"SIAGA BUMI" Rumah Ibadah Merespons Perubahan Iklim


(ilustrasi)

Jakarta - Perubahan iklim direspons lintas agama dalam gerakan Siaga Bumi yang dicanangkan pada 2015. Rumah-rumah ibadah direformasi lebih ramah lingkungan dengan cara penanaman pohon, pengolahan sampah, hingga literasi spiritual dalam khotbah.

Ketua Dewan Pengarah Siaga Bumi Din Syamsuddin mengatakan, gerakan "menyulap" masjid jadi ramah lingkungan akan diresmikan 19 Februari 2016 dengan penanaman pohon, perbaikan sanitasi dan saluran air, serta penciptaan sungai bersih. Gerakan menuju eco-masjid akan disebarluaskan ke masjid-masjid dan mushala yang berjumlah lebih dari satu juta di Indonesia.

"Kami sepakat ini masalah kemanusiaan. Langkah ini pendekatan moral untuk pembangunan berkelanjutan dengan makna. Di sini peran agama penting menyampaikan kepada umatnya," kata Din dalam Seminar Festival Perubahan Iklim 2016, di Jakarta, Kamis (4/2).

Khotbah akan dijadikan alat sosialisasi agar umat tak merusak alam dan ciptaan Tuhan. Rumah ibadah tak hanya tempat berdoa, tetapi juga merawat lingkungan, mulai dari perilaku individu.

"Khotbah Jumat masih jarang tema lingkungan. Masih ada yang salah tentang paradigma efek rumah kaca. Kami akan beraksi konkret lewat sosialisasi di rumah ibadat," ujar Din.

Meskipun konsep sempurna rumah ibadah ramah lingkungan belum ada, para pemimpin umat menunjukkan gerakan menuju Siaga Bumi sebagai bentuk pengendalian perubahan iklim.

Ketua Wali Umat Buddha Indonesia (Walubi) Soedjito Kusumo Kartiko mengatakan, peresmian eco-vihara di Ciapus, Bogor, akhir 2015, dibarengi aksi tidak buang sampah sembarangan hingga daur ulang. "Gerakan konkret ini bentuk kebijaksanaan pada alam," katanya.

Umat Katolik melengkapi gereja dengan menanam dan memelihara pohon serta memilah sampah. Buku panduan lingkungan hidup dan pelibatan aktivis dimaksimalkan seksi lingkungan hidup. Gereja Sahabat Alam yang terbentuk sejak 2010 bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup mengadopsi prinsip 3R (reuse, reduce, recycle) untuk program penghematan dan berkelanjutan.

"Ini pertobatan ekologis untuk memahami lingkungan hidup dengan mengubah perilaku. Harus konsisten," kata Romo Siswantoko, Sekretaris Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sang Nyoman Suwisma mengatakan, gerakan rumah ibadah hijau dilakukan dengan penanaman pohon saat hari raya Nyepi, 9 Maret 2016. "Ini sesuai kitab Weda untuk menanam, memelihara, dan melindungi pohon," ujarnya.

Adapun Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) Uung Sendana L Linggaraja mengatakan, peresmian rumah ibadat ramah lingkungan di kelenteng, litang, dan kongmiao dilaksanakan berbarengan tahun baru Imlek.

Pantauan di beberapa rumah ibadah, Gereja Paroki Santa Theresia dan Gereja Santo Yoseph, misalnya, telah menerapkan gereja hijau. "Umat cukup antusias terlibat dalam kegiatan lingkungan. Kami memulai dari gereja karena ada interaksi antarmanusia dan tempat ibadah yang lebih personal," tutur Kepala Seksi Bagian Rumah Tangga Gereja Theresia Jakarta Yustinus.

Sumber : Koran Kompas, 5 Februari 2016