Yudistira adalah putra Kunti yang lahir dari penyatuan Kunti dengan Dewa Darma (dewa keadilan, dewa kebenaran). Kunti mengundang Dewa Uarma memang atas saran Pandu untuk bisa mempunyai anak. Kunti mampu mengundang semua dewayang dikehendaki, karena ia mempunyai mantra rahasia anugrah seorang pertapa yang bernama Durwasa.
Yudistira {Yuddi-stira) artinya tetap hati dan teguh iman dalam Peperangan. Ia dianggap sebagai penjelmaan keteguhan hati, wibawa, berbudi luhur dan keadilan. Nama-nama lain untuk Yidistira adalah: Darmawangsa (keluarga darma), Darmaputra (putra darma), Darmaatmaja/ Darmatemaja (putra darma), Darmasuta (putra darma), Darmatanaya (anak darma) dan sebagainya.
Secara psicologi tokoh Yudistira, jika dilihat dari kecakapannya memang ia merupakan tokoh yang sangat cerdas. Kecerdasan Yudistira sudah nampak sejak ia masih muda ketika diasuh oleh guru Drona. Lihat kutipat berikut: Karena dipaksa oleh rakyatnya, Drstarata mengumumkan Yudistira sebagai putra mahkotanya, karena keteguhan, kesabaran, keramahan, kasih sayang dan selalu mengatakan yang benar, dikagumi oleh rakyat kerajaannya. Dalam waktu singkat, Yudistira menunjukan bahwa ia melebihi ayahandanya dalam mengurus negara (hl.62)
Kecakapan Yudistira meliputi segala bidang, bukan saja ilmu yang bersifat duniawi, tetapi juga ilmu spiritual. Menurut I Ketut Repet (1986:10), Yudistira atau Darmawangsa merupakan simbol dari Taru Agung (kayu besar) dengan, Arjuna sebagai batang, Bima sebagai cabangnya, Nakula, Sahadewa sebagai buahnya dan Kresna serta para pendeta sebagai akarnya. Yudistira memiliki sifat-sifat Dharma yakni; Cila (tata cara bertingkah laku yang baik), tapa (tapa brata), yadnya (korban suci), wirakta (tanpa hawa nafsu), tyaga (bebas dari belenggu kehidupan dunia), yoga (semadi) dan juga memiliki sifat; metri (belas kasih), karuna (penuh kasih sayang), mudita (suka memaafkan) dan upeksa (suka menolong).
Yudistira yang dikatakan sebagai simbol kebenaran (darma), memang tidak berlebihan, sebab apapun ia lakukan selalu berdasarkan atas sifat-sifat yang telah, disebutkan oleh Repet di atas. Narada pernah bertanya kepada Yudistira, ketika Narada turun untuk melihat istana Yudistira yang dibuat oleh Maya. Pada waktu itu Narada bertanya tentang apa yang harus Yudistira lakukan sebagai seorang raja. Yudistira sangat puas dengan pertanyaan dan jawaban yang diberikan oleh Narada dan semua ajaran itu digunakan diterapkan dalam kerajaannya. Untuk lebih jelasnya lihat kutipan berikut:
Bagaimana khabarnya, Yudistira ? "Naradabertanya. "Apakah Tuan sudah menerapkan keenam sifat, kecerdikan, kesiagaan, kecerdasan seorang raja dalam menghadapi lawan, daya ingat, pengetahuan politik dan kebaktian terhadap kesantunan untuk digunakan dengan baik?
Apakah ketujuh peryira utama, gubernur banteng, panglima, kepala peradilan, kepala poiisi/ tabib istana, penasihat politik, dan kepala ahli perbintangan, setia kepada Tuan? Apakah kebajikan Tuan ialah bersikap hdak memihak terhadap orang-orang asing dan kepada raja-raja yang tidak memihak kepada Tuan?
Apakah Tuan mempunyai guru-guru yang baik untuk mengajar para pangeran dan para perwira angkatan darat dalam hal darma dan berbagai ilmu pengetahuan?
Apakah Tuan memata-matai musuh-musuh Tuan tanpa setahu mereka? Apakah pendeta yang Tuan hormati rendah hati, bersih, disegani, murah hati dan pemaaf?
Apakah jabatan-jabatan tinggi dipegang oleh pejabat-pejabat yang tidak menyeleweng, setia terhadap pengabdian mereka untuk rakyat? Apakah mentri-mentri Tuan pernah memperolok-olok Tuan, sama seperti para pendeta yang mem-perolok-olok orang miskin yang tak mampu mengadakan sesaji?
Apakah Tuan menghargai kece-dikian dan kerendah-hatian dengan hadiah-hadiah yang serasi berupa harta dan tanda kehormatan ? Apakah gaji prajurit-prajurit Tuan dibayar tepat pada waktunya?
