Widura Niti [2]

(Sebelumnya)

Prabhu Dhristarashtra bertanya lagi, katakanlah kepadaku, apakah yang diperbuat oleh orang yang tidak biasa tidur karena diliputi rasa kecemasan, Wahai Vidura yang paham tentang agama dan hal yang berfaedah. Berilah aku nasehat, wahai Vidura yang murah hati, dalam hematmu apa kiranya yang berguna bagi anaknda Prabu Yudhithira dan apakah yang berfaedah dan baik bagi keluargga Kuru? Aku terkenang akan kesalahan yang telah kuperbuat. Aku bertanya kepadamu dengan penuh kecemasan, wahai orang berpendidikan, apakah yang sebenarnya terkandung dalam hati anaknda Prabhu Yudhisthira?"

Arya Widura berdatang sembah seraya berkata. "Aduhai Paduka Sri Maharaja, hamba mencoba mengemukakan pendapat hamba tentang apa yang berfaedah bagi keluarga Kuru, juga akan hamba paparkan apa yang berguna dan mengandung adat sopan santun. Baiklah diperhatikan! Hendaklah Paduka Sri Maharaja jangan menitikberatkan kepada sesuatu hasil gemilang dari apa yang tidak benar dan tidak utama. Orang yang bijaksana tidak menyedihkan manakala sesuatu tujuannya tidak memperoleh hasil yang gemilang, juga tidak menolak sesuatu saran yang jujur dan mengandung maksud utama. Sebelum orang berbuat sesuatu, orang yang mempertimbangkan akibat perbuatannya itu, sifat dari perbuatannya itu dan maksud serta tujuannya. Karena semua perbuatan bergantung kepada hal-hal tadi.

Seorang Raja yang tidak mempunyai pandangan umum terhadap wilayahnya, akan hilang harta-benda, kepopuleran dan kemampuannya untuk menjalankan penghukuman dan tidak akan mampu lama mempertahankan kerajaanya. Ibarat bintang-bintang dipengaruhi oleh planit-planit, seperti itulah ibaratnya dunia ini dipengaru. oleh indrya. Seperti bulan pada praniti suklapaksa, begitulah ibaratnya kesengsaraan berangsur-angsur tumbuh pada mereka yang ditaklukan oleh panca indrianya, yang mengantarkan dia kepada berbagai macam perbuatan. Keuntungan besarlah yang menantikan mereka yang menguasai indryanya, yang meneliti jiwanya, yang sanggup mengalahkan semua lawan-lawannya, atau yang berbuat atas dasar keadilan dan yang memiliki kesabaran. Badan orang adalah ibarat kereta, Jiwanya yang terkandung didalamnya merupakan kusirnya dan indryanya adalah kudanya, Dengan ditarik oleh yang utama dan terkendalikan senantiasa membawa kusir yang kurang cakap ke jalan yang rusanya.

Demikian itulah indrya yang tidak dapat dikuasai, mengantarkan orang semata-mata kepada kebinasaan. Orang yang kurang pengalamannya dikuasai oleh indrya nya, yang mengharapkan akibat buruk dari kebaikan dan akibat baik dari keburukan, berarti dengan paksa mengacaukan rwa-bhineda ini yaitu kesengsaraan dan kebahagiaan, barang siapa melepaskan agama dan hal yang berfaedah, namun mengikuti arus indriyanya, pastilah hilang kemak-muran, hidup, keuntungan dan istrinya.

Barang siapa menjadi raja dari kekayaan tetapi sebaliknya menjadi budak dari indryanya, pastilah kehilangan kekayaan itu akibat ketidak mampunya menjadi raja dari indryanya. Orang harus berusaha mengenali diri sendiri, dengan meneliti pikirannya, kecerdasannya dan indriyanya, karena diri pribadi itu adalah sahabat sendiri, karena diri sendiri adalah selamanya sebagai sahabat atau sebagai musuh sendiri. Nafsu dan kemarahan, wahai Paduka Sri Maharaja merusak Pradnya, ibarat ikan besar memutuskan rajutan jala yang terbuat dai benang-benang halus. Mereka yang di dunia ini mengutamakan agama dan hal-hal yang berfaedah serta berusaha agar mengetahui apa arti hasil yang gemilang itu (kelepasan?) memperoleh kebahagiaan, mendapatkan semua apa yang dicairanya.

