
(Foto: Dubes R.I. untuk Dili foto bersama di depan Padmasana yg telah dipralina)
Dili - Pura terbesar di Timor-Leste peninggalan Pemerintah Indonesia ini yang terletak di puncak bukit Taibesi, Dili, pertama kali diresmikan (ngenteg linggih) pada Sabtu Kliwon Wuku Krulut atau Tumpek Krulut Tahun 1984, merupakan saksi sejarah kehadiran Indonesia di wilayah ini. Pura ini juga ikut menjadi sasaran amuk massa pada kerusuhan pasca jejak pendapat tahun 1999 dan kembali mengalami pengerusakan tahun 2006 ketika terjadi perang saudara (pemberontakan Mayor Alfredo) di negara baru teresebut. Tetapi Ida Sang Hyang Widi Wasa rupanya tetap melindungi pura ini, berkat kegigihan seorang mantan staf Batalyon TNI yang bernama Pak Thomas (56 tahun) meskipun ia bukan WNI yang tinggal di dekat Pura, berjibaku menghalau para perusuh dan terus menjaga pura dengan memasang gembok di gapura candi bentar, sehingga Pura pun berhasil diselamatkan. Menurut Pak Thomas yang pasih berbahasa Indonesia, Presiden pertama Negara tersebut pernah berencana membongkatr Pura untuk dijadikan Istana Presiden, Pak Thomas lah yang mengingatkan beliau bahwa kedudukan Pura sebagai tempat suci sama dengan Gereja yang harus dihormati, tidak beberapa lam kemudian Presiden meninggal dan Pura tetap berdiri.
Ketika penulis pertama kali tiba di Timor-Leste untuk bertugas di KBRI Dili pada bulan Februari 2013, kebetulan hari suci Purnama, penulis bersama istri dan anak tangkil ke Pura ini disambut dan dijaga selama sembahyang oleh Pak Thomas, seorang yang benar-benar tulus menjaga Pura ini, meskipun ia tetap beragama Katolik. Ketika itu Pura dalam keadaan tidak terurus, sisa-sisa kerusuhan nampak jelas, wantilan hanya tinggal lantai dan tiangnya, piyasan rusak tidak ada balainya, pelinggih Anglurah dan Padmasana juga rusak, begitu juga candi Agung pintu-pintunya tidak ada, candi bentar bagian atasnya patah.
Setelah mendirikan Banjar SDHD Giri Natha Dili, meskipun warganya tidak sampai 40 orang, secara perlahan dilakukan perbaikan secara swadaya. Wantilan bisa berdiri kembali, piyasan dan Kori Agung diperbaiki sehingga Pura layak digunakan untuk sembahyang. Setiap hari-hari suci Penulis memimpin umat sembahyang, pemedekpun semakin berkembang, tidak hanya WNI yang tinggal di Timor-Leste, tetapi juga ekspatriat yang beragama Hindu dari Nepal, India, Australia bahkan termasuk warga Timor-Leste. Keinginan umat agar Pura bisa direnovasipun semakin kuat. Sebagai pejabat home staf di KBRI Dili, penulis mendesak agar status Pura dimasukkan secara resmi sebagai peninggalan masa lalu, sama dengan TMP Seroja Dili. Melalui pertemun alumni Komisi Kebenaran dan Persahabatan RI-RDTL Tahun 2014, akhirnya Pura Giri Natha berhasil dimasukkan secara resmi sebagai Warisan untuk dimanfaatkan dan dirawat bersama (Pemerintah Indonesia dan Timor-Leste).
Kerjasama kedua negara semakin erat, baik pada masa pemerintahan Presiden keenam Susilo Bambang Yudoyono yang 2 kali berkunjung ke Timor-Leste, maupun setelah naiknya Presiden Joko Widodo, termasuk kerjasama di bidang pendidikan. Semasa penulis di Timor-Leste (2013-2016) sudah 2 kali Rektor Unud dan civitas academica termasuk ikatan alumninya (Ikayana) berkunjung ke negara ini dan tangkil ke Pura Giri Natha. Kunjungan diikuti dengan penyusunan rencana renovasi Pura Giri Natha yang dimotori oleh Ir. Putu Ari Sanjaya, M.T. salah seorang pengajar di Fakultas Teknik Unud dan menjadi konsultan Kementerian PU Timor-Leste. Agar usulan diterima Pemerintah Timor-Leste, penulis menyarankan agar Pura nantinya tidak hanya sebagai tempat ibadah umat Hindu, tetapi juga sebagai obyek wisata spiritual dan pengembangan seni dan budaya kedua negara.
