilai agama, moralitas, dan nilai-nilai spiritual sebagaimana dituangkan dalam berbagai ajaran agama Hindu, seperti dalam ajaran pancasradha, tri kaya parisudha, ajaran caturpurusa artha, dan lain sebagainya. Sebab dengan ajaran nilai-nilai moral seperti ini, sikap dan perilaku manusia akan dapat dikendalikan dan diarahkan sesuai tuntunan nilai-nilai agama, dan nilai-nilai moral yang ada di dalamnya.

Berangkat dari kondisi tersebut maka tidak berlebihan jika seorang fisikiawan terkemuka dunia, yakni Albert Einstein pernah berkata bahwa agama tanpa ilmu adalah pincang, dan ilmu tanpa agama adalah buta. Oleh karena itu betapa pentingnya kita semua melakukan retrospeksi pendidikan agama, termasuk retrospeksi Pendidikan Agama Hindu, sehingga ke depan sikap dan perilaku manusia dapat dikendalikan sesuai dengan tuntunan nilai-nilai moral dan nilai-nilai spiritual yang ada di dalamnya.

Oleh: I Ketut Suda, Penulis Guru Besar Sosiologi Pendidikan, Universitas Hindu Indonesia
Source: Wartam Edisi 22, Desember 2016