Mereka yang tidak menaklukan kelima musuh yang ada di dalam dirinya, tetapi ingin mengalahkan musuhnya yang lain (diluar dirirnya) pada hakekatnya dikalahkan oleh lawan-lawannya itu. Kebenaran, kesederhanaan, kesucian, kepuasan, kehalusan bahasa, penguasaan atas diri sendiri, kebenaran dan kepatuhan adalah sifat-sifat orang yang nista, orang bodoh berbuat tidak pernah ada pada sifat-sifat yang tidak ada pada orang jahat. Pengetahuan atas diri sendriri, kepatuhan, kesabaran, ketaatan, akan kebajikan, kecakapan menerima melihat dan kedermawanan, ini semua, wahai Paduka Sri Maharaja, Tidak pernah ada pada sifat-sifat orang yang nista.

Orang bodoh berbuat tidak adil terhadap orang pradnya dengan berkata palsu, menuduh dan berkata jahat. Akibatnya adalah bahwa desa-desa dari orang pradnya itu diambil alih oleh orang bodoh itu, sedang sang pradnya itu sendiri terlepas dari dosa-dosanya dan memperoleh rahmat. Kekuatan seorang durjana ialah pada kebencian dan tindakan-tindakan jahat, dan kekuatan seorang raja pada perhatiannya terhadap si lemah dan wanita yang didalam pemberian-ampun terletak kekuatan orang yang berkebajikan.

Meneliti ucapan-ucapan atau kata-kata, wahai Paduka Sri Maharaja, adalah paling sukar. Tidak mudah untuk berbicarakan panjang yang penuh mengandung arti dan sedap di dengar oleh pendengarnya. Wejangan yang baik menghasilkan hal-hal yang berguna, tetapi pembicaraan yang buruk, wahai Paduka Sri Maharaja adalah menjadi sumber kejahatan. Ibarat sebuah hutan yang rusak karena dipanah atau di babad dengan kapak kemudian tumbuh kembali, tetapi hati yang luka dan dikecam dengan kata-kata busuk tidak pernah sembuh kembali. Senjata, panah, peluru sangat mudah dicabut dari badan kita, tetapi kata-kata sembilu yang masuk mendalamk ke lubuk hati tidak mudah di cabut kembali. Panah kata-kata yang dilontarkan dari mulut menimbulkan kesedihan siang dan malam.

Orang yang terpelajar tidak akan melepaskan panah seperti itu, bukankah panah itu menusuk hati orang lain? Paduka Sri Maharaja nampaknya tidak jelas mengetahui hal itu. Wahai banteng dari keturunan Bharata, pikiran yang gelap kini menyelubungi putera Paduka, karena perseteruannya dengan Pandawa. Dengan mempunyai sifat-sifat utama dan berjasa untuk memerintah Tri-Bhuana, Prabu Yudistira adalah patuh kepada perintah Paduka Sri Maharaja. Demi menjaga nama baik Paduka Sri Maharaja biarlah beliau, Prabu Yudhisthira memerintah dunia diluar para putera Paduka Sri Maharaja. Prabu Yudhistlura adalah ahli waris Paduka Sri Maharaja yang terkemuka. Prabu Yudhisthira yang Dharma itu yang mempunyai kekuatan, pradnya, paham tentang sarinya agama dan hal-hal yang berfaedah, kini dalam sengsara.

Prabu Dhristarasthra berkata, "Wahai Vidura yang bijaksana, ceritakanlah kepadaku lagi hal-hal yang utama yang mengandung tatwa agama dan hal-hal yang berfaedah. Keinginanku untuk mendengarkannya belum puas, apa yang kukatakan adalah sangat memuaskan hati."

