
(Sandung merupakan tempat menyimpan tulang belulang leluhur suku Dayak. Pada kepercayaan Kaharingan, sandung merupakan media roh para leluhur untuk ke surga. Sandung yang berumur sekitar 154 tahun tersebut masih bertahan di tengah kehidupan suku Dayak yang semakin modern)
Bukit Rawi - Gagang sapu dipegang Robert Nego (65) kuat-kuat saat membersihkan lantai rumah makam yang dipagari besi. Rumah makam itu berupa tiga rumah kecil dengan berbagai ukuran, yang disebut sandung. Sandung adalah rumah kecil yang dibuat dari kayu ulin atau kayu baja, tempat suku Dayak menyimpan tulang para leluhur.
Selama sekitar 30 menit pada Selasa (1/3) siang, Robert, juru pelihara sandung, menyapu lantai di sekitar tiga sandung yang diberi nama Tamanggung Suradjaja Pati Lawak. Lokasi sandung di Bukit Rawi, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Selasa (1/3).
Ketiga sandung berdiri sejajar dengan ukuran berbeda. Sandung paling besar berukuran sekitar 60 sentimeter x 60 sentimeter (cm), sandung kedua berukuran setengah dari yang pertama, sedangkan sandung yang paling kecil berukuran sekitar 15 cm x 15 cm.
Dinding sandung penuh dengan ukiran corak Dayak. Di tiap sandung terdapat dua patung kecil berbentuk manusia, laki- laki dan perempuan. Empat tiang menyangga sandung. "Ini memang rumah, rumahnya leluhur saya. Saya adalah generasi keenam dari Tamanggung Suradjaja Pati Lawak," kata Robert.
Tiap sandung mengandung makna. Dalam kepercayaan Kaharingan, sandung merupakan tempat suci yang mengantarkan roh para pendahulu ke surga. Surga yang dimaksud adalah tempat dari mana manusia berasal atau dalam bahasa Dayak disebut Rutas Pali Belum.
Sandung paling besar merupakan sandung utama yang memuat lebih dari 50 tulang belulang keturunan Tamanggung Suradjaja Pati Lawak, salah satu panglima Dayak dari Bukit Rawi. Ia adalah salah satu tokoh perdamaian di zaman perang antarsuku di Kalimantan.
Sandung itu dibuat pada tahun 1862 (Sekilas Riwayat, Desa Bukit Rawi dan Kecamatan Kahayan Tengah, halaman 5). Di dalamnya terdapat tulang belulang Tamanggung Suradjaja Pati Lawak dan istrinya, Nyai Hintan. "Ini merupakan sandung tertua di Bukit Rawi, mungkin juga tertua di Kalimantan Tengah. Umurnya 154 tahun," kata Robert.
Memang belum ada penelitian resmi untuk membenarkan pernyataan Robert soal sandung tertua. Namun, pada awal tahun 1982, tempat itu disahkan menjadi bangunan cagar budaya oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI di Jakarta (Sekilas Riwayat, Desa Bukit Rawi dan Kecamatan Kahayan Tengah, halaman 27). "Tulang terakhir yang masuk di dalam sandung itu adalah tulang kakek buyut saya. Saya sendiri bingung, bagaimana tulang 50 orang bisa muat di rumah yang kecil itu," kata Robert.
Simbol
Ketua Majelis Hindu Kaharingan, Parada Lewis, mengatakan, sandung merupakan simbol janji pernikahan sepasang suami-istri. Seorang Kaharingan percaya bahwa tugas dan kewajibannya untuk mengabdi kepada suami atau istri bisa tuntas kalau bisa saling mengantarkan jiwa mereka dan tulang belulang ke Sandung.
"Kalau seorang lelaki mau menikah lagi, dia harus mengambil tulang istrinya dan memasukkannya ke sandung, baru bisa menikah. Jadi, ada ritualnya lagi," kata Parada.
Ia menambahkan, terdapat ritual khusus untuk memasukkan tulang ke sandung, dan ritual tersebut membutuhkan biaya besar untuk menyiapkan hewan korban, seperti sapi dan kerbau. "Ritual itu tidak mudah dan tidak murah. Dalam acara itu kita memberi makan orang satu kampung atau satu kecamatan," ujar Parada.
Karena melambangkan cinta kasih pasangan dan keluarga, sandung tidak bisa memuat tulang orang yang mati dengan cara yang tidak wajar, seperti tenggelam, tertabrak, bunuh diri, dan dibunuh. Sandung juga tidak bisa memuat tulang dari keluarga yang semasa hidupnya terus bertengkar.
"Kalau ada suami atau istri yang sering bertengkar, atau antara anak dan ibu tidak pernah akur, maka tidak bisa dimuat. Dengan sendirinya tulang itu tidak muat dimasukkan ke dalam sandung atau dia keluar dengan sendirinya," kata Parada.
Penjelasan itu membuat jelas, mengapa ada tiga sandung dalam satu garis keturunan. Satu sandung utama untuk keluarga, satu lagi untuk yang meninggal tidak wajar, dan yang terakhir untuk sanak saudara yang bermusuhan.
Ratusan tahun yang lalu, satu kampung di Kalimantan memiliki banyak sandung. Bahkan, satu rumah bisa saja memiliki satu sandung. Namun, tidak untuk saat ini. Sandung hanya dimiliki keluarga dengan kepercayaan Kaharingan.
Seiring berjalannya waktu, banyak orang berpindah agama dan tidak melaksanakan ritual- ritual adat, termasuk membuat sandung. Bahkan, Robert yang merupakan keturunan langsung Tamanggung Suradjaja Pati Lawak sudah beragama Protestan. "Terakhir yang masuk di sandung itu adalah tulang kakek buyut saya. Kakek, ayah, dan ibu saya sudah masuk Protestan, jadi dikubur saja," ucap Robert, pensiunan guru SD.
Kepercayaan Kaharingan bertransformasi menjadi Hindu Kaharingan meskipun memiliki ritual dalam beribadah, tetapi transformasi itu merupakan salah satu bentuk mempertahankan adat istiadat asli Dayak. Padahal, Hindu Kaharingan benar-benar jauh berbeda dengan Hindu lainnya. "Ini juga menjadi tantangan bagi kaum muda untuk bisa mempertahankan adat istiadat Dayak asli sampai akhir masa," kata Parada.
Source: kompas.com