Smara Pura

Kelungkung disebut juga Smara Pura. Kung dalam bahasa Kawi berarti "Keindahan", baik keindahan alam maupun rasa indah di dalam hati : maka Kung juga berarti "Cinta" Seorang Kawi yang menulis kaidah keindahan kakawin memakai nama Mpu Tanakung. Disamping menulis kakawin Wreta Sancaya, beliau juga menulis kakawin Siwa Ratrikalpa dan sejumlah kakawin lainnya. Dalam karyanya berjudul Bhasa Tanakung, beliau menyatakan dirinya masih sangat jauh dari "kung" itu sendiri. Keindahan dipakai nama sebuah kota kerajaan ?

Smara adalah dewa Keindahan atau Dewa Cinta, Dewa yang bersenjatakan bunga, Dewa yang dipuja oleh para pendamba keindahan, para kawi. Maka ketika Kelungkung disebut juga Smara Pura, maka ada harapan kota ini menjadi mata air dari mana keindahan itu mengalir.

Smara juga berarti medan perang, sebagaimana disuratkan dalam Bharatayuddha. Bahwa seorang pahlawan ingin berkorban dalam medan perang untuk mengalahkan musuh-musuhnya : "Sang sura amrih ayajna ring Smara mahyun hilanganikang parang mukha". Sesungguhnya yang disebut medan perang adalah diri manusia sendiri, tempat bertempurnya enam musuh disebut Sadripu. Kakawin Ramayana menyebutkan "musuh itu sangat dekat, dihati tempatnya tidak jauh dari badan (ragadi musuh maparo ri hati ya tonggwanya tan madoh ring awak).

Seratus tahun yang silam, tepatnya tanggal 28 April 1908 di Kelungkung terjadi perang Puputan perang yang oleh saksi mata dikatakan sebagai perang sangat dahsyat dan memilukan. Tragedi berdarah sekali lagi terulang disini, setelah dua tahun sebelumnya terjadi di Badung, dimana suatu generasi kerajaan memilih untuk hancur daripada menyerah terhadap kekuasaan asing. Inilah yang oleh raja Badung disebut sebagai "mati tan tumut pejah", atau "matine mautama".

Di Smara Pura, kota keindahan, tetapi juga kota peperangan, seorang raja Dewa Agung dengan gagah berani bertempur melawan Belanda, bertempur habis-habisan melawan penjajah. Pahlawan besar ini sesungguhnya telah dapat mengalahkan musuh-musuh di dalam hatinya.

Memang peperangan sering dilukiskan begitu indah dalam karya sastra, itulah yang disebut sebagai yudha. Yudha adalah yajnya bagi para ksatria, jalan untuk menyucikan diri (sudha) jalan untuk mencapai tujuan hidupnya (sidha). Wiracarita adalah ceritera tentang peperangan, tetapi juga ceritera tentang keindahan dan cinta, cerita tentang kesucian.

Smara Pura memiliki sejarah tentang keindahan, termasuk di dalamnya tentang sastra, tetapi juga tentang perang untuk menegakkan kebenaran dan keyakinan diri.

Source: Ki Nirdon l Warta Hindu Dharma NO. 496 April 2008