A brahman brahmano brahmavarcasi jayatama rastre rdjanyah
sura'isavayo'tivyddhi mahdratho jayatam dogdhri dhenurvodhanadvanasuh
saptih purandhiryosa jisnu rathesthah sabheyo yuvasya yajamanasya viro jayatam nikame nikame
nah parjanyo varsatu phalavatyo na'osadhayah pacyantdm yogaksemo nah kalpatam
(Yajur Veda, 22.22)
"O Brahman semoga di kerajaan/negara ini dilahirkan 'brahmana' dengan 'brahmateja' (cahaya spiritual) yang sangat ahli di dalam mantra-mantra suci Veda, semoga dilahirkan 'Rajanya' (baca: Rajania), yaitu pemimpin negara yang gagah perkasa selalu membuat musuh menjadi tunduk, putra mahkota raja yang tidak mengenal takut dan sangat terampil dalam mempergunakan segala jenis senjata; semoga para penduduk mendapatkan sapi-sapi betina yang memberikan susu berlimpah dan sapi-sapi jantan yang kuat membawa beban, kuda-kuda yang berlari sangat kencang: semoga para perempuan di sini dipenuhi oleh segala sifat mulia serta tingkah laku yang baik, semoga di dalam pertemuan-pertemuan diskusi terdapat para pembicara terpilih dan bijaksana, semoga di sini dilahirkan anak-anak muda yang gagah berani, semoga para perwira mantap dalam kereta perangnya sebagai ksatria penakluk musuh, semoga awan 'Parjanya' (baca: Parjania) mengirimkan hujan sesuai dengan musimnya: semoga tanaman-tanaman obat dan pepohonan penuh dengan buah-buahan matang; semoga orang-orang kami yang 'yoga-ksemam' (spiritual dan pembawa kesejahteraan) meningkat terus."
Tidak ada bidang apa pun di atas muka bumi ini yang tidak disentuh oleh ajaran Veda. Apa pun yang sehubungan dengan hidup manusia itu tidak lepas dari jangkauan Veda. Ajaran Veda itu sangat lengkap, bahkan sampai hal-hal yang sering tidak masuk akal, dengan kata lain hal-hal yang akal kita tidak mampu mencerna dan menjangkaunya. Sehingga sering kalau kita tidak berhati-hati, kita akan cenderung mempertanyakan ajaran-ajaran Veda. Hal tersebut disebabkan arah kepala, arah kecerdasan kita berbeda atau berbalik dengan ajaran-ajaran kebenaran.
Dalam hal belajar-mengajar Veda, jika tidak diisi dengan rasa, sentuhan rasa spiritual, maka kita pasti gagal belajar Veda, karena kecerdasan dunia akan mengaburkan segalanya. Itulah sebabnya orang perlu bermeditasi, perlu mengatur makanan, itu pula sebabnya orang perlu mengatur pergaulan sehingga kecerdasan spiritual kita bisa muncul, rasa spiritual bisa tumbuh berkembang. Dengan demikian kita akan sangat terbantu untuk memahami ajaran-ajaran Veda lebih jauh. Kalau tidak, maka segalanya kita akan "dun-iakan", artinya, nilai-nilai agama spiritualnya akan kita turunkan menjadi sesuatu yang sangat duniawi. Demikian pula akhirnya kecerdasan kita akan mempertanyakan setiap sloka-sloka atau man-tram-mantram Veda. Di sanalah kita hendaknya sangat berhati-hati.
Ajaran-ajaran Veda banyak sentuhannya kepada keperluan-keperluan, ke-pentingan-kepentingan hidup manusia kita supaya kita hidup sejahtera dan bahagia di dunia maupun setelah meninggal. Sentuhannya sangat luas khususnya menyentuh ajaran-ajaran Atma Tatva, Brahma Tatva mengantarkan lebih banyak pada ajaran-ajaran agama spiritual dalam pengarahan pada pencapaian Dharma, Artha, Kama, dan Moksa.
Mantram-mantram Veda perlu beberapa kali dibaca agar bisa menangkap pecahan-pecahan kata dan suku katanya. Kalau tidak, kita akan keseleo memecahnya dan akhirnya memberikan arti serta pengertian yang salah, misalnya amerta dibaca merta, tentu saja akhirnya memberikan arti yang bahkan terbalik. Amerta artinya nek-tar atau minuman kekekalan, karena dipenggal menjadi merta, maka ia berganti arti menjadi kematian atau racun.
Contoh mantram lain yang juga salah penggal adalah sa bahya abhyantara sucih dipecah menjadi sa bahya dan bhyantara, yang seharusnya adalah abhyantara. Membaca mantram-mantram Veda, seharusnya dilakukan berulang-ulang kali supaya mendapat pecahan-pecahan kata yang tepat.
