
Jakarta - Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi menggelar seminar dan lokakarya (SEMILOKA) Peningkatan Peran Pemuka Agama dalam Menghadapi Perupahan Iklim, pada Kamis, 15 Desember 2016, di Grand Ball Room, Hotel Atlet Century, Senayan. Kegiatan dibuka langsung oleh Ketua Dewan Pengarah Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi, Prof. Dr. Din Syamsuddin.
Seminar ini meruapakan program Peningkatan Peran Pemuka Agama dalam Menghadapi Perubahan Iklim. Krisis Lingkungan Hidup dengan berbagai manifestasinya seperti perubahan iklim dan pemanasan global sejatinya adalah krisis moral, karena manusia memandang alam sebagai obyek bukan subyek dalam kehidupan semesta. Maka, penanggulangan terhadap masalah yang ada (environmental and climate solution) haruslah dengan pendekatan moral. Pada titik inilah agama harus tampil berperan melalui kolaborasi lintas agama, dan itu perlu dimulai dari Rumah Ibadah masing-masing.
Keberhasilan menciptakan Rumah Ibadah yang ramah adalah penjelmaan dari hati bersih dan pikiran jernih umat beragama. Langkah ini pendekatan moral untuk pembangunan berkelanjutan dengan makna. Di sini peran agama sangat penting untuk dapat menyampaikan kepada umatnya baik secara lisan keagamaan maupun aksi langsung oleh para pemuka agama melalui rumah ibadahnya masing-masing.
Perubahan iklim menumbuhkan rasa kekeluargaan global serta pendalaman spiritual. Setiap tindakan untuk melindungi dan menjaga semua makhluk menghubungkan kita satu sama lain, memperdalam dimensi spiritual dari kehidupan kita serta hakikat hubungan manusia dengan bumi. Bumi bukan sumber daya untuk dieksploitasi sekehendak manusia. Manusia berkewajiban menjaga dan memakmurkan bumi dengan segala isinya. Umat manusia harus bersatu dengan harapan bersama yang timbul dari kepercayaan kita masing-masing, untuk merawat bumi dan semua kehidupan. Masalah kemanusaiaan ini telah di respons oleh seluruh umat beragama dunia melalui pernyataan baik tiap agama maupun pernyataan bersama lintas agama.
Fenomena alam global akibat perubahan iklim tidak hanya menjadi keprihatinan para ilmuwan dan pecinta lingkungan, tapi meningkat menjadi menjadi isu sentral dalam pembuatan kebijakan global oleh pemimpin negara dan pemimpin agama. Pada Pertemuan Negara Pihak UNFCCC (United Nation Framework on Climate Change) di Paris (COP 21) pada tahun 2015, 197 negara menandatangani perjanjian, dimana 100 negara telah meratifikasinya pada COP 22 tahun 2016 di Marrakesh.
Indonesia telah meratifikasi Persetujuan Paris ini sehingga bersifat mengikat secara hukum dan diterapkan semua negara. Oleh karenanya seluruh pemangku kepentingan perlu bekerjasama dalam memenuhi komitmen kemanusiaan ini.
Selain Prof. Dr. Din Syamsuddin, hadir juga Ketua Dewan Pertimbangan Perubahan Iklim Ir. Sarwono Kusumaatmadja, Ketua Dewan Penggerak Indonesia Bergerak selamatkan Bumi Dr. Hayu Prabowo. Selain itu hadir pula Majelis Agama yaitu Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat yang diwalikili oleh Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (Ir. Dharmasilan) dan Ketua Bidang Ideologi dan Kesatuan Bangsa (Drs. Nyoman Udayana Sangging, SH., MM); Majelis Ulama Indonesia (MUI); Nahdlatul Ulama (NU); Muhammadiyah; Konferensi Waligereja Indonesia (KWI); Persekutuan Gereja Indonesia (PGI); Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi); dan Majelis Tinggi Agama Konghucu (Matakin).
Source: admin