Sebelum Tuan menyatakan perang, apakah Tuan sudah melakukan empat macam seni berunding untuk bersahabat: memberi hadiah-hadiah berupa harta, menyebarkan perpecahan, mengadakan perundingan untuk mencapai persetujuan, dan pamer kekuatan ?
Apakah anggaran Tuan seimbang. Adakah keempat jabatan pertanian, perniagaan, peternakan dan peminjaman uang dijalankan oleh orang yang jujur?
Apakah kaum wanita dilindungi di negara Tuan? Apakah Tuan menyembuhkan penyakit-penyakit badani dengan obat-obatan dan berpuasa dan penyakit jiwa dengan nasihat para guru?
Apakah Tuan menjauhkan diri dari empat belas kejahatan raja-raja; mencari kesenangan semata-mata, tidak bertuhan, amarah, terburu nafsu, suka menunda-nunda peker-jaan, tidak meminta nasihat orang yang ahli, kemalasan, kegugupan, hanya mengikuti nasihat satu orang, menerima nasihat sahabat yang mata duitan, membocorkan rahasia ne-gara, membiayai usaha kegiatan yang tidak membawa hasil apa-apa dan bertindak agar dasar gerak hati yang tiba-tiba dirasakan (hl. 89-101).
Apa yang ditanyakan oleh Narada di atas, sangat detail dalam ilmu pemerintahan yang harus dikuasai oleh seorang pemimpin. Apa yang diajarkan oleh Narada berdasarkan pertanyaan-pertanyaan itu sesungguhnya merupakan ujian terhadap kemampuan yang dimiliki oleh Yudistira.
Yudistira tidak ambisius, ketika ia diundang untuk bermain dadu oleh Widura atas nama Drstarata. Yudistira menolak dalam hati, akan tetapi demi hormatnya kepada Drstarata, Yudistira menurut. Yudistira tahu akan nasib yang menimpa dirinya, ia juga tahu Sakuni orangnya licik, sekali lagi demi kepatuhannya kepada Drstarata apapun ia lakukan. Sekalipun kepahitan akhirnya ia peroleh, dengan kehilangan segala-galanya ia masih tetap sabar. Kemudian pada permainan yang kedua, ketika utusan Duryodana menghadap Yudistira untuk kembali bermain dadu dengan taruhan hukuman pembuangan selama dua belas tahun. Yudistira tahu akan kalah, tapi ia tak dapat menolak perintah raja. Lihat kutipan di bawah:
Ketika utusan Raja memberitahukan kepada Yudistira keputusan baru, Yudistira berkata : "Itulah takdir" Aku tahu aku akan kalah, tapi aku tak dapat menolak perintah Raja (hl. 134).
Yudistira adalah tokoh yang sangat sabar, berbudi luhur, pemaaf, suka menolong siapapun bahkan musuh sekalipun. Yudistira telah teguh mengekang diri, murni, sabar, setia senantiasa terhadap darma, bersema¬ngat tinggi, dia menaruh hormat dan ramah terhadap tamu, kenalan sahabat, para abdi dan semua, siapa saja yang minta perlindungan padanya, jujur murah hati, penuh tapa, berani, dia berdatnai dengan dirinya, bijaksana dan tak tergoncangkan, sebagai jiwa darma dia tak pernah terlihat praktek ketidakadilan oleh karena nafsu atau menjadi sabar karena takut, ataupun mempromosikan ambisi-ambisinya (Zaehner, 1992:217). I Gusti Bagus Sugriwa mengatakan sifat seorang tokoh pewayangan dapat dilihat dari pakaian dan perhiasan yang dikenakan Yudistira memiliki Ketu atau mahkota (Gelung keklingan) yang bersahaja atau polos, ini menggambarkan sifat seseorang raja yang sangat sabar, pandita ratu (1978:25). Hal ini dibuktikan ketika utusan Duryodana datang menghadap Yudistira minta pertolongan di tawan oleh Citrasena. Di mata adik-adiknya Duryodana adalah musuh bebuyutan yang harus dihancurkan. Hal ini sangat beralasan, oleh karena Duryodanalah penyebab penderitaan para Pandawa. Akan tetapi di mata Yudistira menjadi lain, siapapun yang meminta pertolongan harus ditolong walaupun mereka itu musuh bebuyutan. Sebagai pemegang kebenaran, putra Dharma ia wajib melakukan hal itu. Kearifan Yudistira dapat kita lihat pada kutipan berikut:
"Ini bukan waktunya untuk menyatakan sakit hati. Mereka membutuhkan pertolongan kita dan mereka datang memohon kepada kita. Kaum keluarga selalu bertengkar, apakah itu berarti bahwa salah seorang anggota tak mau menolong yang lain yang sedang dilanda malapetaka? Bukankah raja Citrasena itu tahu kita tinggal di dalam hutan ini selama beberapa waktu? namun ia meng-hina kita, dan dayang, dayang kita! Pergi, bujuk dia untuk mem-bebaskan Duryodana (hl. 178)
