
Mitra Indonesia - Sekretaris Umum (Sekum) Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Ir. Ketut Parwata mengatakan salah satu pemicu kondisi bangsa yang tidak sehat saat ini adalah pengaruh media social (medsos). Hal lain yang memperparah kondisi ialah literasi rakyat Indonesia masih sangat rendah. "Berita hoaks sekarang begitu cepat menyebar. Ditambah interaksi masyarakat di medsos sangat tinggi, namun sayangnya masyarakat kita sekarang belum dewasa dalam menerima, mencerna serta mengelola informasi yang didapatkan," katanya.
"Arus informasi sekarang juga sangat besar. Saya menyebutnya sudah seperti tsunami. Tentu mejadi bahaya ketika 'tsunami' informasi yang begitu besar ini melanda masyarakat Indonesia yang masih mudah percaya dengan berita yang tersebar melalui medso," tambah Ketut.
Disisi lain, Ketut prihatin dengan kondisi bangsa dimana saat ini agama dipakai sebagai alat untuk mencapai kedudukan tertentu. Seperti di Pilkada DKI 2017. Ketut melihat agama hanya "dipinjam" untuk kebutuhan politik. Menjadi berbahaya ketika hal semacam ini dipakai kembali di ajang Pilkada di tahung-tahun mendatang.
"Kalau mereka bicara tentang gubernur harus dari agama tertentu, sekarang kita lihat di Kalteng. Disana mayoritas penduduknya bukan Kristen tapi gubernurnya pak Teras Narang dan bisa memimpin selama dua periode. Begitu juga di Kalbar, sampai saat ini pak Cornelis masih menjabat sebagai gubernur. Ini jelas Pilkada kemarin ada sesuatu yang anomaly," ujarnya.
Lebih jauh, kondisi Indonesia juga memprihatinkan dari sisi toleransi. Ketut mengutip hasil penelitian dari berbagai lembaga survey Indonesia yang memberikan hasil penelitian bahwa sikap intoleransi di Indonesia menunjukkan tren meningkat. Dimana pada salah satu laporan mengatakan, sebanyak 86 persen umat muslim yang mengikuti survey mengatakan mereka tidak bersedia bertetangga dengan non Muslim. Ini sudah sepatutnya menjadi tanda bahaya bagi semua warga Negara di Indonesia.
"Walaupun jujur, saya sebenarnya suka bertanya sendiri dengan hasil survey tersebut, karena di tempat tinggal saya di Jakarta Utara kehidupan bertetengga kami selama ini baik-baik saja. Dimana di tempat tinggal saya, saya dan keluarga adalah satu-satunya penduduk yang beragama Hindu," jelasnya.
Katanya, berangkat dari pengamatan dan hasil survey yang ada dalam berbagai kegiatan Ketut senantiasa mengajak agar para penduduk Indonesia lebih lebih bersatu dalam merawat bangsa. Meskipun dalam membangun peradaban tertentu membutuhkan proses yang panjang dan harus senantiasa dijaga sekaligus dirawat. "Saya selalu mengatakan dan bertanya 'apakah RI akan merayakan ulang tahun yang ke 100?'. Dalam hati sebenarnya saya selalu menghibur diri, ya mungkin Indonesia 40-60 tahun mendatang Indonesia baru bisa benar-benar berubah. Tapi intinya kita harus punya keyakinan terlebih dahulu," paparnya.
Terkait perkembangan ormas yang berbau radikal, Ketut menjelaskan semua ormas yang tidak sesuai dengan Pancasila harus ditertibkan. Walaupun sebenarnya dirinya terkadang merasa aneh karena ia sering duduk bersama dengan para pimpinan agama yang konon disebut radikal oleh masyarakat. Dimana dalam pertemuan tersebut ia melihat tidak ada persoalan meskipun dirinya juga tidak tahu apakah urusan hubungan personal dan lembaga menjadi sesuatu yang berbeda atau tidak.
"Harus diakui sampai sekarang kelemahan kita penegakan hukum. Perangkat sudah ada tapi SDM-nya yang masih harus dibenahi," katanya.
Lanjutnya, sudah saatnya semua elemen di bangsa terbuka termasuk para pemuka agama. Jangan sampai hubungan yang ada selama ini ada hanya baik ketika di atas meja makan namun pada prakteknya, nol besar. "Sebenarnya kita tidak tahu ada agenda apa saja yang dibawa para pemimpin umat ini. Tapi setidaknya jangan sampai kepentingan dari berbagai pemimpin agama ini sampai menimbulkan sebuah situasi yang tidak harmonis diantara pemeluk agama," jelas Ketut.
Ketut berpesan bahwa keberagaman yang ada di Indonesia merupakan anugerah dari yang maha kuasa. "Mau tidak mau kita harus menerima perbedaan dan menghargai serta menghormatinya. Misalnya saya memilih Hindu, itu adalah pilihan saya dan orang lain harus menghormatiya. Harus diakui kita sendiri sering ambigu. Kita menyebut Tuhan berkuasa tapi kekuasaan Tuhan kita ingkari. Karena kalau Tuhan mau dunia ini hanya ada satu agama, besok Dia bisa langsung jadikan hal tersebut," katanya.
Wawancara oleh: Nuel Wicaksono
Source: Mitra Indonesia, Edisi 109 Tahun XII 2017