Siwa Nataraja, Koreografer dan Kreativitas

Siwa Nataraja adalah Siwa dalam wujud sedang menari. Siwa adalah 'penari kesadaran kosmis. Siwa adalah rajanya penari, pencipta tari-tarian yang terindah, terdahsyat dari segala jenis tarian yang ada. Karenanya, Siwa disebut sebagai sumber dari mana kesadaran dan kreativitas kesenian menyebar (ngebek) dan kepadanya menyublin (ngingkes) di dunia ini. Siwa menari untuk kemakmuran, kesejahteraan dan kedamaian £ dunia; dan yang paling penting adalah untuk melepaskan jiwa individu dari segala ketergantungan atau belenggu duniawi atau oleh kekuatan maya (ilusi).

Dalam istilah filsafat kondisi ini disebut mukti, dimana menyatunya kebenaran (satyam), kesucian (siwam) dan keindahan (sundaram). Pelepasan jiwa dapat diartikan sebagai upaya untuk meraih puncak kesadaran kosmis, pendakian tangga-tangga kesadaran sang diri merudandaksara (istilah digunakan oleh sanggar seni Bajra Sandi). Demikian sesungguhnya esensi Siwa Nataraja yang patut dipahami, disadari dan diejawantahkan dalam bentuk konkret oleh seorang koreografer, atau penari yang beruntung diberikan daya kreativitas seni, olah rasa oleh-Nya untuk mencipta, menggarap pagelaran seni. Atau dengan kata lain, Siwa Nataraja hendaknya dapat dijadikan sumber inspirasi, motivasi dan sekaligus tujuan berkreativitas seni oleh para koreografer dalam proses penciptaannya dalam bingkai kesadaran kosmis Siwa, menuju puncak pendakian spiritual.

Tarian Kosmis Siwa

Mengacu kepada Siwa Nataraja dalam Siwatattwa di India terdapat beberapa versi tarian dan pose sesuai dengan peran yang dilakoni-Nya misalnya, Samhara adalah tarian Siwa ketika dunia pralaya. Kodu Koti adalah tarian setelah penghancuran/peleburan alam semesta. Pandam adalah tarian setelah penghancuran tiga kota. Kodu; atau Kapalam adalah tarian dengan memegang kepala Brahma. Juga disebutkan delapan tarian yang terdiri dari Srishti, Sthiti, Samhara, Tirobhava dan Anugraha serta Muni Tandava, Anavarata Tandava dan Ananda Tandava. Masih banyak lagi nama tari dan versinya. Lebih lanjut disebutkan pose yang terindah dan tersulit dari tarian Nataraja adalah Urdhva Tandava 'dengan sikap kaki kiri terangkat dan ibu jari tegak menunjuk langit. Sikap ini diambil ketika Siwa berhasil mengalahkan Kali dalam segala jenis tarian.

Dari sekian banyak versi tarian atau pose Siwa Nataraja, kiranya dapat kita ambil contoh berikut untuk memahami filosopi tarian-Nya dengan menilik atribut atau properti yang dikenakannya. Swami Sivananda dalam bukunya Lord Siva and His Worship (1996) menyebutkan ketika Siwa memulai tarian-nya. Brahma, Wisnu, Siwa-Gana dan Kali menyertai-Nya. Ketika itu Kali sangat bangga akan kemahiran-Nya menari. Siwa pun menari, sangat indah, menakjubkan membuat Kali tertunduk malu. Saat itu Ia digambarkan bertangan empat mengambil pose dengan lengan kiri menahan seekor rusa. Trisula pada tangan kanan dan yang lain memegang api, damaru (dram),  dan malu. Berselempang 5 ekor ular, serta karangan tengkorak sebagai perhiasannya. Kaki kanan menginjak raksasa Muyalaka yang sedang memegang ular kobra. Ia menghadap ke Selatan. Lima ular melambangkan lima indria yang patut dikendalikan. Pikiran yang liar, melompat-lompat ibarat rusa harus dikendalikan dengan api meditasi. Disebutkan mereka yang dapat memenuhi pengendalian indria-indria tersebut akan dapat mencapai alam Siwa (Siwaloka). Di sini dapat dilihat inti dari tarian Siwa Nata Raja adalah untuk membimbing jiwa, menyadari hakikat dirinya dalam rangka pencapaian kesadaran tertinggi Siwa, sebagai 'sangkan paraning dumadi'.