Menurut Yajur Veda, per-syaratan pertama yang harus ada dalam usaha menciptakan bangsa dan negara yang jaya adalah Brahmana, atau tokoh spiritual. Brahmana yang dimaksudkan di sini adalah brahmana yang Brahmateja, Brahmana artinya bersinar oleh sinar Brahman. Brahmana Brahmateja terbentuk melalui pertapaan yang kuat, sadhana yang luar biasa sehingga beliau itu menjadi Brahmana yang Brahmateja yang bersinar di dalam dan juga di luar. Brahmateja wajahnya selalu bersinar cemerlang dan dipenuhi oleh sinar-sinar spiritual. Brahmateja juga adalah Brahmavarcasi, artinya sangat hebat dalam ajaran-ajaran Veda, menguasai ajaran-ajaran Veda dengan sangat baik.
Kebanyakan umat mengenal Brahmana jika yang bersangkutan lahir di keluarga Brahmana. Akan tetapi, brahmana yang di sini dimaksud bukan brahmana yang karena lahir di keluarga brahmana. Lahir di kelu¬arga brahmana tidak begitu penting, sepenting menjadi brUhmana dalam Brahmateja dan Brahmavarcasi, yang menjadi brahmana karena sadhana, menjadi brahmana karena adhyayana, karena belajar Veda, menjadi brahmana karena bertapa, brata, yoga, semadhi, menjadi brahmana karena hidupnya penuh di dalam pengetahuan-pengetahuan Veda.
Pada umumnya, sejak usia lima tahun sudah dikirim ke Gurukula, Rsikula, ke perguruan-perguruan, pereresian-pereresian, atau ke pedukuhan dan tinggal di sana bersama Guru, belajar bersama Guru dari kecil sampai umur layak berkeluarga barulah boleh pulang. Brahmana yang tertempa keras secara tradisi Veda, Brahmana seperti itu yang berhasil menjadi Brahmana Brahmateja. Rsi Valmiki berhasil karena tapanya hebat. Rsi Narada juga berhasil mencapai tingkat Maharesi karena bentukan tapa-brata yang hebat, berhasil menjadi Rsi walaupun lahir di keluarga Sudra. Brahmana yang harus ada, yang akan sangat membantu tegak, jaya, makmur serta damainya satu bangsa dan negara adalah brahmana yang Brahmateja dan Brahmavarcasi.
Brahmana seperti itu terbentuk dari Sadhana. Tanpa melakukan sadhana tidak ada yang bisa menjadi seorang Brahmana. Tanpa melakukan tapa, brata, yoga, semadhi tidak akan ada yang bisa menjadi Brahmana (Brahman janati iti Brahmanah), yang mengetahui Brahman. mengetahui Tuhan, yang me-realisasikan Tuhan di dalam dirinya, yang melihat Tuhan di mana-mana, di dalam diri setiap orang, di dalam diri setiap makhluk.
Brdhmana-brdhmana yang mencapai tingkat Brahmateja, Brahmavarcasi yang seperti inilah yang akan mampu memberikan Sat-marga atau jalan yang lurus spiritual menuju sangkan paraning dumadhi. asal muasal kita (Moksa). Tidak hanya untuk pencapaian spiritual seperti itu, tapi juga untuk penyelesaian masalah-masalah dunia, demi pencapaian kesejahteraan bangsa dan negara, demi pencapaian kesejahteraan individu, pribadi-pribadi.
Ksatria, orang-orang pe-merintahan, penguasa, administrator, raja. presiden, mentri, polisi, tentara yang diperlukan adalah yang ahli dalam bidangnya. Khusus untuk Raja atau Pemimpin tert-inggi negara di sini disebutkan memiliki keahlian dalam banyak hal. Bukan sekedar tahu dan ahli melainkan kuat gagah perkasa, penembak jitu dan yang mampu sendirian mengalahkan ratusan orang musuh. Ksatrya-ksatrya yang seperti itu yang harus diciptakan, yang juga memiliki kesetiaan teguh pada bangsa dan negaranya.
Hal lain yang juga ada adalah sapi yang memberikan susu yang banyak, sapi jantan yang kuat mengangkut beban yang berat-berat, keberadaan para perempuan yang rajin, memiliki segala sifat mulia dan juga menguasai berbagai seni-budaya, keberadaan mereka juga berperan penting dalam menunjung kejayaan bangsa dan Negara. Pada zaman Veda, para wanita itu tempatnya didepan. sangat dihormati dan diterima semulia Dewi mulia. Mengingat mulianya para wanita, Rsi Manu menyebutkan, di mana wanita tidak dipuja/dihormati (yatra narya napujyante), maka di sana tidak akan ada kemakmuran.
Selanjutnya juga disebutkan tokoh-tokoh terpelajar bijaksana, dan juga anak-anak muda yang cekatan dan serta mantap di jalan Veda, juga menentukan kejayaan bangsa dan negara. Anak-anak muda begini nanti bisa menjadi pionir yang handal dalam memajukan serta menjaga kejayaan bangsa. Dan setiap orang mempunyai kewa¬jiban berdoa untuk keberadaan semua yang disebutkan dalam mantra Veda di atas, demi kejayaan bangsa dan negara Indonesia.
Oleh: Darmayasa
Source: Koran Bali Post, Minggu Kliwon 24 Juli 2016