Denpasar - Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia (Unhi) kembali melahirkan doktor. Doktor baru kali ini yakni Ni Made Sukrawati, S.Ag., M.Si.j dosen Fakultas Pendidikan Agama dan Seni (FPAS) Unhi. Mempertahankan disertasi berjudul "Proses Didaktis dalam Tradisi Ngayah Membuat Banten pada Pujawali Ngusabha Kadasa di Pura Ulun Danu Batur, Kecamatan Kintamani, Bangli", Sukrawati dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan
Pada ujian promosi doktor, Sabtu (20/8) di aula gedung Rektorat Unhi, Sukrawati diuji dewan penguji yang diketuai Dr. LB. Dharmika, MA. dan Sekretaris Prof. Dr. Putu Gel-gel, S.H., M.Hum. Dengan anggota Prof. Dr. I Ketut Suda (promotor), Prof. Dr. Ida Ayu Gde Yadnyawati (kopromotor), Dr. I Ketut Margi, Prof. Dr. IBG Yudha Triguna, Dr. Wayan Paramartha, Dr. I Wayan Budi Utama, Dr. I Wayan Winaja, Dr. Ni Made Indiani, dan Dr. Ni Putu Suwardani.
Rektor Unhi Dr. IB Dharmika menyampaikan semakin banyak dosen Unhi bergelar doktor diharapkan kualitas pendididkan semakin meningkat. ''Semakin banyak Pascasarjana Unhi menamatkan doktor menunjukkan bahwa proses pembelajaran di Unhi bermutu," ujarnya. Direktur Program Pascasarjana Unhi Prof. Dr. Putu Gelgel mengatakan Sukrawati tercatat doktor pendidikan ke-15 dan doktor ke-30 lulusan Program Doktor Pascasarjana Unhi. Dengan diraihnya doktor pendidikan oleh Sukrawati berarti Unhi telah memiliki 8 doktor pendidikan dan tiga guru besar pendidikan. Artinya, Program Magister dan Doktor Ilmu Pendidikan Pascasarjana Unhi memiliki tenaga dosen yang berkualifikasi doktor telah mencukupi jika dibandingkan dengan jumlah mahasiswa yang dimiliki.
Promotor Prof. Ketut Suda mengatakan, sebagai sebuah karya disertasi, studi yang dihasilkan Sukrawati tentu akan sangat bermakna bagi upaya pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang ilmu pendidikan agama Hindu. Prof. Suda yakin ke depan hasil studi ini dapat dijadikan referensi bagi kalangan akademisi dalam rangka memperkaya khazanah pengetahuan tentang pendidikan agama dan keagamaan Hindu. Keyakinan itu dilandasi beberapa temuan promovenda di antaranya, proses didaktis dalam tradisi ngayah membuat banten pada Ngusabha di Pura Ulun Danu Batur, ternyata mem-perkuat postulat-postulat teori konstruktivistik dan teori belajar bermakna yang menekankan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual.
Sukrawati dalam disertasinya menyampaikan kebertahanan proses didaktis dalam tradisi ngayah membuat banten pada pujawali Ngusabha Kadasa adalah membangun ideologi religius, membangun sistem pengetahuan, serta memelihara keseimbangan dan harmoni sosial. "Temuan faktual dari hasil penelitian menyebutkan bahwa tradisi ngayah membuat banten tidak pernah terputus sampai sekarang. Hal itu didasari fakta sosial yaitu karena dimuat dalam Lontar Raja Purana Ulun Danu Batur yang berupa sanksi sekala. Ada juga berupa sanksi sosial yaitu hilikita dan pararem menjadi sumber aturan sosio religius masyarakat Batur," ujar istri I Made Sukarya, S.Pd., M.Fis. (aim) dan ibu dari I Putu Gede Ari Karisma Putra, S.E., M.Si. dan Ni Kadek Ayu Kristini Putri, SAg., M.Pd.H. ini.
Dikatakannya, proses didaktis dalam tradisi ngayah membuat banten pada pujawali ngusabha kadasa di Pura Ulun Danu Batur berlangsung dalam manajemen tradisional bahwa proses pendidikan berlangsung di dalam dan melalui seluruh aktivitas pelaksanaan tradisi ngayah tersebut.
Temuan teoretik dalam penelitian ini di antaranya, proses didaktis dalam tradisi ngayah memperkuat postulat-postulat dalam teori konstruktivistik dan belajar bermakna yang menekankan pada pendidikan dengan pendekatan kontekstual. Dalam konteks ini pangayah menemukan dan mengembangkan pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya, yaitu berupa aturan-aturan dan suasana yang tercipta dalam pelaksanaan tradisi ngayah tersebut.
Source: Koran Bali Post, Senin Wage 22 Agustus 2016