Etika agama Hindu mengandung nilai-nilai luhur yang harus dipahami, dihayati, ditransformasi dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai luhur dalam Etika Hindu seharusnya lebih sering disosialisasikan agar mampu dipahami dan diyakini kebenarannya sebagai tuntunan hidup yang berbudi luhur. Etika ini merupakan salah satu dari kerangka dasar agama Hindu, yang terdiri dari Tatwa; Susila dan Upacara yang ketiganya tidak bisa dipisahkan, karena satu unsur dengan unsur yang lain saling menata dan membangun secara sibernetik.
Mengapa topik ini dibahas, alasan; nilai luhur yang terkandung di dalam etika Hindu bersifat universal, Penting perlu sering digali, dibahas, agar menambah pengetahuan masyarakat, kekayaan budaya luhur tentang etika yang dianut. Disamping itu dalam kesempatan kehidupan manusia, khususnya manusia Hindu di Bali, sudah ada kecendrungan ada distorsi nilai; seperti adanya hedoisme, pembunuhan, pencurian pratima yang sangat disakralkan. Sosialisasi dan enkulturasi nilai luhur Etika Hindu perlu secara terprogram disampaikan pada masyarakat.
Etika Hindu juga sering disebut sebagai Dharmasastra; Dharma artinya menuntun; juga termasuk hukum yang mengatur hak dan kewajiban manusia. Sastra berarti ilmu pengetahuan. Dharmasastra sebagai Etika dapat diartikan sebagai pedoman hukum yang menuntun manusia dalam kehidupan sosialnya, agar masyarakat bisa teratur.
Mengacu pada pembahasan diatas artikel singkat akan mengulas tentang Etika ? Hindu secara tektual dan aplikasi moralitas bangsa.
Etika Hindu Secara Tektual dan Aplikasi
Etika Hindu atau Dharmasastra secara tektual termaksud dalam berbagai kitab suci Agama Hindu seperti : Bhagawadgita; kitab Sarasa-muccaya; pada kitab suci Dharmasastra; kitab suci Canakya Nitisastra; pada Slokantara, juga pada Dharma Sastra dll.
Menurut analisis penulis diantara sumber sastra suci Hindu diatas, ada konsep-konsep penting sebagai mata ajaran yang harus dipahami oleh masyarakat antara lain : Tri Kaya Parisuda yang paling sederhana bisa dilakukan oleh siapa saja dan dapat bermanfaat sebagai tuntunan. Tri Kaya Parisuda mencakup; Berfikir yang baik dan suci; Berkata yang baik dan suci; Berbuat yang baik dan berprilaku yang suci.
Studi Antropologi menyatakan bahwa nilai luhur merupakan wujud abstrak dan inti kebudayaan yang berfungsi menata sikap hidup manusia. Nilai luhur pada Tri Kaya Parisuda bermakna dengan berfikir yang baik dapat terwujud dalam perkataan yang baik dan prilaku yang baik, suci dan disebut prilaku yang berbudi luhur dan manusia yang bermoral. Termaksud pada sloka Menawadhar-masastra sebagai berikut:
Idhanim dharma pramanamyaha
Wedo'khilo dharmamulam
Smrtisile ca dvidham
Smrtisile ca sadhunam Atmanastutireva ca
(Menawadharma Sastra II. 6)
Artinya:
Seluruh pustaka suci Weda adalah
sumber pertama pada Dharma;
kemudian adat-istiadat; Lalu tingkah laku yang terpuji dari orang-oranya
budiman yang mendalami ajaran
pustaka suci Weda, juga tata cara peri
kehidupan orang-orang suci dan
akhir kepuasan diri pribadi
Makna dari sloka diatas, menga-takan bahwa pustaka suci Weda mengandung nilai luhur budaya vang bersumber dari agama Hindu sebagai pedoman untuk berprilaku yang terpuji, menjadi manusia yang budiman dan tetap menjaga kesucian.
Dalam tektual sastra yang lain : seperti pada Canakya Sastra ada 2 jenis tipe manusia, ada yang kelahiran surga dan ada yang kelahiran neraka, kelahiran surga adalah orang yang berkarakter baik, suci, cenderung bersifat kedewataan, dan kelahiran neraka adalah orang yang berkarakter tak baik. Pembuktian manusia kelahiran surga adalah :
Svarga shitanam ika jivaloka
Catvasi cinham vasanti dehe
Dana prasango madhura ca vani
Devarcanam brahmana tarpanas ca
(Canakya Niti Sastra VII.6)
Artinya :
Setelah menikmati surga rokh lahir kebumi.
Empat ciri kelahiran surga adalah
dermawan, lemah lembut, menarik dan tekun.
Memuja Tuhan dan menghormati brahmana.
Makna dari sloka diatas pada intinya juga menanamkan pada umat agar selalu berbuat baik, agar dapat karma yang baik; reinkarnasi menjadi orang baik. Sebaliknya kelahiran neraka adalahh suka marah, kasar, benci, suka bergaul dengan orang yang hina, dan suka melayani orang jahat.
Makna dari sloka diatas pada intinya juga menanamkan pada umat agar selalu berbuat baik agar dapat karma yang baik, sehingga reinkarnasi lagi agar menjadi manusia yang baik; dermawan, lemah lembut dll; cenderung bersifat kedewataan. Disamping itu konsep Rwa-Bhineda selalu menata sikap prilaku kita sebagai umat Hindu. Untuk keseimbangan baik buruk itu, selalu eling diri, mulat sarira, agar tidak terjerumus ke hal yang tidak baik.
Masih cukup banyak nilai-nilai luhur yang terkandung dalam etika Hindu yang ada pada kitab suci Hindu yang perlu digali dan dikembangkan seperti halnya : (1) Konsepsi/ajaran tentang Tri Hita Karana; (2). Sad Mitra; (3) Asta Brata; (4). Catur Purusa Artha; (5). Catur Marga; (6) Dasa Dharma; dll.
Secara normatif sangat kaya mempunyai nilai luhur yang ada pada ajaran suci sastra Hindu, namun aplikasi nampak ada kecenderungan distorsi nilai. Tri Kaya Parisuda merupakan salah satu diantara Etika Hindu yang menurut analisis penulis yang paling mendasar harus diketahui secara kognitif; dihayati secara efektif dan diamalkan secara psykomotor/ aplikasi pada perilaku luhur nampak sangat sederhana, namun masih banyak kemunafikan yang ada pada kehidupan masyarakat. Seperti sering penulis dapat dengar pada Dharma Wacana, kecendrungan, cesing manusia, namun berhati binatang. Mudah-mudahan para tokoh agama, adat, masyarakat, pemerintah tidak henti-hentinya memberi contoh yang baik, mensosialisasikan, membudayakan nilai-nilai luhur pada generasi penerus, untuk menumbuhkan masyarakat "Jagadhita Ya Ca Iti Dharma".
Source : Dra. S. Swarsi, M.Si l Warta Hindu Dharma NO. 510 Juni 2009