Tradisi Agama Membangun Hidup Bahagia

Sreyo hi jnyanam ab hyasaj. Jnyanad dhyanam visisyate, Dhyanat kar-maphala tyagas, Tyagac shantir anantaram
(Bhagavadgita,XII,12).

Maksudnya:Sesungguhnya kebiasaan (Abhyasa) itu hendaknya diperkuat dengan Ilmu pengetahuan (Jnyana), Ilmu pengetahuan diperkuat dengan konsentrasi pemujaan (Dhyana), konsentrasi pemujaan diperkuat oleh keikhlasan pada karmaphala (Tyaga). Puncaknya kedamaian yang kekal akan dicapai (Santi Anantaram).

Dalam pustaka Sarasamuscaya 260 dinyatakan bahwa ajaran suci Weda sabda Tuhan itu harus ditradisikan dengan istilah "Veda abhyasa". Isi Weda adalah kebenaran yang kekal abadi atau disebut Sanatana Dharma. Tetapi penerapannya oleh umat dengan konsep Nutana. Artinya tradisi itu harus terus menerus diperbaharui agar senantiasa segar dan membahagiakan. Artinya ada proses peremajaan terus-menerus mengikuti perkembangan jaman. Yang utama adalah agar kebenaran Weda yang kekal abadi itu terus-menerus dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan zaman. Dengan demikian tidak ada jaman yang tidak berpegang dengan kebenaran Weda tersebut.

Umat yang mentradisikan ajaran Weda itu memiliki berbagai keterbatasan. Dari keterbatasan tersebutlah setiap kebiasaan atau adat-istiadat ber Agama Hindu itu terus berubah-ubah mengikuti jaman. Yang penting kebiasaan tersebut tidak berubah hanya sekedar berubah. Perubahan kebiasaan itu seyogyanya melalui proses analisa berdasarkan ilmu pengetahuan (Jnyana). Penerapan Jnyana atau ilmu pengetahuan itu hendaknya sinergis, umat Hindu di Bali diingatkan untuk mensinergikan ilmu pengetahuan yang disebut Jnyana itu diingatkan setiap perayaan Galungan dalam rangka menegakan Dharma.

Mensinergikan berbagai ilmu pengetahuan Jnyana untuk memenangkan Dharma saat Galungan dinyatakan dalam Lontar Sunarigama. Dalam teks Lontar Sunarigama tersebut ada dinyatakan "patitis ikang Jnyana sandi" yang artinya mengarahkan dan memadukan atau mensinergikan ilmu pengetahuan untuk mewujudkan hidup yang cerah atau disebut "galang apadang" Hidup yang galang apadang itulah hidup yang cerah berdasarkan Jnyana yang sinergi yang dapat memberikan umat kebahagiaan dan kesejahteraan yang disebut sebagai memenangkan Dharma. Mensinergikan ilmu pengetahuan itu hendaknya fokus untuk mengatasi berbagai persoalan hidup. Namun, dalam memfokuskan penerapan sinergi ilmu pengetahuan tersebut tetap sebagai wujud bhakti pada Tuhan (Dhyana).

Betapapun fokusnya penerapan ilmu pengetahuan tersebut, karena dilakukan oleh manusia tentunya ada saja lebih dan kurangnya atau baik dan buruknya. Karena itu harus ada keikhlasan menerima apapun hasil kerja tersebut yang disebut Tyaga. Yang utama adalah upaya yang dilakukan dalam mensinergikan ilmu pengatahuan untuk memelihara tradisi itu sudah dilakukan sungguh-sungguh sesuai dengan norma yang wajib diikuti. Jangan Hindu memelihara tradisi Hindu itu bertentangan tujuanya membangun umat hidup sejahtra dan bahagia.

