Pesamuhan Madya PHDI Provinsi Bali

Denpasar - Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali menyelenggarakan Pesamuhan Madya dalam rangka mempersipkan Lokasabha Tahun 2017. Pesamuhan Madya merupakan rapat kerja daerah. Pesamuhan Madya PHDI Provinsi Bali dilaksanakan di Gedung PHDI Provinsi Bali, Jalan Ratna No.71, Br. Tatasan Kaja, Kel. Tonja, Denpasar Utara, Sabtu (24/12/2016).

Dalam laporannya, Ketua Panitia I Made Raka Suwarna, SH, MH, mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya Pesamuan Madya ini untuk mempersiapkan pelaksanaan Lokasabha PHDI Prov Bali pada tahun 2017 yang akan datang, baik yang terkait waktu pelaksanaan maupun materi Lokasabha.

Ketua Pengurus Harian PHDI Provinsi Bali, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si, menyampaikan bahwa, selain terkait dengan tata laksana organisasi yang baik, masyarakat masih banyak yang sering menanyakan hal-hal terkait dengan pelaksanaan yadnya/ritual maupun hal-hal yang terkait sosial kemasyarakatan.

"Pada Pesamuan Madya ini diundang beberapa pemateri. Untuk yang terkait dengan organisasi ke-Parisada-an akan ada sosialisasi/pemaparan hasil-hasil Mahasabha XI PHDI, untuk yadnya/ritual akan ada pemaparan tentang Makna Filosofis Topeng Sidakarya dan Makna Filosofis Sad Kertih (perlindungan kesucian pantai untuk melasti, nelayan tradisional, dan lain-lain), dan untuk sosial kemasyarakatan akan ada pemaparan materi tentang Manak Salah, Ulah Pati dan Salah Pati" ujarnya.

Dalam sesi pemaparan materi terkait dengan Hasil-Hasil Mahasabha XI PHDI, para peserta menyoroti hal-hal yang terkait dengan mekanisne penyusunan pengurus PHDI daerah, masalah rangkap jabatan, dan pembatasan waktu untuk masa jabatan, serta saran untuk secepatnya penerbitkan dan menyebarluaskan hasil-hasil Mahasabha XI ke pihak-pihak yang berkepentingan.

Sementara itu, terkait dengan makna filosofis Topeng Sidakarya, setelah terjadi diskusi terkait dengan nama, waktu pementasan, dan pakem Topeng Sidakarya, akhirnya disepakati bahwa perlu ada pedoman yang jelas terkait hal ini. Rekomandasinya, untuk nama disarankan Topeng Pajegan Sidakarya, sedangkan untuk waktu pementasan dan pakemnya agar menyesuaikan dengan kearifan lokal.

Dalam diskusi terkait makna filosofis Sad Kertih (perlindungan kesucian pantai untuk melasti, nelayan tradisional, dan lain-lain), kesucian dan kelestarian pantai mendapat perhatian yang serius, kerena menyangkut kahidupan nelayan dan juga Upacara Melasti.

Untuk materi Manak Salah, Ulah Pati dan Salah Pati. Para peserta menyampaikan pendapatnya dan sepakat bahwa peraturan yang menghapus adat “Manak Salah” atau “Buncing” agar lebih disosialisasikan lagi. Sedangkan untuk Ulah Pati dan Salah Pati, ditegaskan bahwa setiap orang (Hindu) meninggal harus diupacarai sesuai dengan ajaran sastra agama Hindu, khusus bagi yang Ulah Pati atau Salah Pati, upakara/upacara ditambah dengan pengulapan di tempat kejadian, perempatan/pertigaan, atau di Gerbang Setra.

Dalam Pesamuhan Madya tersebut disepakati bahwa Lokasabha PHDI Provinsi Bali akan dilaksanakan pada 13 April 2017, dengan kepanitiaan terdiri dari unsur Paruman Pandita, unsur Paruman Walaka, unsur Pengurus Harian PHDI Provinsi Bali dan melibatkan tokoh umat/masyarakat yang berkompeten.

Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PH PHDI) Pusat yang hadir yaitu, Ketua Bidang Organisasi I Wayan Suyasa.

Berikut foto-foto kegiatan Pesamuhan Madya PHDI Provinsi Bali:


Oleh: admin