Yudistira berperang selama 18 harin di Kuruksetra dengan kemenangi di pihaknya. Jalan ini ia tempuh oleh karena Duryodana tidak mau mengembalikan sebagian kerajaan yang menjadi haknya dan Duryodana ingkar janji. Jalan ini ditempuh karena jalan perundingan tidak membuahkan hasil. Yudistira memegang kekuasaan atas tiga dunia dengan yadnya yaitu korban manusia berupa perang (rana yadnya). Dalam perang berata banyak terjadi korban manusia, korban hakikatnya menuju keselamatan, seorang pahlawan mengutamakan yadnya dan senantiasa melaksanakan tugas dengan membasmi musuh di medan perang. Dia menebarkan bunga (tembang ura) dan sekar taji yang lepas dari rambut musuh yang mati di medan perang. Permata raja yang meninggal diumpamakan beras kuning, sedangkan homanya (api upacara) adalah istana musuh yang hangus, perang adalah sebuah yadnya (Medra, dkk, 1986:39). Setelah delapan belas hari pertempur dan semua prajurit Kurawa telah gugur dan Duryodana telah lumpuh oleh Bima, maka pada suatu malam Aswatama membantai keluarga pendawa dan membunuh Panca Kumara.
Kesedihan dan kekecewaan yang pahit di alami oleh Yudistira ketika malam itu kusirnya mengabarkan terbunuhnya putra-putranya. Ia menangis menyaksikan puing-puing bekas pembantaian. Ia menyesali akibat perang. Untuk lebih jelasnya lihat kutipan berikut:
Yudistira menangis, "mula-mula kita kalahkan mereka, kemudian mereka menghancurkan kita. Yang kalah menang dan si pemenangnya kalah Bagaikan saudagar-saudagar yang kurang hati-hati tenggelam di dalam kali sesudah selamat menyebrangi lautan Aku bersedih hati untuk Dropadi Semuanya mati? (hl. 368).
"Seharusnya kita tak pernah kembali dari tempat pembuangan kita. Arjuna Kita, telah bertengkar seperti sekawanan anjing memperebutkan sepotong daging dan kita menang dan daging itu dibuang ke samping, anjing telah melupakannya. Tidak demi gunung-gunung emas, tidak demi semua kuda dan ternak di seluruh dunia kita akan pembunuh para Kurawa. Tapi mereka telah mati. Kita telah membunuhmereka. Kesalahan itu untuk selama-lamanya akan dilimpahkan kepada kita. Sebaiknya saya pergi ke dalam hutan, menjalani kebiasaan membisu, dan menempuh jalan bagi orang-orang yang bijaksana dan suci (hl. 402).
Kesedihan juga menimpa Yudistira ketika Narada mengunjunginya dan memberitakan bahwa Kunti dan Drstarata serta Gandari telah wafat dimakan api hutan. Semangat Yudistira menjadi surut, seolah-olah dirinya tidak berharga lagi. Setelah mendengar kehancuran Dwaraka dan wafatnya Kresna, Yudistira mengundurkan diri ke hutan. Kerajaannya diserahkan kepada Yuyutsu dan menobatkan Parikesit untuk kelak menjadi raja Hastinapura.
Setelah Yudistira sampai di surga, betapa kecewanya, ketika ia melihat Duryodana duduk di atas singgasana surga sedangkan adik-adik dan keluarga yang dikatakan sebagai orane yang setia pada kebenaran ada di neraka. Yudistira menangis ketika melihat adik-adiknya, gurunya, istrinya menjerit-jerit di dalam kawah Candra gohmuka. Ia mengutuk para dewa bahkan Darma pun ikut dikutuk Namun akhirnya keadaan menjadi berbahk. Neraka menjadi surga yang abadi dan Kurawa di neraka. Neraka itu hanya sebuah maya ciptaan. Indra bagi orang-orang senantiasa setia berjalan di atas kebenaran.
Secara fisik Yudistira adalah seorang tokoh yang memiliki tubuh yang sangat sempurna. Hal ini disebabkan oleh faktor keturunan yakni keturunan Dewa. Menurut I Gusti Bagus Sugriwa mengatakan ciri-ciri fisik dari tokoh wayang mempunyai makna kias seperti Yudistira memiliki mata segitiga tumpul yang mengkiaskan bahwa ia memiliki sifat yang sabar tenang, kuat bahtinya tak mudah putus asa, bijaksana, berperikemanusiaan, tidak mementingkan diri sendiri, suka melakukan yoga semadi, percaya pada Tuhan, dan bakti terhadap orang tua dan leluhur. Yudistira memiliki tangan yang terlepas, kedua kanan kirinya berarti orang yang bekerja di dunia atas dasar lahir bathin dan cakap mengerjakan segala kekuatan yang menjadi kewajibannya. Yudistira juga mempunyai ciri fisik perut yang ramping ini berarti perhatiannya seimbang antara lahir dan bathin atau dunia dan akhirat (1976:26-28).