Pura akan menambah daya tarik wisata negara ini sehingga bisa menambah devisa. Konsep ini disetujui oleh Tim dari Unud sehingga Pura akan dilengkapi dengan wantilan yang besar serta panggung terbuka termasuk rumah untuk menginap bagi Umat dari Indonesia yang metirta yatra. Areal pura yang sisi luarnya diduduki warga akan dikembalikan sebagai areal pura Kanista Mandala. Diproyeksikan Pura ini akan menjadi Pura terbesar kedua di luar Indonesia setelah Belgia. Setelah gambar lengkap selesai dibuat, menjelang akhir tahun 2016, usulan renovasi Pura resmi diajukan oleh Unud bersama Ikayana Bali bekerjasama dengan Ikayana Timor-Leste dan Banjar SDHD Giri Natha Dili. Kebetuln Perdana Mentri Timor-Leste saat itu dr Rui Maria de Araujo alumni Fak Kedokteran Unud dan bebeerapa orang Menteri, anggota Parlemen dan Pejabat setingkat Dirjen. Setelah melalui pembahasan di tingkat Parlemen yang juga didukung oleh pendiri negara tersebut Mr. Xanana Gusmao, akhirnya renovasi Pura Giri Natha disetujui yang sepenuhnya dibiayai oleh Pemerintah Timor-Leste, diperkirakan sekitar US $ 1,1 juta.
Pada hari Jumat tanggal 19 Januari 2018 pagi dilakukan acara Ngeruwak, mulang dasar (peletakan batu pertama) renovasi Pura Giri Natha, Dili. Hadir Purek V Unud, Tim Teknis, pinandita, sarati banten dan sejumlah umat dari Bali, didampingi Jero Pemangku Pura Giri Natha Bapak Ketut Budiadnya dan warga Banjar SDHD Giri Natha Dili. Acara dihadiri mantan Perdana Mentri dr. Rui Maria de Araujo yang sekarang menjabat menteri Kesehatan, Menteri Pariwisata Timor-Leste Mr. Emanuel Pong, Pengusaha Timor-Leste Mr. Joaqim sejumlah anggota Parlemen, Dubes RI Dili, Bapak Sahat Sitorus bersama sejumlah home staf. Sebelumnya telah dilakukan memindahkan (ngelinggihin) Ida Betara dari Padmasana, Anglurah, dan pelinggih lainnya ke Piyasan. Acara Ngeruwak berjalan lancar, hidmat dan penuh suasana suka cita.
Dubes RI Dili, Bapak Sahat Sitorus dalam sambutannya antara lain menyampaikan penghargaan dan terimakasih kepada Pemerintah Timor-Leste yang telah mengijinkan dan menyediakan dana renovasi/revitalisasi Pura Giri Natha ini, juga penghargaan kepada Panitia serta Tim dari Unud. Sambutan Pemerintah Timor-Leste mengatakan sangat senang dengan revitalisasi Pura Giri Natha ini selain tempat beribadah juga akan menambah obyek wisata, sehingga ikut membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Panitia merencanakan akhir tahun 2018 Pura akan seleai dibangun dilanjutkan Upakara Melaspas agung dan ngenteg linggih. Semoga berjalan lancar atas anugerah Ida Sanghyang Widi Wasa.

(Foto: Menteri Kesehatan RDTL dr. Rui Maria de Araujo (ketiga dari kiri) berbincang dengan pinandita dan Ketua Panitia Ir. Ari Sanjaya (pertama dari kanan)
Laporan: Ketua PHDI Kabupaten Bekasi, Drs. I Made Pande Cakra, M.SI
Pembina, Sesepuh dan Pendiri Banjar SDHD Giri Natha Dili