Abhyasa yang dipelihara dengan Jnyana dan dilakukan dengan cara Dhyana atau fokus bhakti pada Tuhan serta diikuti dengan sikap ikhlas menerima lebih kurang hasilnya yang disebut Tyaga. Hal itu akan dapat mewujudkan hidup yang aman dan damai yang lebih langgeng yang disebut Santi Anantaram. Kalau benar caranya mentradisikan Agama yakinlah manusia akan semakin bahagia dan damai dalam kebersamaannya sebagai wujud dari pengamalan Agama.

Memperhatikan konsep memelihara tradisi Agama itu bukan untuk membuat orang menderita. Dalam memelihara adat istiadat umat Hindu di Bali dalam rangka memelihara dinamika budaya Bali agar tetap ajeg harus tradisi itu membuat orang bahagia dan damai. Setiap tradisi wajib kita analisa dengan cermat berdasarkan kajian ilmu pengetahuan sesuai dengan konteksnya. Dengan demikian kreasi dalam tradisi tidak dilakukan tanpa konsep yang benar. Karena umumnya tradisi umat Hindu di Bali mengandung nilai-nilai universal dalam kemasan budaya lokal Bali. Oleh karena itulah tradisi budaya tersebut wajib dikaji terlebih dahulu agar jangan ada paradigma sekedar mempertahankan atau sebaliknya sekedar merubah.

Dengan kajian ilmu pengetahuan yang sinergis itu setiap tradisi akan menjadi jelas bagaimana caranya memelihara untuk membangun hidup bahagia. Kalau dipertahankan apanya yang dipertahakan. Demikian pula kalau mau dirubah apanya yang dirubah. Yang jelas merubah atau mempertahankan dalam rangka memelihara agar tradisi beragama Hindu di Bali itu tetap berfungsi sebagai media mengamalkan kebenaran Weda. Kalau ia dipertahankan, karena adat kebiasaan tersebut masih relevan dengan perkembangan zaman sebagai media mengamalkan Dharma intisari Weda. Kalaupun ia diubah harus jelas perubahan tersebut justru lebih memperkuat fungsi adat istiadat tersebut sebagai wadah pengamalan Dharma.

Nampaknya di Bali masih banyak ada adat istiadat atau kebiasaan sebagai wadah pengamalan Agama Hindu yang dipertahankan atau diubah tanpa melalui kajian ilmu pengetahuan secara baik. Banyak adat istiadat umat Hindu yang dipertahankan atau dirubah hanya berdasarkan hasil musyawarah "suryak siu". Hanya berdasarkan suara terbanyak tanpa didasarkan pada konsep-konsep yang jelas berdasarkan sastra Agama Hindu yang berlaku. Tata cara memelihara kebiasaan atau adat-istiadat beragama Hindu yang demikian itu justru akan dapat membahayakan adat-istiadat tersebut. Pada zaman ekonomi agraris dianut oleh umat Hindu di Bali, umumnya adat-istiadat beragama Hindu-pun disesuaikan dengan kehidupan agraris. Dewasa ini jaman sudah berubah sistem hidup agraris telah semakin berkembang ke arah kehidupan yang semakin industrialis. Karena itu agar adat istiadat beragamapun seharusnya diarahkan pada pola hidup agraris yang industri.

Dengan demikian kegiatan beragama Hindu tidak akan menjadi beban hidup yang memberatkan umat. Kalau adat istiadat beragama Hindu itu dirasakan semakin memberatkan umat, jelas hal itu harus disesuaikan dengan keberadaan umat pada zaman bersangkutan. Agama disabdakan oleh Tuhan bukan untuk membuat umatnya susah hidup karena Agama. Agama diturunkan oleh Tuhan justru agar umat dapat tuntunan hidup yang semakin mencerahkan dalam mewujudkan kehicdupan yang sejahtra dan membahagiakan. Tradisi Agama akan ditinggalkan kalau tradisi beragama Hindu membuat umat menderita.

Source: Koran Bali Post, Minggu Wage, 14 Juni 2015