Pujawali Ngurip Bumi, Rangkaian Ngempat untuk Memohon Keseimbangan Alam

Gianyar - Pemkab Gianyar, Minggu (13/9) kemarin menggelar upacara Pangurip Bumi di Pura Ulun Kulkul, Desa Besakih, Kecamatan Rendang Karangasem. Sebagai rangkaian upacara Ngempat, pujawali Pengurip Bumi bertujuan memohon kedamaian serta menjaga keseimbangan alam.

Asisten III Setda Gianyar I Wayan Sudamia seusai pelaksanaan pejawali mengatakan, upacara Pangurip Bumi merupakan kelanjutan pelaksanaan upacara Ngempat yang dilaksanakan di empat penjuru mata angin di areal pura Besakih. Pura Ulun Kulkul dalam hal ini berada di sisi barat. Sementara sebagai pangemong pura, Pemkab Gianyar berkewajiban menggelar upacara tersebut.

"Sebelumnya telah dilaksanakan upacara Pangenteg Jagat di Pura Gelap yang berada sisi timur Besakih pada Purnama Karo. Sekarang dilanjutkan dengan Pangurip Bumi di Pura Ulun Kulkul," katanya.

Dijelaskan Sudamia, dalam menjaga keseimbangan alam, umat Hindu melaksanakan berbagai upacara keagamaan. Salah satunya berupa upacara Ngempat yang dilaksanakan bergilir di empat pura di areal Besakih. Pada Purnama Karo lalu dilaksanakan pujawali Pangenteg Jagat di Pura Gelap atau sisi timur. Kemudia pada Tilem Katiga dilaksanakan Pangurip Bumi di Pura Ulun Kulkul (Barat). Rangaian selanjutnya beruapa upacara Penaung Bayu di Pura Batumadeg (Utara) dan upacara Panyeeb Brahma di Pura Kiduling Kreteg (Selatan).

Upacara Pangurip Bumi di-puput 8 Sulinggih. Rangkaian upacara dimulai dengan upacara Nedunang, Mlaspas Bagia Pulakerti pada Sukra Pon Tambir atau 11 September lalu, dilanjutkan dengan Mapepada pada 12 September. Puncak Pujawali Pangurip Bumi pada Tilem Sasih Katiga atau kemari pada hari Minggu dan Masineb pada 16 September nanti.

Sumber: Koran Bali Post, Senin Umanis 14 September 2015