HAUL GUS DUR, Agar Kita Merawat Kemajemukan

 

Jakarta - Untuk melihat kebesaran seseorang, lihatlah ketika ia meninggal. Ungkapan itu tidak keliru jika ditujukan kepada sosok presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang telah tujuh tahun tiada, tetapi pesan dan kiprahnya terus menjadi lentera yang tidak pernah padam bagi semangat kebangsaan dan persaudaraan bangsa ini.

Ribuan orang yang memadati halaman rumah Gus Dur di Waning Sila 10, Ciganjur, dalam haul ketujuh, Jumat (23/12) malam, menjadi bukti besarnya magnet Gus Dur. Bus dan mobil dari sejumlah daerah berjajar di sepanjang jalan menuju rumahnya yang juga menjadi satu dengan kompleks Pesantren Al Munawaroh.

Santri duduk bersila berjam-jam menanti acara mengaji bersama dan tahlil untuk memperingati tujuh tahun berpulangnya Gus Dur. "Saya tadi datang sejak pukul 14.00. Datang karena ingin ber-doa bersama, mendoakan beliau. Setiap tahun saya datang ke sini mengikuti haul," kata Nurrohman (28), warga Jakarta Barat, yang datang bersama temannya, Nursalim (30).

Nurrohman yang sehari-harinya berwiraswasta ini merindukan sosok Gus Dur yang selalu menebarkan damai dan persaudaraan. Teladan budiman itulah yang selama ini dirasakannya kian tergerus dalam pergaulan antarwarga masyarakat di Tanah Air. "Beliau itu orangnya damai, tidak suka perpecahan, humoris, dan dekat dengan semua orang. Kok sepertinya tokoh yang seperti itu jadi jarang sekarang," ungkapnya.

Tidak hanya dicintai santri dan umat Islam dari kalangan kebanyakan, Gus Dur lebih-lebih lagi dikagumi dan dikasihi oleh sahabat dan tokoh dari berbagai kalangan, mulai dari agamawan, negarawan, politisi, dan pejuang hak asasi manusia.

Tidak kurang dari Presiden Joko Widodo menghadiri haulnya. Datang mengenakan jas hitam yang dipadu dengan sarung putih, Presiden duduk di panggung dan ikut bertahlil.

Tokoh nasional lainnya juga hadir, antara lain wakil presiden ke-11 RI, Boediono; Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin; Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa; Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo; Kepala Polri Jenderal (Pol) Tito Karnavian; dan tiga calon Gubernur DKI Jakarta, Agus Harimurti Yudhoyono, Basuki Tjahaja Purnama, dan Anies Baswedan. Dari kalangan agamawan hadir, antara lain, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siroj, Ketua KWI Ignatius Suharyo, pendeta SAE Nababan yang mewakili umat Kristen, Banthe Suryanadi Mahatera dari Buddha, Yanto Jaya dari Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI), serta kelompok penghayat kepercayaan.

Menjunjung konstitusi
Sosok Gus Dur yang selalu menjunjung konstitusi negara dan menjaga kemajemukan Indonesia inilah yang dirindukan, antara lain, oleh Presiden Joko Widodo. "Saya percaya, Gus Dur pasti gemas, geregetan, kalau melihat ada kelompok atau orang-orang yang meremehkan konstitusi, yang mengabaikan kemajemukan kita, yang memaksakan kehendak dengan aksi-aksi kekerasan, radikalisme, terorisme," ujar Presiden.

Gus Dur terus menjadi lentera bagi bangsa Indonesia karena, menurut Presiden Jokowi, selama hidupnya selalu mengingatkan bahwa Negara Republik Indonesia adalah milik bersama, bukan milik golongan apalagi perseorangan.

Bagi Presiden Jokowi, Gus Dur juga memberinya inspirasi dalam mengelola negara ini. "Menurut saya, Gus Dur itu selalu optimistis dalam memandang Indonesia ke depan. Tidak kagetan, tidak gumunan. Dan ketika mengambil keputusan yang rumit, saya suka teringat kata-kata beliau. 'Gitu saja kok repot!' Tadi saya dibisiki putri Beliau, Mbak Yenny Wahid, inspirasi dari ucapan itu adalah sebuah kaidah fikih, yassiru wala tuassirru, permudahlah dan jangan dipersulit," kata Jokowi.

Bagi banyak anak muda di NU, Gus Dur juga menjadi panutan meski langkahnya kadang dipandang melawan arus pada zamannya. "Gus Dur itu orang yang kebal. Sekalipun dia banyak ditentang, tetapi hal itu tidak menyurutkan langkahnya. Dia maju terus. Dia menginisiasi diskusi lintas iman dan menjalin persaudaraan dengan semua umat tanpa kecuali, serta membela kelompok yang terpinggirkan. Di kala hal itu masih jarang dilakukan, Gus Dur telah men-jalankannya," kata tokoh muda NU, Nusron Wahid.

Keberanian dan terobosan Gus Dur yang meniadakan sekat-sekat antarmanusia itu mencengangkan karena tindakan yang kukuh semacam itu sukar ditiru. "Saya berupaya meniru apa yang dilakukan Gus Dur, tetapi rupanya saya tidak sekebal beliau," kata Nusron.

Menjaga persaudaraan
Fenomena intoleransi yang menguat belakangan ini pun menemukan antitesisnya ketika kalangan umat beragama lintas iman berkumpul bersama di haul Gus Dur. Kata-kata kasar, hujatan, kemarahan, dan kebencian menguap. Lantunan shalawat badar, puji-pujian kepada Nabi, dan doa kedamaian mengemuka dari setiap individu yang hadir di dalam haul semalam.Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Romo Aloysius Budi Purnomo, misalnya, hampir tidak memperoleh tiket pesawat dari Semarang untuk ke Jakarta. Namun, rasa persaudaraannya dengan Gus Dur mengantar ia datang. "Saya merasa bersaudara dengan Gus Dur dan saya merasa ia juga menganggap saya saudaranya Semoga Tuhan yang kita abdi, Tuhan umat beragama, memberikan kekuatan kepada kita semua untuk menjaga persaudaraan," ungkapnya.

Alissa Wahid, putri sulung Gus Dur, mengatakan, haul kali ini lebih bermakna karena berdekatan dengan Maulid Nabi Muhamad SAW. "Gus Dur secara konsisten ingin melaksanakan yang diajarkan Nabi Muhammad, yakni Islam sebagai rahmatan lil alamin, rahmat bagi semesta alam," ujarnya.

Alissa mengatakan, kedamai¬an bagi Gus Dur bukan hanya di permukaan. Ia lahir dari rasa tulus dan pengertian. Persaudaraan adalah watak dan misinya. Oleh karena itu, mengenang Gus Dur adalah merawat kemajemukan dan kemanusiaan. Tidak ada obat penawar lain bagi bangsa yang majemuk kecuali terus-menerus mengelola dan merawat kemajemukan sehingga menghasilkan hidup yang penuh kerukunan, toleransi, dan penghargaan terhadap kemanusiaan.

Source: kompas.com