
Jakarta - Sejumlah organisasi keagamaan dan organisasi pencinta lingkungan mendeklarasikan Indonesia Bergerak Menyelamatkan Bumi (Siaga Bumi), Senin (21/9), di Taman Perdamaian, Kompleks MPR/DPR/DPD, Jakarta. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka merayakan Hari Perdamaian Dunia yang diperingati setiap 21 September.
Musuh perdamaian di era sekarang tak lagi semata terbatas pada perang, tetapi bisa berupa wujud lain, misalnya kemiskinan, kesenjangan, diskriminasi, dan perusakan lingkungan hidup. Ketua Tim Pengarah Siaga Bumi yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia, Din Syamsuddin, berharap kegiatan seperti ini bisa mendorong kita untuk terus-menerus berjuang menciptakan perdamaian di bumi.
"Lawan perdamaian yang dihadapi saat ini bukan lagi perang, melainkan ketiadaan kedamaian yang terwujud dalam kemiskinan, kebodohan, kesenjangan, diskriminasi, dan kerusakan lingkungan hidup," ujar mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ini.
Dalam kegiatan tersebut, hadir sejumlah tokoh keagamaan yang mewakili setiap organisasi agama, di antaranya Majelis Ulama Indonesia (MUI), Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Persatuan Gereja Indonesia (PGI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi). Hadir juga Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah.
Organisasi pencinta lingkungan yang turut berpartisipasi adalah WWF Indonesia dan Centre for Dialogue and Cooperation Among Civilisations (CDCC), serta beberapa perguruan tinggi, seperti Institut Pertanian Bogor dan Universitas Magelang. Dalam acara itu, setiap perwakilan ormas memberikan orasi perdamaian.
Menurut Din, Siaga Bencana telah menyusun sejumlah program penyelamatan lingkungan hidup, antara lain eko-tempat ibadah dan eko-lingkungan pendidikan. "Program ini dilaksanakan dengan menanam setidaknya satu pohon di tempat-tempat ibadah, seperti masjid, gereja, pura, kelenteng, serta menanam pohon di sekolah dan perguruan tinggi," ujarnya.
Saat ini, sebagian program tersebut sudah mulai berjalan. Ia berharap, penyadaran ke masyarakat lewat jalur keagamaan dan budaya akan lebih memengaruhi masyarakat sehingga gerakan menyelamatkan bumi tersebut benar-benar terwujud.
Kegiatan itu turut didukung oleh pemerintah, khususnya Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Menteri KLHK Siti Nurbaya Bakar yang juga hadir dalam acara ini mengatakan, visi pemerintah dalam pelaksanaan program pembangunan berkelanjutan (SDGs) yang akan disepakati akhir September 2015 adalah menjaga sumber daya alam yang ada saat ini agar generasi berikutnya juga dapat menikmati sumber daya alam tersebut seperti sekarang.
"Permasalahan yang dihadapi pemerintah adalah membentuk tata kelola lahan dan hutan yang baik. Sebab, dalam setiap lanskap, terdapat ruh spiritual yang harus diperhatikan. Ruh tersebut menyatu dan hadir sebagai sebuah jiwa yang harus dilestarikan," kata Siti Nurbaya.
Sejauh ini, KLHK turut mendukung program eko-tempat ibadah dan eko-lingkungan pendidikan yang bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penerapan penanaman pohon juga mulai diterapkan terhadap pasangan akan menikah.
Sumber: kompas.com