Unhi Gelar Bedah Buku "Mengenalkan Hindu, sebagai Satu Budaya, Sikap dan Perilaku"

Denpasar - Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar melakukan kegiatan bedah buku karya I Gde Samba berjudul "Mengenalkan Hindu, sebagai Satu Budaya, Sikap dan Perilaku (A Way Of Life)" di kampus setempat, Selasa 9 (8) kemarin. Kegiatan ini dibuka Rektor Unhi Dr. IB Dharmika, M.A., dihadiri para dekan, wakil dekan dan dosen. Buku tersebut dibedah dosen FPAS Unhi Drs. Gusti Ketut Widana, M.Si., dipandu dosen FIAK Unhi Drs. Putu Suarjana, M.Si.

Rektor Unhi IB Dharmika didampingi Humas Unhi Ida Bagus Samba menyapaikan, kegiatan ini merupakan implementasi dari tri dharma perguruan tinggi. Kegiatan seperti ini akan terus digiatkan ke depan. Dengan demikian diharapkan atmosfer akademik makin mantap. Melalui acara bedah buku ini diharapkan dapat meningkatkan budaya baca tulis insan akademis. "Kegiatan ini juga serangkaian diesnatalis Unhi yang puncaknya Oktober mendatang, salah satunya bedah buku, selain kegiatan Bali Sani, seminar, pengabdian pada masyarakat, penelitian dan sebagainya," ujarnya.

Selain buku I Gde Samba, sejumlah buku terbitan Pascasarjana Unhi maupun terbitan Unhi akan dibedah. Termasuk buku karangan IB Suamba yang diterbitkan di India. "Jadi, menjadi kewajiban bagi kami untuk mendorong atau merangsang para dosen untuk aktif dalam kegiatan tri dharma perguruan tinggi, meneliti, menulis buku, diskusi, seminar, bedah buku dan sebagainya," ujar IB Dharmika yang menilai buku yang dibedah kemarin sangat menarik, karena menyangkut pengenalan Hindu sebagai satu budaya, sikap, dan perilaku hidup.

Penulis buku I Gde Samba menyampaikan terima kasih setinggi-tingginya kepada Unhi atas terselenggaranya acara bedah buku tersebut. Buku ini merupakan edisi khusus yang dikembangkan dari buku yang ditulis sebelumnya, yaitu "Pencarian ke Dalam Diri, Merajut Ulang Budaya Luhur Bangsa" (2011). Melalui buku keempatnya ini, pendiri Yayasan Fisioterapi Bandung dengan Klinik Fisioterapi ini mencoba mengenalkan Hindu seperti pada masa awal kelahirannya, sebagai sebuah budaya keseluruhan sikap dan perilaku kehidupan keseharian. Melalui pemahaman Hindu sebagai sebuah budaya seperti itu, ke depan dia berharap umat Hindu Indonesia akan mampu membangun satu kesatuan dan keseluruhan sikap perilaku hidup keseharian yang baik, walau tanpa harus meninggalkan ritual-ritual agama yang penuh dengan rasa seni dan keindahan.

Karena kita juga mengetahui bahkan tak jarang melalui ritual agama seperti itu spirit dan nilai-nilai luhur yang ada dalam agama lebih mudah diperkenalkan. Hanya pada setiap ritual agama sepeti itu mesti disertai dengan penjelasan seperlunya. Jangan sampai ritual agama dilakukan, pemahaman dan pesan spirit dan moralnya tak tersampaikan. Pembedah buku Gusti Ketut Widana memberi apresiasi kepada I Gde Samba, di usianya yang sudah 74 tahun masih memiliki semangat tinggi untu menulis buku. Widana menyampaikan, budaya membaca masyarakat sangat rendah. Widana yang juga penulis banyak buku ini mengevaluasi buku Samba setebal 242 halaman tersebut. Misalnya, menyangkut judulnya yang dinilai terlalu panjang. Termasuk sejumlah koreksi terhadap isi.

Sementara itu, I Gde Samba dilahirkan di Dusun Beng, Desa Tunjuk, Tabanan, 31 Maret 1942. Ia merupakan pensiunan pegawai negeri di RS Hasan Sadikin Bandung. Pernah menjabat sebagai Ketua Parisada Provinsi Jawa Barat (1992-1997).

Source: Kora Bali Post, Rabu Paing, 10 Agustus 2016