
(Tokoh lintas agama melakukan deklarasi bersama dalam Apel Kebhinnekaan Lintas Iman Bela Negara di Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (17/1). Dalam deklarasi itu mereka menyatakan menolak radikalisme, terorisme, dan penyalahgunaan narkoba. Mereka adalah, dari kiri ke kanan, Yanto Jaya (Parisada Hindu Dharma Indonesia), Uung Sendana (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia), Henriette T Hutabarat-Lebang (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), Yohanes Harun Yuwono (Konferensi Wali Gereja Indonesia), Said Aqil Siroj (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama/PBNU), Suhadi Sendjaja (Perwakilan Umat Buddha Indonesia), dan Helmy Faishal Zaini (PBNU))
Jakarta - Sejumlah terpidana terorisme justru semakin radikal setelah menjalani masa pidana di lembaga pemasyarakatan. Karena itu, narapidana kasus terorisme mesti ditangani secara lebih serius agar mereka tidak mempertahankan atau malah memperkuat paham radikal yang mereka anut.
Manajemen lembaga pemasyarakatan yang tidak tepat diduga menjadi salah satu penyebab kondisi ini. Sejumlah aksi teror di Tanah Air belakangan ini didugadilakukan bekas narapidana (napi) kasus terorisme. ”Banyak contoh betapa lembaga pemasyarakatan bisa membuat orang semakin radikal,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Saud Usman Nasution di Jakarta, Sabtu (16/1).
Kondisi LP yang masih menggabungkan semua jenis tindak pidana menjadi salah satu penyebab para terpidana terorisme semakin radikal ketika telah menyelesaikan masa hukuman.
Hal senada disampaikan Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian saat memberikan kuliah umum yang diselenggarakan Kedutaan Besar Jerman pada November lalu. Menurut Tito, manajemen LP menjadi salah satu kelemahan penanganan teroris di Indonesia. ”Beberapa narapidana terorisme bahkan semakin kuat ketika bertemu sesama teroris,” ujarnya.
Terkait dengan hal itu, BNPT tengah membangun pusat deradikalisasi di Sentul, Jawa Barat. ”Tempat itu akan dikhususkan untuk para narapidana yang sudah kooperatif agar mereka tidak terganggu lagi oleh terpidana yang masih radikal,” ujar Saud. Berdasarkan data BNPT, dari total 215 narapidana terorisme di Indonesia saat ini, terdapat 25 orang yang berpola pikir radikalnya keras.
Kepala Divisi Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Akbar Hadi Prabowo mengakui ada sejumlah narapidana yang tidak dapat diubah pandangannya ketika berada di LP. Mereka tergolong napi-napi yang berpaham radikal.
Namun, Akbar juga mengingatkan, banyak pula napi perkara terorisme yang berhasil menjalani program deradikalisasi. ”Jumlahnya ratusan. Mereka tergolong follower (pengikut). Artinya, kemungkinan kembali ke masyarakat ada,” kata Akbar.
Apel bela negara
Minggu (17/1), belasan ribu anggota komunitas lintas agama dan keyakinan mengikuti Apel Kebhinnekaan Lintas Iman Bela Negara di Lapangan Banteng, Jakarta. Mereka berkomitmen menjaga kebersamaan bangsa dan membendung radikalisme, terorisme, dan penyalahgunaan narkoba. Sejak pukul 12.00, peserta Apel Bela Negara berdatangan ke Lapangan Banteng. Teror bom di kawasan bisnis Thamrin, Jakarta, pekan lalu, tak menyurutkan nyali masyarakat untuk berkumpul. Aparat keamanan berjaga dalam jumlah wajar.
Tampak hadir sejumlah menteri dan tokoh masyarakat, seperti Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj, Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia Yohanes Harun Yuwono, dan Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Henriette T Hutabarat-Lebang. Hadir pula Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Hasto Kristiyanto, Kepala Polda Metro Jaya Tito Karnavian, dan beberapa pemuka agama lain. Acara dimulai dengan upacara bendera dengan inspektur upacara Menteri Pertahanan.
Dalam upacara, Ryamizard mengingatkan, perang ke depan tidak menggunakan alat utama sistem persenjataan, tetapi perang cuci otak dengan memengaruhi pikiran rakyat untuk membelokkan pemahaman terhadap ideologi negara. Untuk mengantisipasinya, pemahaman dan penghayatan wawasan kebangsaan perlu diperkuat dengan menjadikan Pancasila sebagai falsafah berbangsa dan bernegara. ”Takdir bangsa Indonesia adalah beragam suku, agama, budaya, dan bahasa serta berideologikan Pancasila. Ini harus diakui sebagai karunia Tuhan,” tambahnya.
Ketua Panitia Apel Kebhinnekaan Lintas Iman Bela Negara Marsudi Syuhud menekankan bahwa bangsa Indonesia dibangun untuk hidup bersama. Pihak-pihak yang memecah belah harus dilawan.
Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj menjelaskan, apel kebinekaan ini penting untuk menyikapi semakin menguatnya ancaman radikalisme, terorisme, dan narkoba.
Menurut Lukman Hakim Saifuddin, perlu ada komitmen kuat dari semua elemen bangsa, terutama tokoh agama, untuk menangkal ideologi sesat. Setiap keluarga juga harus menangkal paham dan ideologi sesat.
Korban bom dimakamkan
Terkait ledakan bom di Sarinah, Jakarta, pekan lalu, jenazah salah satu korban, Rico Hermawan (20), dimakamkan di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Minggu.
Hingga kini, ucapan bela sungkawa terhadap korban bom Sarinah masih mengalir. Raja Jordania Abdullah II bin al-Hussein mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo berisi ucapan rasa dukacita mendalam kepada Presiden dan seluruh rakyat Indonesia. Raja Abdullah mengecam serangan teror itu dan menegaskan bahwa Jordania berdiri bersama dengan Indonesia untuk memerangi aksi teroris.
Sumber: kompas.com