Di bagian lain, relief Siwa Nataraja di Chidambaram, Tamil Nadu, India Selatan sebuah daerah suci yang dikunjungi oleh para yatri dari seluruh India, pose Siwa juga digambarkan bertangan empat, berasesorikan sungai Gangga dan bulan sabit. Damaru di tangan kanan, tangan kiri mengambil sikap Abhaya Mudra ditujukan kepada penyembah-Nya. Tangan kiri lainnya memegang api serta tangan kanan berikutnya menunjuk kepada Asura Muyalaka yang sedang memegang kobra di bawah kaki kanan-Nya. Kaki kiri terangkat dalam pose yang indah.

Dram atau damaru adalah simbol penciptaan, dentumannya adalah vibrasi getaran Omkara (Sabda Brahma). Abhaya Mudra memberi perlindungan, dan api adalah aspek peleburan. Kaki terangkat menggambarkan maya atau ilusi serta tangan menunjuk ke bawah menunjukkan bahwa telapak kakinya adalah tempat berlindung jiwa-jiwa individu. Pada posenya yang lain, Ia juga memegang kapak sebagai lambang pengetahuan, pelebur  kebodohan. Semua pose, atribut atau properti di atas; rusa, kapak, dram, api, air (Gangga), kaki menginjak Asura Muyalaka adalah wujud dari yang tak berwujud atau Suksma Panchakshara: Na, Ma, Si, Wa, Ya (yang juga adalah badan dari Siwa); tangan memegang api adalah Na, kaki yang menginjak Asura Muyalaka adalah Ma, tangan memegang Damaru Si, tangan kanan dan kiri lainnya adalah Wa dan tangan dengan sikap Abhaya Mudra adalah Ya.

Demikian Siwa menarikan kelima aktivitas Tuhan yang disebut sebagai Panchakriya (Swami Sivananda; 1996:62). Srishti (penciptaan), Sthiti (pemelihara), Samhara (peleburan), Tirobhava (illusi) dan Anugraha (pemberkah). Hal tersebut menunjukkan Siwa bukanlah pelebur semata tetapi energi kesadaran kosmis, penggerak yang mengoperasikan siklus perputaran kosmis. Ia adalah asal mula kosmis "Telur Brahma" atau oleh Swami disebut sebagai the Golden Egg atau Hiranyagarbha, Ia juga  adalah manifestasi-Nya, dan jika saatnya tiba dengan api dalam tariannya. Ia melebur segala bentuk (rupa) dan nama yang ada untuk siklus berikutnya. Utpathi-Sthitti-Prelina, sebagai lingkaran kehidupan yang harus berhulu dan bermuara pada Utpatti, penciptaan untuk sebuah pendakian. Masa yang lampau dan masa yang sekarang tercipta dari peleburan, sebagaimana disebutkan dalam buku The Vastu Vidya Handbook, oleh Juliet Pegrum (2000:8), Siwa adalah pencipta dan juga pelebur alam semesta beserta segala isinya.

Ia menari dalam setiap pergerakan alam semesta yang paling indah : deburan ombak, pergerakan bulan, bintang, planet-planet dan lainnya. Kita menikmati alam ini sebagai suatu yang amat indah, sundaram, karena di sana ada kesadaran dan kecerdasan Siwa, Siwa yang sedang menarikan tarian kosmisnya. Juga pada peristiwa alam yang menyedihkan, memilukan dan mengenaskan, seperti letusan gunung, gempa, angin puyuh, wabah penyakit Siwa sedang menarikan kesadaran kosmisnya. Esensi tarian penghancuran-Nya adalah sesungguhnya pelepasan jiwa untuk peningkatan kesadaran jiwa. Jika pandangan ini bisa dipahami dengan baik, maka kita menikmati keindahan dan kelembutan tarian Siwa Nataraja dalam setiap nafas kehidupan. Alam ini adalah panggung (raga) Siwa untuk menarikan tarian kosmisnya.

