
Denpasar - Naskah lontar Kakawin Nagarakretagama karya Prapanca ditemukan oleh JLA Brandes dalam sebuah ekspedisi di Mataram, Lombok pada 1894. Naskah penting ini selanjutnya disimpan di negeri Belanda dan menjadi naskah satu-satunya tentang kejayaan Majapahit. Naskah berbentuk lontar ini menarik perhatian para peneliti sejak diterbitkan oleh Brandes pada 1902, karena dianggap sebagai sumber sejarah Majapahit yang ditulis oleh orang yang hidup pada masa itu dan menyertai Raja Hayam Wuruk keliling negeri.
Prapanca sendiri yang selesai menulis karya ini pada 30 September 1365, menyebutnya sebagai Kekawin Desa Warnana (uraian tentang desa-desa). Naskah ini kini disimpan di Museum Nasional Jakarta, setelah dikembalikan oleh Ratu Juliana, penguasa Belanda, kepada bangsa Indonesia tahun 1971. Demikian IBG Agastia mengawali Seminar Nasional 650 Tahun Nagarakretagama, di Kampus Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar, 20 September lalu.
Sementara itu, Prof. Dr. Agus Aris Munandar dari Universitas Indonesia menjelaskan bahwa Nagarakretagama menjadi sumber pengetahuan kita tentang berbagai candi di Jawa. Kita banyak dibantu oleh Prapanca memahami adanya sejumlah candi dan padharman yang sebelumnya tidak banyak diketahui sejarah berdirinya. Kehadiran Candi Penataran di Blitar, salah satu candi terbesar di Jawa Timur, adalah contohnya. Dalam Nagarakretagama terdapat penyebutan wilayah di luar Jawa yang mengakui kejayaan Majapahit. Wilayah dimaksud antara lain terdapat di Sumatera, Semenanjung Malayu, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, sampai ke Papua. Sementara negara-negara sahabat Majapahit adalah Siam, Thailand, Ligor, Marutma, Singhanegari, Champa, Kamboja, Vietnam. Sementara negara besar yang mengadakan hubungan dengan Majapahit adalah Tiongkok.
Pemakalah lain yang tampil Dr. Wanny Rahardjo Wahyudi dari Universitas Indonesia Jakarta. Peneliti ini lebih banyak menyorot situs Trowulan sebagai ibu kota Majapahit. Ia menyatakan bahwa situs Trowulan merupakan satu-satunya contoh kota masa Hindu-Buddha di Indonesia, ditandai dengan masih tersisanya berbagai bangunan candi, kolam raksasa, runtuhan keraton dan bangunan-bangunan lain yang tersebar di setiap jengkal tanahnya. Gambaran tentang kota Majapahit di dalam Nagarakretagama tampak lebih nyata di situs Trowulan. Di situs tersebut terlihat besaran dan kejayaan kerajaan Majapahit. Adanya kolam Segaran yang begitu luas di situs Trowulan menandakan bahwa Majapahit adalah kota maritim, kota yang berhubungan langsung dengan Sungai Berantas dan laut bebas.
Seminar nasional ini dibuka oleh Rektor Unhi Dr. I.B. Dharmika, M.A. yang pada intinya meminta penelitian tentang Majapahit hendaknya dilakukan secara kontinu dan sungguh-sungguh. Penelitian tentang kerajaan maritim Majapahit akan memberikan wawasan yang lebih jelas tentang kenusantaraan kita yang kita tegaskan kembali sebagai negara maritim.
Prof. Dr. IGM Sutjaja, M.A., peserta seminar, meminta hendaknya ada mendigitalisasi naskah tunggal ini, sehingga bisa dipelajari secara luas. Sementara itu, Prof. Dr. Sedana dari ISI Denpasar sangat mengharapkan adanya dukungan pemerintah terhadap berbagai kegiatan penelitian lontar terpilih, seperti Nagarakretagama ini. "Kita menyimpan banyak ilmu pengetahuan di dalam naskah-naskah tersebut yang perlu diaktualisasikan kepada generasi sekarang dan masa datang", katanya.
Drs. I Wayan Westa, seorang wartawan budaya, mengingatkan kita semua betapa utang kita kepada dua orang pujangga Majapahit yaitu Prapanca penulis Nagarakretagama yang memuat sejarah kebesaran bangsa di masa lalu, dan Mpu Tantular yang menulis Suta-soma menyumbangkan motto bangsa "Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila". Seminar nasional ini dipandu oleh I Dewa Gede Windhu Sancaya dari Universitas Udayana.
Source: Koran Bali Post Rabu Wage, 7 Oktober 2015