Yudistira secara fisik memang sangat tampan, hal ini dibuktikan dari ucapan Raja Wirata, ketika beliau melihat Yudistira yang menyamar nenjadi seorang Brahmin memasuki :erajaan Wirata. Lihat kutipan berikut: Melihat Yudistira memasuki keraton Raja Wirata sambil berpaling kepada penasihatnya dan berkata, "Siapakahdia, yang begitu tampan dan tegak lurus jalanya? la tidak mempunyai kereta ataupun gajah, namun ia tampak seperti Indra sendiri (hl. 201).
Secara sosiologis, kita dapat melacak asal-usul atau kebangsaan dari Yudistira. Yudistira seperti yang ada pada silsilah di depan, nampak ia adalah keturunan Pandu dan Ibunya Kunti Ia berasal dari keturunan orang yane bijaksana, berbudi luhur. Akan tetapi sebelum mereka dewasa ia ditinggal ayahandanya, sehingga ia di asih diline-kungan keraton Drstarata. Dari lingkungan awal penderitaan yang dialami oleh Yudistira. Yudistira berguru pada Drona, Kripa, Bisma dan Kresna. Lingkungan perguruan inilah yang membawaYudistira menjadi sosokyang tenang, sabar, berbudi luhur, tidak mementingkan diri sendiri, patuh pada perintah raja dan guru. Selama masa
pembuangan dua belas tahun sampai ia berhasil menjadi raja di Hastinapura selama tiga puluh enam tahun, Yudistira, masih dibuntuti oleh kesedihan, tapi ia tetap menjalankan segala sesuatu sesuai dengan Dharma.
Robert C. Zaehner menegaskan bahwa harus diingat Yudistira pun sebagai pemegang kebenaran masih tersiksa oleh keragu-raguan yang menakutkan. Adakah dharma yang diajarkan oleh para Brahmana itu dharma "abadi", ataukah itu dharma yang merupakan sumber dari keberadaan dirinya, yakni dharma berkat mana ia menjadi "Raja dharma", "raja kebenaran", karena kesadaran moral seorang yang benar tak dapat keliru? Dia ragu-ragu karena Tuhan sendiri telah mendorongnya ke arah perang dan kekerasan, dan menyuruhnya berbohong, tapi ia pun tahu, bahwa kesadaran moralnya melampaui kebenaran" dari para brahmana dan dan Kresna sendiri (1992 -. -207). Jika kita hhat sifat-sifat Yudistira, maka ia tergolong tokoh yang sadhu. Menurut Kitab Sarasamuscaya yang merupakan kitab intisari dari Mahabharata menyebutkan ciri-ciri orang sadhu sebagai berikut:
Adapun ciri-ciri yang sadhu adalah tukk gembira jika dipuji, tidaksedih jika dicela, pun lidakkerasukan marak tidak mungkin beliau mengucapkan kata-kata yang kasar, sebaliknya selalu tetap teguh dan suci bersih pikiran beliau (Pudia 1979:170. Sloka. 306). ''
Dan lagi sang sadhu tidak memikirkan cacat atau dosa orang lain, pun tidak akan mengeluarkan kata-kata apapun tentang celaan atau teguran dari pihak lain, hanya kebajikan dan perbuatan baik pihak lain saja dipikirkan beliau, dan sama sekali tidak ada kemungkinan beliau akan menyimpang dari prilaku orang arif, melainkan tetap teguh perpegang pada susila dan sopan santun. Demikian laksana sang sadhu, beliau disebut manusia utama (Pudja, 1979:171, Sloka. 308).
Sifat-sifat orang utama yang dijelaskan pada Sarasamuscaya ter¬sebut, semuanya dimiliki oleh Yudistira , bahkan secara kualitas mungkin lebih dari itu. Yudistira dapat dikatakan "Manusa ya, Dewa ya" artinya manusia yang yakni manusia yang utama, Dewa ya sebab secara langsung memang merupakan putra Dewa Darma yakni Dewa kebenaran dan keadilan. Kemampuan yang dimiliki Yudistira dalam segala hal melebihi kemampuan manusia biasa. Ia masuk surga dengan badan kasar membuktikan sifat-sifatnya melebihi para dewa.
Source: Made Purna l Warta Hindu Dharma NO. 433 Maret 2003