Arya Vidura berdatang sembah seraya berkata, "mencuci diri di tempat-tempat keramat dan baik hati terhadap semua makhluk- kedua ini adalah sama utamanya. Tetapi rupanya baik hati terhadap semua makhluk melebihi yang tersebut pertama. Maka itu wahai Paduka Sri Maharaja, perlihatkanlah kebaikan terhadap semua putera-putera Paduka Sri Maharaja, karena dengan perbuatan demikian Paduka Sri Maharaja akan memperoleh kemasyuran di dunia ini, Paduka Sri Maharaja akan mencapai surga kelak. Selama perbuatan baik seseorang disebut-sebut di atas dunia ini selama itu pula ia menikmati hasil jasanya yang gemilang diakhirat. Dalam hubungan ini diceritakan sebuah ceritera kuna tentang percakapan Virochana dan Sudhanwan, kedua-duanya meminang Dewi Kesini.

Selanjutaya Arya Vidura bercerita tentang percakapan itu. Setelah ceriteranya itu berakhir Arya Vidura melanjutkan tuturnya, beliau berkata, Dewa-dewa dapat diuji dengan api, para sujana atau orang yang terhormat melalui perbuatannya, orang yang gagah berani dibuktikan dalam suasana panik, orang yang menguasai diri sendiri manakala ia miskin, dan sahabat dan musuh dapat diketahui manakala ita mendapat kesengsaraan atau bahaya. Tua renta menghapuskan kerupawanan, nafsu menghancurkan kesabaran, maut membinasakan hidup, iri hati merusak keadilan, kemarahan merusak kemakmuran lahir dari perbuatan baik, nafsu birahi menghilangkan kesopan-santunan, dan sombong merusak segala-galanya. Kemakmuran lahir dari perbuatan baik, ia tumbuh karena kegiatan kerja (bekerja), akarnya menjalar karena keakhlian dan memperoleh kemantapan karena penelitian atas diri sendiri.

Yang delapan ini tidak berpisah yang senantiasa diikuti oleh orang-orang baik. Empat yang tidak berpisah dengan orang-orang baik adalah yadnya, dana punya, belajar, dan sanyasa. Yang empat lagi yang senantiasa dikejar oleh orang-orang yang baik adalah menguasai diri sendiri, kebenaran, kesederhanaan dan tidak berbuat tidak adil terhadap semua mahluk. Maka itu yadnya, belajar, kedernawanan, kesanyasanan, kebenaran, pengampunan, rasa terimakasih, kepuasan hati, adalah dasar delapan jalan yang berbeda-beda dari keadilan. Yang empat pertama mungkin dilakukan untuk tujuan-tujuan kebanggan, tetapi yang empat berikutnya hanya terdapat pada orang yang sejati utama.

Tidaklah ada sesuatu sidang dimana tidak ada orang-orang tua, dan mereka bukanlah orang tua jika tidak mengajarkan apa kesopan-santunan itu. Dan bukanlah kesopanan kalau berpisah dengan kebenaran, dan itu bukannlah kebenaran kalau berisi penipuan. Kebenaran, kecantikan memenuhi tuntutan kitab-kitab suci, pengetahuan, sulinggih, perbuatan baik, kemampuan, kemakmuran, gagah berani dan sanggup membicarakan segala sesuatunya-sepeluh ini adalah kelahiran surga. Menyerahkan pengawasan atas negara kepada Pangeran Duryodhana, Sakuni, Dussasana yang bodoh, dan Karna, bagaimanakah Paduka Sri Maharaja dapat berharap akan memperoleh kemakmuran? Karena memiliki semua kebajikan, para Pandava, wahai Banteng dari keturunan Bharata, adalah bakti kepada Paduka Sri Maharaja seperti terhadap ayahandanya sendiri. Maka itu perlihatkanlah kepada mereka sifat-sifat baik sesorang ayah terhadap putranya." (Bersambung)

Diterjemahkan oleh I Gusti Ketut Sangka dan I Gusti Ketut Anom
Source: Warta Hindu Dharma NO. 523 Juli 2010