Membangun peradaban cinta kasih dalam ikatan sumpah setia, di antara dua tali kasih yang siap kepelaminan yaitu dampati (satu rumah dua tuan/suami istri), maka yantra merupakan bagian yang demikian penting, guna meningkatkan kecerdasan, mengikat cinta kasih yang akan melangsungkan pernikahan, dan sangat baik pula memelihara dampati.
Candi Cinta dapat diwujudnyatakan melalui Saraswati Yantra. Saraswati Yantra merupakan yantra yang terbuat dari mas (matahari) atau bisa terbuat dari perak (bulan), tergantung planet yang mempengaruhi pemakai. Yantra ini yang berbentuk gelang, yang memgambil bentuk planet matahari/bulan yang dapat berarti cinta kasih. Dalam Purana, bulan merupakan Dewi Rembulan, pula sering disebut Dewi Ratih, demikian halnya gerhana matahari merupakan inspirasi tersendiri untuk menali kasih.
Selain gelang, cincin maupun kalung, pula merupakan yantra yang demikian baik guna mengikat tali kasih membentuk Candi Cinta. Cincin melekatkan sumpah setia dan kasih, yang demikian mendalam bagi pasangan cinta antara pemuda/suami dengan pemudi/istri. Hal ini dapat mengingatkan, bahwa tali kasih cinta Rama dengan Sita terbangun, terbentuk serta termaknai melalui cincin. Cincin ini merupakan yantra cinta yang dapat menyatukan cinta, tidak hanya secara lahiriah namun pula secara rohaniah. Cincin ini, mengantarkan kasih Rama kepada Sita yang ditawan oleh Rahwana di Taman Angsoka.
Namun dalam peradaban cinta kasih antara dua sejoli, melalui tukar gelang maupun cincin, mengalami pemudaran. Hal ini dapat dimaklumi, dorongan yang demikian kuat secara nurani, maupun dorongan Upakara-Upacara, memberikan warna yang demikian kasih bagi dampati. Sehingga dampati ini, memberikan makna yang demikian dalam dan mengkristal, maka dalam perkawinan Hindu sangat-sangat jarang terjadi suatu perceraian. Dengan pertimbangan dampak yang ditimbulkan, maka lebih baik menderita dari pada bercerai.
Upacara yang demikian sakral dalam pernikahan, kemudian menempatkan yantra pada urutan kedua, walaupun sejatinya yantra memiliki makna yang demikian kuat, guna menyatukan atau mengikatkan calon maupun pasangan suami istri, yang bermuara pada sumpah setia.
Purana menguraikan bahwa yantra diberikan oleh wanita kepada kekasihnya atau oleh istri kepada suaminya, yang sedang bepergian jauh. Hal ini terjadi dapat dimaklumi, bahwa lelaki pada jamannya lebih banyak memiliki waktu dan ruang dalam bepergian, sedang wanita/istri lebih banyak tinggal di rumah. Di samping itu, mengapa lelaki yang diberikan yantra, karena kemungkinan lelaki lebih liar mata dan hatinya kepada lawan jenis dibandingkan wanita/istri. Yantra diberikan pada suami berisikan nama sang istri atau kekasih yang wanita.
Memperhatikan perkembangan yang terus bergulir, lelaki dengan wanita memiliki ruang dan waktu serta kesempatan yang sama dalam memainkan peranan hidup dan kehidupan, maka yantra ditempatkan sesuai dengan fungsinya dewasa ini. Artinya tidak hanya diberikan oleh calon istri kepada calon suami, namun pula diberikan oleh calon suami kepada calon istri, juga tidak hanya diberikan oleh sang istri kepada suami, namun pula diberikan oleh suami kepada istri. Karena rahasia yantra, banyak yang perlu diungkap, selain aura cinta yang disebarkan pada yang sedang dimabuk kasih, maupun mengeratkan cinta kasih dampati.
Saling memberi dan saling menerima yantra ini dalam bahasa gaul sering disebut tukar cincin. Hal ini perlu dikembangkan, tidak hanya tukar cincin, namun pula tukar gelang maupun tukar kalung. Dalam bahasa romantis, kiranya tukar cincin ini lebih tepat disebut Candi Cinta atau Saraswati Yantra. Dikatakan Candi Cintaa, karena terbangunnya serta terpeliharanya cinta kasih dari dua insan yang berlainan jenis antara lelaki dengan wanita.
Guna mengungkap rahasia yantra, agar terbangunnya Candi Cinta, maka sangatlah utama yantra itu dihidupkan melalui upacara Pasupati, Pasupati, dirasa telah cukup untuk mengungkap rahasia aur cinta, bagi yang bersangkutan. Tentu akan bermakna utama, manakala yang akan menggunakan yantra cinta, dapat mempasupati sendiri dengan mantra, karena yantra membawa mantranya masing-masing. Misal, Saraswati Yantra bija mantranya; Om Swi Vidya Doyani. Saraswatiye Namah. Bija mantra ini diucapkan 1250 kali selama 40 hari bukan perkara mudah untuk terlesaikan, perlu latihan secara tekun dan terus-menerus.
Dirasa bija mantra terasa sulit, maka ada jalan yang lebih praktis dan gelis yaitu melalui Upacara Pasupati Upacara Pasupati, di samping menghidupkan dari pada yantra, pula melanggengkan sumpah setia yang melingkari pasangan baik yang sedang belajar, bertunangan maupun dampati yang tersimbolisasi melalui lingkaran gelang/cincin/kalung. Sebagaimana Rama dan Sita, menggunakan yantra yang berupa cincin. Sedangkan Sita memberikan kalungan bunga kepada Rama.
Saraswati Yantra, bukan telah meniru-niru, ia pernah hilang akibat tekanan ekslusifisme maupun ekspansi, agama tertentu di Bharata Warsa. Yantra ini landasannya jelas yaitu sastra, Yantra, Mantra dan Tantra. Di samping itu, Veda dan Itihasa merupakan sumber otentinya. Swastika pun, merupakan yantra dalam sastra Hindu, yang mengandung arti kesejahteraan dan perdamaian. Dengan demikian, terlaksananya Saraswati Yantra di berapa tempat, merupakan sangat utama dijadikan tonggak kemuliaan terbangunnya Candi Cinta, untuk mulianya dampati. Walaupun yantra yang digunakan belum tepat sama sekali, karena belum bergambar Saraswati.
Yantra, sebagai berikut:
(Saraswati Yantra)
Namun paling tidak, lingkaran cincin, tetap memiliki makna "sumpah setia" pasangan suami istri. Belum adanya gambar Saraswati Yantra, tukar cincin dalam perkawinan, tentu sebagai akibat ketidak tahuan, yang bersangkutan. Di samping karena masih terbatasnya pemahaman, terhadap sumber-sumber yang ada. Dengan demikian Saraswati Yantra, kiranya sangat penting ditumbuhkembangkan dalam lingkaran cinta, yang memiliki makna demikian dalam yaitu "sumpah setia". Sehingga, dengan adanya Saraswati Yantra, dapat mengurangi anggapan; latah mengikuti perkembangan, yang sejatinya akan sulit dicarikan maknanya.
Mulainya dampati, melalui Saraswati Yantra, tentu akan terbangunnya "Istana Cinta" dalam keluarga. Sehingga Istana Cinta, akan menentukan mulianya anak-keturunan di kemudian hari, yang pada gilriannya akan menentukan wajah dan damainya keluarga, banjar, Desa Pakraman, bangsa dan Negara.
Source: Drs. Ida Bgs. Subali P., M.Si l Warta Hindu Dharma NO. 497 Mei 2008