Koreografer, Pentrasfer Rasa

Tari dalam konsep Hindu bukanlah sekedar gerakan-gerakan ritmis yang indah, melainkan memiliki hubungan erat dengan nilai-nilai spiritual agama, sebagaimana tersirat dalam rumusan: Satyam-Siwam-Sundaram, Navyo Jayatam Rtam, :"benar-suci-indah, biarlah ritus baru tumbuh" (Rg Weda, 105.15). Terlihat jelas kesejajaran sebagai satu kesatuan yang utuh antara aspek Satyam (kebenaran/ ilmu/ sama-jnana), Sivam (kesucian/agama/sama-gama) dan Sundaram (keindahan/ seni/sama-langa). Bukan pemisah-misahan melainkan sebuah estetika-eksploratik-religius menuju tangga-tangga kesa-daran merudan-daksara. Untuk itu seorang koreografer atau seniman tari sebagai manusia yang diberi keunggul-an dan kepekaan terhadap getaran estetik tarian semesta Siwa sudah sepan-tasnya memahami nilai-nilai Siwa Nataraja dalam sebuah proses pencip-taan atau garapan seni pertunjukan. Bahwa tarian yang diciptakan tidak lagi sekedar mengambarkan atau menceri-takan subyek atau tokoh yang lewat, tapi mampu mewahanai nilai-nilai 'tattwa' kesucian dan spiritual bahkan misteri yang ada padanya.

Menghadirkan dalam wujud nyata getaran rasa di hati adalah tugas berat seorang koreografer. Sebagai miniatur semesta (bhuana alit) dalam tubuh kita  terdapat energi semesta itu yang disebut sebagai chakra. Pusat-pusat energi atau nafas dalam tubuh manusia dapat digali, dirasakan dan dijabarkan melalui praktek yoga. Disiplin spiritual (sadhana) untuk menggerakkan energi itu menuju kesadaran tertinggi perlu dilatih di bawah bimbingan guru yang mahir pada bidangnya. Seorang koreografer dalam tugasnya menterjemahkan getaran kosmis keindahan itu dalam sebuah karya seni yang akan disampaikan kepada masyarakat luas perlu tekun menerapkan sadhana melaksanakan yama dan niyama brata dalam keseharian kita agar getaran kosmis semesta dapat lebih mudah ditangkap dan dikonkretkan dalam tari, gerak, warna, kostum, komposisi, instrumen, property, tata seni dan suara, dan sebagainya dalam suatu jalinan atau garapan yang artistik, harmonis, dan bertenaga penyucian. Dengan demikian alhasil karya yang tercipta mampu merefleksikan kekuatan 'dalam'sebagai inti dari pengayaan karya seni.

Masalahnya kini adalah koreografer (penata tari) atau seniman, sudahkah 'nyedanain' untuk dapat meraih energi kesadaran kosmis. Siwa Nataraja di atas, agar tarian yang tercipta mampu membangkitkan jiwa (tattwa)-Nya untuk sebuah pencerahan spiritual? Agaknya sulit memang, tapi inilah yang patut diperjuangkan oleh para seniman, kritikus seni kalau kita ingin kreativitas seni berjalan dalam koridor seni pembebasan.

Penutup
Demikianlah sekilas bagaimana konsepsi Siwa Nataraja terkait dengan proses penciptaan suatu karya seni. Di dalamnya, peranan seorang koreografer sangat penting untuk menjembatani rasa estetik yang dialami akibat mampunya menangkap getaran energi kosmis Siwa menjadi seni panggung yang konkret yang dapat ditonton, dirasakan oleh masyarakat umum.

Source: I.A. Wayan Arya Satyani l Warta Hindu Dharma NO. 437 Juli 2003